Budi Lestari, Kader Damandiri yang Jujur dan Cinta Indonesia

MINGGU, 12 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Budi Lestari, begitu nama lengkap Perempuan asal Wonogiri yang karib disapa Ajeng ini. Luwes dan gesit di lapangan, begitulah yang terbaca dari gerak-gerik dan bahasa tubuhnya. Dia adalah Bendahara Posdaya Bacang RW02 Srengseng Sawah binaan Yayasan Damandiri merangkap Kasir Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja).

Budi Lestari, akrab disapa Ajeng

Sejak 1990 sampai 1995, Ajeng bekerja sebagai staf administrasi gudang sebuah Department Store ternama di Jakarta. Keahlian dan kejujurannya dalam menjaga kualitas dan kuantitas barang selama masih bekerja sebagai staf administrasi gudang menjadi acuan dalam menjalankan roda kegiatan Posdaya Bacang, terutama sebagai bendahara. Menurut Ajeng, menata keuangan Posdaya dengan mengelola barang dagangan sebuah perusahaan sebenarnya sama saja, karena sama-sama mengedepankan kejujuran sebagai landasan kuat.

Masuk ke Srengseng Sawah RT10, RW02 pada 1990, membawa Ajeng berkenalan dengan Tuty Rohati, Isteri Ketua RW dan sekarang adalah Ketua Posdaya Bacang. Ia dan Tuty memiliki kesamaan cara pandang bahwa perempuan harus berdaya guna bagi keluarga dalam konteks membantu usaha suami mencari nafkah. Dengan kesamaan tersebut, aktivitas serta hubungan baik keduanya di kegiatan PKK terus terpelihara sampai masuknya Yayasan Damandiri ke Srengseng Sawah pada 2014.

Saat Posdaya Bacang terbentuk pada 2014, Ajeng duduk sebagai Bendahara, serta dipercaya Ketua Posdaya dan  manajemen Tabur Puja Yayasan Damandiri sebagai Kasir Tabur Puja. “ Dalam konteks sebagai kasir Tabur Puja, saya menempatkan kejujuran di atas segalanya. Kepercayaan itu harus dijawab dengan itikad baik, dan itikad baik itulah refleksi kejujuran yang saya bicarakan tadi,” tutur Ajeng.

Dalam mengelola keuangan Tabur Puja dan Posdaya selama ini, hal yang paling dihindari oleh Ajeng adalah tunggakan cicilan anggota. Sedapat mungkin ia akan berkoordinasi dengan para Penanggung Jawab (PJ) kelompok tanggung renteng jika ada indikasi terjadinya penunggakan cicilan. Menurut Ajeng, usahanya tersebut berimbas pada angka NPL atau Non Performing Loan ke depannya. Tidak mengherankan jika NPL Posdaya Bacang cukup rendah, yakni hanya 0,2 persen.

“ Semua kegiatan bagi saya menyenangkan, karena bertemu banyak rekan maupun teman baru. Tapi jika sudah berhadapan dengan ancaman keterlambatan cicilan anggota Tabur Puja, saya benar-benar tidak tenang dan akan mencari cara terbaik menghindari terjadinya tunggakan tersebut, yakni menggunakan dana tanggung renteng atau menutupinya dengan dana kas pengurus Posdaya setelah terlebih dahulu diskusi dengan rekan pengurus. Ini saja satu-satunya duka saya selama menjadi pengurus Posdaya Bacang, selebihnya adalah kegembiraan,” lanjut perempuan asal Desa Guwotirto, Kecamatan Giriwoyo ini.

Setiap Senin, seminggu sekali, ia meluangkan waktu untuk Hari Kas Tabur Puja Posdaya Bacang. Selain itu, ia juga diserahi tanggung jawab sebagai administrasi dalam kegiatan pemberdayaan aspek kesehatan Yayasan Damandiri Posbindu PTM (Penyakit Tidak Menular) Bacang yang diketuai sesama rekan pengurus inti Posdaya Bacang, Rumiyanti.

Tiga kali dalam seminggu, Ajeng harus menempati pos sebagai petugas Posbindu. Padatnya kegiatan Posdaya baik Hari Kas Tabur Puja maupun Posbindu PTM, bisa dijalaninya dengan tenang karena mendapat dukungan penuh dari anak serta suaminya di rumah.

Selama menjadi pengurus Posdaya Bacang, selain mengontrol keuangan dan cicilan para anggota Tabur Puja demi menjaga NPL, Ajeng juga terhitung berhasil menjalankan tugasnya sebagai administrasi Posbindu PTM Bacang. Di tangan Ajeng, semua data keanggotaan warga yang sering memeriksakan kesehatan di Posbindu bisa tertata dengan baik. Selain itu, cash flow keuangan Posbindu PTM Bacang juga terpantau lancar, hingga bisa menabung untuk membeli kelengkapan peralatan pendukung yang diperlukan.

Budi Lestari (ketiga dari kiri) dalam kegiatan Posbindu PTM Bacang

Selain dikenal jujur dalam bekerja atau berkegiatan, ada satu sisi menarik Ajeng yang ternyata menjadi inspirasinya selama menjadi pengurus Posdaya Bacang. Dia lahir tepat pada 17 Agustus 1972, sehingga perayaan hari kelahirannya berbarengan dengan perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Kenyataan ini meninggalkan kesan mendalam bagi Ajeng sekaligus suntikan moral untuk terus memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

“ Kegiatan Yayasan Damandiri adalah untuk memberdayakan masyarakat. Lalu hari ulang tahun saya bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI, jadi pada tanggal tersebut secara bersamaan saya selalu mendapat inspirasi dan tambahan semangat untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat. Bersama Yayasan Damandiri, lewat Posdaya Bacang, saya bisa memberdayakan warga Srengseng Sawah untuk menjadi lebih baik lagi. Hal ini saya lakukan sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat serta kecintaan saya kepada Indonesia,” pungkas perempuan gemar travelling ini mengakhiri perbincangan dengan Cendana News.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Komentar