BKSAP DPR dan Kedutaan Azerbaijan Putar Film Lorong Tak Berujung

JUMAT 17 FEBRUARI 2017

JAKARTA—Badan Kerja sama Antar Parlemen (BKSAP DPR RI) bersama Kedutaan Azerbaijan memperingati “25 Tahun Genosida Khojaly”. Agresi Republik Armenia terhadap  Republik Azerbaijan dengan cara pemutaran film Dokumenter Nagorno- Karabakh Lorong Tak Berujung di Operation Room Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Jumat, (17/2/2017).
Suasana tempat putar film di Operation Room Gedung Nusantara III.

Sebelum pemutaran film dimulai, Ketua Grup Kerjasama Bilateral (GKSB), Meutia Hafid menjelaskan, Film Dokumenter tersebut merupakan kisah tragedi HAM menyayat hati yang terjadi pada  1992, ketika ratusan warga Azerbaijan dibantai setelah Armenia menyerbu Kota Khojaly. Hal itu terjadi pada 25 tahun yang lalu.
Lorong Tak berujung bertutur tentang perjalanan dua wartawan berkebangsaan Lithuania Yakni Richard Lapaitis dan Victoria Ivleva kembali ke Azerbaijan 20 tahun setelah meliput pembantaian Khojaly’ yang mengerikan selama Perang Nagorno-Karabakh.
“Mereka (wartawan) melakukan perjalanan untuk menemukan korban yang pertama kali mereka temui, setelah serangan Armenia,” ungkap Meutia.
Tragedi Khojaly, kata dia, bercerita tentang bagaimana orang orang sinis yang tidak manusiawi memutuskan nasib orang lain. Namun melalui cerita menyayat hati, mereka yang selamat, akan mengingat kembali pelarian pemboman Armenia. Tragedi itu menyebabkan banyak Kehilangan orang yang dicintai sepanjang lorong tak berujung untuk mencari keselamatan.
Dikatakan, THE Global Film Award sangat berkomitmen untuk mempromosikan film yang memiliki dampak pada perubahan dunia. Setiap kompetisi film menganugerahkan penghargaan kemanusiaan tahunan kepada pembuat film berbakat untuk proyek luar biasa yang membahas isu isu keadilan sosial, kesejahteraan hewan, politik, lingkungan, kesehatan.
Lorong Tak Berujung telah dikirimkan untuk lebih dari 60 festival film di seluruh Dunia. Film ini ditampilkan di Istambul, Ankara, Roma, London, Paris, Dublin, Berlin dan ibukota ibukota besar lainnya. Film ini menemukan kebenaran tersembunyi dibalik pembantaian yang harus menjadi pelajaran yang menyakitkan kepada 613 korban yang ditinggalkan dalam tragedi tersebut.
Jurnalis: Adista Pattisahusiwa/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Adista Pattisahusiwa

Komentar