banner lebaran

Dahlan Abu Bakar (2): Sulit Menemukan Media Yang Netral

108
JUMAT 10 FEBRUARI 2017
MAKASSAR—-Pers nasional saat ini mengikuti kondisi sebuah negara.  Era kebebasan yang dinikmati tahun 98 juga telah mengubah kondisi pers saat itu menjadi sangat terbuka dan bebas. “Saya juga kebetulan hidup di masa orde baru di era reformasi sehingga saya dapat membedakan secara jelas  bagaimana perwujudan kehidupan pers di dua era yang sangat betollak belakang,” kata staf pengajar Universitas Hasanudin Makasaar, Muhamad Dahlan Abubakar.
M.Dahlan Abubakar.
Perubahan lain yang netral menurut  wartawan senior Pedoman Rakyat ini ialah wartawan sekarang dikendalikan pemilik modal dan tidak lagi gentar kepada pemerintah. Justru pada era kebebasan pers ini wartawan lebih banyak tantangannya.   Nurul Rahmatun Ummah dari  Cendana News pada Jumat 10 Februari 2017 lalu mewawancarai pria kelahiran  Bima 12 Januari 1952 ini.  Berikut petikannya:
Bagaimana Anda melihat bahwa sebagian  media mainstream saat ini sepertinya tidak bisa dilepaskan dari kepentingan pemilik modal?
Memang sekarang  ini wartawan tidak takut lagi sama pemerintah. Wartawan  lebih takut kepada para kapital pemilik modal. Wartawan itu dikendalikan oleh pemilik modalnya. Oleh karena itu sekarang sulit sekali melihat wartawan yang bisa mengembangkan idealismenya berdasarkan kondisi yang sedang berkembang. Jadi wartawan itu tidak bisa menulis berita yang berlawanan dengan pemegang modal.
Boleh nggak wartawan itu berpolitik? 
Wartawan harus independen meskipun independensi masih abu-abu. Boleh berpolitik dalam kaitan pilihan.Tetapi dalam produk jurnalisme dia tidak boleh memihak. Wartawan harus netral. Meskipun netralitas itu sulit dibedakan. Netralitas ditemukan dalam media massa itu hampir tidak ada.  Selalu kita temukan ada indikasi media itu berpihak apalagi jika di analisis dari segi kebahasaan dan pilihan kata bisa menujukkan media itu berpihak atau tidak. Klausa apalagi kalimat cara pemilihan narasumber. Seperti disertasi  yang saat ini sedang saya teliti. 
Bagaimana pandangan soal verifikasi media yang dilakukan Dewan Pers, apakah benar-benar dijamin obyektifitasnya? Atau jangan-jangan upaya terselubung untuk mengakangi kekebebasan pers
Kita bisa menilai semua serba mungkin itu dinilai mengekang pers mungkin bagi mereka yang tidak bisaengikuti kaidah aturan yang ditetapkan itu bisa saja terjadi. Tapi saya kira melakukan verifikasi ini merupakan upaya menertibkan media cetak sedangkan yang bermasalah itu media Online.
Bukankah integritas media ditentukan oleh kebijakan media dan tulisan wartawan itu sendiri. Bukannya oleh verifikasi?
Media itu tumbuh sesuai dengan kondisi sosial politik di mana media itu berada. Verifikasi dulu di zaman kolonial itu lebih kea rah pengekangan karena dinilai sebagai sarana perjuaanga. .Verifikasi itu hanya menertibkan saja jangan sampai ada media pers abal-abal dulu di setiap lorong bisa menerbiltkan koran, serta yang jadi wartawan itu tukang becak. Dia bicara sana sini terus diberikan kartu pers. Jadi verifikasi ini (harusnya) bertujuan untuk penertiban media massa agar dapat berjalan di jalurnya.
Bagaimana saran Anda menjaga integritas  media dan wartawan?
Integritas Wartawan itu sesuatu hal yang sangat pribadi.  Sekarang ini juga saya tidak tahu apakah wartawan bisa bertahan dalam  kondisi yang serba konsumtif. Wartawan sebenarnya tidak boleh menerima amplop.  Tapi dia bilang tidak ada yang menerima amplop tapi lewat rekening. Perilaku menerima amplop itu dari  sana (narasumber)  sebagai ucapan terimakasih karena telah mau meliput. Tapi jika dari transparasi ini merupakan suap.
Bagaimana Anda melihat fenomena blogger. Di satu sisi mereka bukan jurnalis. Tetapi ada juga blogger yang berlatar belakang jurnalis bahkan ada yang bukan tetapi reportasenya memenuhi kaidah kode etik pers dan akurat?  Apakah blogger bisa menjadi alternatif?
Bloger bisa menjadi alternatif sepanjang dia bermain dalam tataran kaidah jurnalisme harus melagkukan kode etik, konfirmasi, harus menulis secara akurat dan tidak menyinggung pihak lain sehingga harus ada liputan ke dua sisi. Kemudian kalau tulisan blog harus memenuhi unsur berita kemudian juga harus memenuhi nilai berita. Tidak jadi masalah jika blogger menulis sepanjang dia masih taat pada azas jurnalistik.

Kira-kira tren media ke depan seperti apa baik cetak maupun elektronik?
Tren media yang akan merajai media online.
Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.