Damandiri Manfaatkan Bayam Liar Jadi Produk Pangan Lokal

JUMAT, 10 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Selesai dengan pengembangan tanaman insulin, ternyata muncul inspirasi tak terduga lagi, yakni tumbuhnya bayam kebo (bayam liar) setiap musim hujan di Kebun Bergizi milik Posdaya Bougenville Rawa Simprug RW 09, Grogol Selatan. Bayam kebo itu pun lalu juga dimanfaatkan sebagai komoditi pangan lokal, rempeyek atau keripik bayam. 

Bayam kebo yang tumbuh liar di Kebun Bergizi Posdaya Bougenville

Pengurus Posdaya langsung paham cara memaksimalkan kehadiran bayam kebo di Kebun Bergizi, yaitu dengan meminta warga mengkonsumsi bayam setiap hari. Cara mendapatkan bayam bukan dengan membeli di pasar, tetapi langsung mengambil bayam kebo yang tumbuh liar di Kebun Bergizi. Akhirnya, masyarakat banyak memanfaatkan bayam kebo tersebut sebagai bahan pangan. Kebanyakan dari mereka mengolah bayam kebo menjadi tumis bayam, sayur santan atau dijadikan varian untuk membuat sayur lodeh.

Namun, satu hal yang luput dari warga adalah memaksimalkan bayam kebo tidak sebatas menjadi bahan pangan sehari-hari saja, tetapi membawa pemasukan untuk gerak roda ekonomi keluarga. Posdaya melihat hal ini, dan sudah 1 bulan ini mencoba melakukan edukasi perorangan kepada warga yang dinilai mempunyai potensi sebagai pembuat cemilan ringan Rempeyek Bayam.

“Jauh sebelumnya, masyarakat Rawa Simprug kerap membuat rempeyek bayam untuk konsumsi cemilan keluarga dan acara-acara tertentu. Tapi, mereka mendapatkan bayam sebagai bahan baku dengan cara membelinya di pasar. Melalui kehadiran bayam kebo di musim penghujan, kami melihat potensi penghematan,” terang Katni, bagian pembibitan Kebun Bergizi Posdaya Bougenville.

Untuk membuat sepuluh kilogram rempeyek bayam, membutuhkan 20 ikat bayam. Harga 1 ikat bayam sekarang Rp. 3-5.000, jika dipukul rata harga Rp. 3.000 per satu ikatnya, berarti harus mengeluarkan modal Rp. 60.000 untuk membeli 10 ikat bayam guna menghasilkan 10 kilogram kemasan rempeyek bayam. Bayangkan, penghematan yang dilakukan jika mampu memaksimalkan kehadiran bayam kebo di Kebun Bergizi.

Setiap acara pertemuan pengurus Posdaya baik pengurus inti Tabur Puja maupun Penanggung Jawab (PJ) Kelompok Tanggung Renteng, mulai digalakkan cemilan rempeyek bayam sebagai suguhan untuk tetamu dengan bayam kebo sebagai salah-satu bahan bakunya. Awalnya, pengurus menggunakan dana Kas Posdaya untuk membeli bahan baku rempeyek seperti tepung terigu, ikan teri, telur, hingga bawang putih dan bawang merah. Untuk bayam, mereka mengambil bayam kebo dari Kebun Bergizi secara gratis.

Ke depan, dari sekedar hidangan internal pertemuan kelompok, pengurus menginstruksikan kepada seluruh kader, agar melakukan edukasi kepada warga maupun anggota kelompok, agar cemilan rempeyek bayam diperjual-belikan demi memberi penghasilan tambahan kepada masing-masing keluarga di RW 09, Rawa Simprug. “Kami yang mengawali, warga yang melanjutkan,” ujar Intan Nuraini, Ketua Posdaya Bougenville.

Di luar musim penghujan, ternyata bayam kebo tidak terlalu banyak tumbuh. Hal ini sudah dipahami pengurus Posdaya, sehingga langsung diupayakan solusi bersama pengelola Kebun Bergizi. Mereka mulai mempersiapkan bibit bayam kebo, sehingga ke depan tidak mengharapkan bayam tersebut tumbuh dengan sendirinya di musim hujan. Dengan menjadikan tanaman bayam kebo dari sebatas bayam liar menjadi tanaman budi-daya berkelanjutan, diharapkan membawa berkah di kemudian hari.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Komentar