Damandiri Perkuat Kebun Bergizi sebagai Sumber Pangan Megapolitan

351

JUMAT, 10 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Pemukiman padat penduduk dengan jalur lalu-lintas ramai, begitulah kondisi Rawa Simprug. Mulai dari jalan raya hingga lorong sempit yang menghubungkan masing-masing wilayah RT maupun RW, sudah rapat dengan hunian warga setempat. Banyak penduduknya, berarti ‘lahan basah’ bagi para pedagang keliling maupun yang menetap sewa tempat di sana. Namun begitu, muncul pertanyaan, bagaimana daya beli masyarakat Rawa Simprug yang sebenarnya? 

Tanaman pangan di Kebun Bergizi Rawa Simprug

Mengukur daya beli bisa dilakukan dengan indikator pergerakan roda ekonomi warga setempat, dan gerak laju dapat terjadi jika ekonomi masing-masing keluarga juga bergerak dengan semestinya dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Untuk ukuran strata masyarakat menengah ke bawah, daya beli masyarakat Rawa Simprug pada umumnya memang masih sebatas untuk memenuhi standar tiga kebutuhan pokok, yakni sandang, pangan dan papan. Dan, yang paling besar di antara ketiganya adalah pangan.

Posdaya Bougenville Rawa Simprug RW 09, binaan Yayasan Damandiri, mencoba untuk lebih mengembangkan konsep pemenuhan pangan warga secara mandiri, melalui keberadaan Kebun Bergizi. “Seberapapun ukuran daya beli masyarakat, tetap harus diberdayakan kemandiriannya dalam pemenuhan pangan secara mandiri. Terutama untuk kalangan menengah ke bawah, biasanya pangan adalah masalah krusial yang harus menjadi titik perhatian. Kami dari Posdaya berusaha untuk memberdayakan hal itu,” sebut Ketua Posdaya Bougenville, Intan Nuraini.

Memulai Kebun Bergizi tidaklah mudah. Harus ada lahan yang bisa digunakan. Kebetulan Ketua Posdaya Bougenville, Intan Nuraini, merangkap sebagai Sekretaris RW 09. Dengan demikian, negosiasi izin penggunaan lahan untuk Kebun Bergizi cukup kondusif. Ketua RW 09 beserta warga mendukung keberadaan Kebun Bergizi. Dua warga RW 09 merelakan lahan kosong mereka untuk diberdayakan sebagai Kebun Bergizi. Satu lahan berada di depan Kantor RW 09, satu lagi berada di dalam rumah warga di RT 07, RW 09.

Untuk biaya operasional Kebun Bergizi, Posdaya Bougenville menggunakan uang kas Posdaya ditambah swadaya anggota. Mulai dari biaya perawatan, pembuatan pupuk kompos hingga pembelian media tanam, semua coba diadakan Posdaya bersinergi dengan warga. Namun, untuk pengadaan bibit tanaman, Posdaya masih menerima bibit dari KPKP, Dinas Pertanian dan Pertamanan Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama,  hingga Kodya Jakarta Selatan. Bahkan, di awal Februari 2017, pengurus Posdaya sudah dikirim ke Dinas Pertanian Kodya Jakarta Selatan untuk menerima pelatihan budi-daya jahe merah.

Bibit daun Dollar sebagai tanaman hias.

Selain menerima bantuan bibit, Posdaya juga mencoba mengembang-biakkan tumbuhan melalui stek cutting (stuk), yakni cara memperbanyak tanaman secara vegetatif buatan menggunakan sebagian batang atau akar tanaman untuk menjadi tanaman baru. Beberapa tanaman yang sudah mulai dikembang-biakkan dengan sistem stek, antara lain singkong, bunga kamboja dan insulin.

“Kami sudah menerapkan sistem stek untuk mendapatkan bibit dari tanaman tertentu. Cara itu ditempuh agar ke depannya tidak bergantung kepada siapapun. Jadi, Kebun Bergizi yang bertujuan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri, benar-benar berdiri di atas kaki sendiri, hingga urusan penyediaan bibit tanaman,” jelas Katni, kader Posdaya Bougenville yang merawat Kebun Bergizi.

Sejak 2014, Pengurus Posdaya bersama seluruh warga RW 09 sudah menanami Kebun Bergizi dengan berbagai jenis tanaman pangan seperti kangkung, bayam, pisang raja, pisang kepok, pepaya, singkong, ubi jalar dan lain sebagainya. Kemudian seiring dengan perjalanan serta perkembangan Kebun Bergizi, ditambah pula dengan tanaman obat atau disebut tanaman toga. Tanaman toga di dalam Kebun Bergizi antara lain, jahe merah yang berguna untuk mengatasi rematik dan batuk, pohon saga yang daunnya untuk obat sariawan, daun andong untuk memperlancar air seni, daun insulin untuk diabetes, hingga daun katuk untuk menangani asam urat sekaligus memperlancar ASI bagi ibu menyusui.

Warga diberi kebebasan menggunakan seluruh hasil Kebun Bergizi. Dari tanaman obat hingga untuk konsumsi, bisa digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari, tanpa batasan atau biaya apapun. “Saya dan warga sering mengambil bayam kebo atau bayam liar yang sengaja kami tanam bibitnya sejak awal untuk diolah menjadi tumis bayam. Ada pula warga yang mengambil pisang raja untuk dibuat kolak dan pisang kepok untuk digoreng,” sambung Katni, lagi.

Kehadiran Kebun Bergizi di tengah kota, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan darurat masyarakat setempat. Tanpa terpengaruh keadaan daya beli keluarga, masyarakat bisa memberdayakan Kebun Bergizi. Jika ditangani secara serius, Kebun Bergizi bisa menjadi besar dan tidak tertutup kemungkinan menjelma menjadi sumber pangan megapolitan.  Dan, dengan merawat Kebun Bergizi secara bergiliran, secara perlahan warga kota teredukasi untuk bercocok-tanam. Sementara bagi Posdaya Bougenville dan warga RW 09, Rawa Simprug, Grogol Selatan, Kebun Bergizi juga adalah program utama yang menurunkan gagasan Kampung Hijau di wilayah mereka.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Baca Juga
Lihat juga...