Bohri Rahman, Pegang Teguh Independensi Media

160

KAMIS, 9 FEBRUARI 2017

MATARAM — Perkembangan dan kemajuan industri media belakangan demikian pesat, terutama media televisi dan elektronik banyak bermunculan, berlomba dan bersaing. Menarik perhatian masyarakat pembaca dengan mengetengahkan pemberitaan cepat dan ter-up to date. Dari sisi kemampuan dan kreativitas, industri media sekarang ini juga jauh lebih kreatif, canggih dan cepat menyuguhkan pemberitaan tentang suatu peristiwa kepada pembaca.

H. Bohri Rahman, mantan wartawan RRI.

“Tapi dari sisi konten dan kedalaman, isi berita yang disuguhkan sebagian media sekarang ini, tentang suatu peristiwa atau kejadian, masih jauh dari harapan. Kebanyakan sebatas mengulas sisi permukaan,” kata mantan dan wartawan senior Radio Republik Indonesia (RRI), H. Bohri Rahman (68), saat ditemui Cendana News di Mataram, Kamis (9/2/2017).

Selain itu dari sisi konten pemberitaan, menurut H. Bohri Rahman, sebagian media terutama media televisi dan media elektronik yang dikuasi pemodal besar dan pimpinan partai politik (Parpol), termasuk media cetak di daerah, juga cenderung tidak independen, netral, dan obyektif dalam menyampakan suatu pemberitaan. Beberapa pemilik media nasional misalnya jadi pimpinan Parpol sehingga secara langsung akan mempengaruhi netralitas dari pemberitaan media tersebut. Sesuai kepentingan pemilik media selaku pemodal, afiliasinya ke mana, nuansa politisnya lebih kental.

“Kalau sebagian media sudah tunduk pada pemilik modal termasuk kekuasaan, maka independensi pemberitaan jelas jadi taruhan dan akan mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat,” jelas Bohri.

Bohri juga mengkritisi pemberitaan sebagian media yang dalam hal akurasi data pemberitaan disampaikan dangkal, hanya mengutip dari status yang dibuat seseorang di media sosial baik Twitter, Facebook, dan rilis.

Sambil bernostalgia dan mengenang masa muda saat sedang bersemangat menjadi reporter radio, termasuk ketika menjabat sebagai Kepala RRI, pria tersebut mengaku, meski bekerja di media milik pemerintah ia tidak mau menjadikan RRI sebagai corong pemerintah. Kalau memang ada kekurangan dari pemerintah, RRI di bawah kepemimpinannya masa itu juga tidak segan mengkritik. Baginya RRI adalah milik publik, sehingga berita disampaikan juga menyangkut kepentingan publik.

“Berita disajikan juga tidak sekadar pemberitaan sisi permukaan, tapi melalui proses liputan mendalam dan terkadang melakukan investigatif sehingga ketika berita diturunkan selain bisa dipertanggungjawabkan, masyarakat selaku pembaca juga bisa tercerahkan,” lanjutnya.

Bohri Rahman sendiri berkarir di RRI selama 40 tahun. Sejak 1970 sebagai reporter, penyiar, redaktur, dan Kepala RRI. Sejak 1997 sampai 2009 di Jayapura Papua, lalu pernah juga ditempatkan di Sumenep, Makassar, dan Bandung.

Jurnalis: Turmuzi / Editor: Satmoko / Foto: Turmuzi

Baca Juga
Lihat juga...