Cap Go Meh di Semarang, Suarakan Pesan Kebhinekaan

146

SENIN, 20 FEBRUARI 2017

SEMARANG — Gemerincing tongkat di tangan kanannya mengiringi perjalanan mencari kitab suci ke barat bersama ketiga muridnya. Dengan memakai Mahkota Raja Jawa, Biksu Tong berjalan paling depan. Pengunjung bersorak sorai ketika Sun Go Kong tiba-tiba muncul memakai Blankon lengkap dengan baju luriknya.

Pementasan Teatrikal Sang Prajaka di acara Peringatan Cap Go Meh

Adegan tersebut merupakan bagian dari pementasan teatrikal Sang Prajaka atau Serat Pangruwating Bapa Kista yang tenar di majalah Jayabaya pada tahun 1990-an. Kisahnya sendiri merupakan adaptasi legenda Cina yang diadaptasi menjadi budaya Jawa, maka tak mengherankan jika pakaian yang dipakai mereka adalah pakaian adat tradisional Jawa. Pementasan sang Prajaka merupakan salah-satu rangkaian acara perayaan Cap Go Meh dengan tema ‘Pelangi Budaya Merajut Nusantara’, yang diselenggarakan di halaman Balai Kota Semarang, Minggu (19/02/2017). Kesuksesan acara tersebut juga semakin menguatkan identitas Semarang sebagai Kota Multi Etnis.

Dalam sambutannya, Walikota Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menegaskan, bahwa perbedaan yang ada seharusnya bias menjadi kekuatan bangsa, karena sejarah proklamasi bangsa Indonesia yang dideklarasikan oleh Soekarno dan Hatta bukan hanya ditujukan untuk golongan tertentu, tetapi untuk seluruh bangsa Indonesia.

Lebih lanjut, pihaknya mengatakan, semangat kebersamaan harus dilandasi oleh azas Bhineka Tunggal Ika, yang pada hakekatnya walaupun seluruh bangsa berbeda-beda, tetapi semuanya harus menjunjung persatuan dan kesatuan. “Kalau dari luar san aada yang belum sepakat, maka tugas Pemkot mengajak diskusi,” terangnya.

Walikota dan seluruh jajaran Forkompimda menikmati sajian lontong Cap Go Meh

Sementara itu, Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Tengah, Iskandar, mengajak seluruh pengunjung yang hadir untuk melihat kembali sejarah, bahwa politik adu domba Belanda telah berhasil memecah-belah persatuan Islam denganTionghoa. Padahal, ketika di Batavia, kedua golongan tersebut berhasil menghimpun kekuatan ekonomi yang besar untuk menyaingi penjajah.
“Akhirnya, Belanda memisahkan perdagangan Tionghoa dengan membangun Pecinan, dan Islam diberi kawasan Kauman,” terang Iskandar.

Dirinya juga tidak tahu, sejak kapan ada anggapan, bahwa kaumTionghoa ingin menguasai perekonomian Indonesia, karena pada dasarnya mereka hanya ingin bersama-sama membangun bangsa. Karena saat ini ada 3 problem yang mendera masyarakat. Pertama, adalah golongan Nothing Doing Society, yaitu tipe golongan yang tidak melakukan apa-apa. Kedua, Watching Doing Society, golongan yang kegiatannya hanya menonton saja. Sementara yang ketiga, Doing Society, Golongan yang ingin melakukan sesuatu.

Warga Semarang sangat antusias menyambut perayaan Cap Go Meh yang baru pertama kali diadakan tersebut. Rangkaian acara dengan melibatkan seluruh umat beragama yang ada di Kota Semarang berlangsung cair, selain diisi oleh pementasan teatrikal dan barongsai, acara tersebut juga dimeriahkan dengan pemecahan rekor MURI bersama-sama memakan lontong Cap Go Meh terbanyak. Total 11.760 porsi dibagikan kepada masyarakat secara cuma-cuma. Jumlah tersebut berhasil menumbangkan rekor sebelumnya di Kabupaten Berau dengan jumlah 11.000 porsi.

Ketua PITI Jawa Tengah, Iskandar, saat memberikan sambutan

Ketua Persatuan Marga Tionghoa Indonesia, Dewi Susilo Budiharjo berharap, acara peringatan Cap Go Meh bias diadakan setiap tahunnya di Semarang, sehingga suara tentang Kebhinekaan akan selalu terdengar sampai kapan pun. “Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelenggaraan acara ini, saya berharap kita bias berjumpa lagi tahun depan,” kata Dewi.

Selain Walikota Kota Semarang dan Ketua PITI Jateng, tampak hadir pula Duta Besar RI untuk Rusia, Wahid Supriyadi, Ketua MUI Jateng, KH. Ahmad Darodji, Ketua MAJT, KH. Noor Achmad, Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi, Bhante Dhammasubho Mahathera dari Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia, dan Ketua Komisi Hubungan Antar-Umat Beragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Romo Aloysius Budi Purnomo.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Muhammad Noli Hendra

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.