Di Balik Nama Kota Jayapura, Tersimpan Cerita Mereka (5-Habis)

360

RABU, 8 FEBRUARI 2017

JAYAPURA — Tahukah Anda, Kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua yang saat ini telah mengubah nama sebanyak lima kali? Ingin tahu proses perubahan nama itu? Berikut Cendana News merangkumnya dalam catatan nama dalam sejarah.

Kawasan padat di Klofkamp Jayapura saat ini. 

Pada edisi keempat kemarin, disebutkan Bendera Merah Putih berkibar berdampingan dengan bendera PBB di dataran tanah Irian Barat setelah diturunkannya bendera Kerajaan Belanda pada 31 Desember 1962. Saat itulah, nama Hollandia berganti nama menjadi Kota Baru. Nah, di Kampung Injros, bendera Merah Putih pertama kali berkibar pada 18 Januari 1963.

Pada cerita kali ini, Cendana News mengulas pemerintahan pertama di Kota Baru-Djayapura, ketika pertama kali Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menginjakkan kaki di Tanah Irian Barat (saat ini Papua -red).

Setahun setelah bendera Merah Putih berkibar secara berdampingan dengan bendera PBB, tepat 1 Mei 1963, Pemerintah UNTEA menyerahkan daerah dan masyarakat Irian Barat kepada Pemerintah Republik Indonesia, yang dilakukan oleh Administrator West Irian semasa UNTEA, Dr. Djalal Abdoh, kepada Pemerintah Republik Indonesia, yang diwakili oleh Sudjarwo Tjondronegoro, SH., selanjutnya diserahkan kepada Gubernur Provinsi Irian Barat, E.J Bonai, dan sejak 1 Mei 1963 secara tunggal berkibarlah Sang Saka Merah Putih di Irian Barat.

Provinsi Irian Barat yang beribukota di Kota Baru, dapat dikunjungi pertamakali oleh Ir. Sukarno bersama sejumlah besar Korps Diplomat Asing, Para Menteri, Pembesar Sipil dan Militer dari Pemerintah Pusat Jakarta.

Letkol Purnawirawan Koesmanto 

Begitu pula nama Ibukota Provinsi Irian Barat, yakni Kota Baru, diganti menjadi Soekarnapura. Demikian juga Teluk Imbi atau Humboldt diganti namanya menjadi Teluk Jos Sudarso, dan pada 1965 Kota Sukarnapura diganti namanya menjadi Djayapura. Pada 1969, dilaksanakan New York Agriment, tepatnya dari bulan Juli dan berakhir 2 Agustus 1969 di Djayapura (kini Kota Jayapura –red).

“Perubahan nama saat saya bertugas di Irian Barat mulai dari Hollandia, Kota Baru, Soekarnapura terus Djayapura,” kata Ketua Markas Daerah (MaDa) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Letkol (Purn) Koesmanto saat ditemui media ini.

Untuk mengingatkan kembali, awal berdirinya Djayapura saat Camp pertama Kapten Infanteri Sachse bersama 10 serdadu Belanda membuka lokasi kota di bibir muara Kali Anafre, Numbay tepatnya di Taman Imbi saat ini.  “Kala itu, 7 Maret 1910, camp tersebut dibuka di Numbay, karena Pemerintah Belanda yang menduduki Teluk Youtefa di Pulau Debi, Injros, Djayapura dalam tahun 1898 belum membuka pos  di lokasi yang luas di daratan,” kata Rudi Mebri.

Belum dibukanya pos di lokasi daratan Pulau Debi, Injros Djayapura, lanjut Rudi, karena Kapten Sachse bersama 10 serdadunya membuka camp di Numbay, yang dikerjakan sepanjang malam hingga pukul 10.00 pagi. “Saat pembukaan, ditandai dengan tembakan senjata sebanyak 10 kali sebagai simbol selesainya pekerjaan bangunan camp tepat pukul 10.00 pagi,” tuturnya.

Camp yang dibangun Kapten Sachse ini berkembang secara bertahap dan mulai membuka sayapnya ke arah kiri (kini Jayapura Utara) dan kanan (kini Jayapura Selatan). Dan, kini di 2017 telah menjadi kota maju dengan hadirnya gedung-gedung bertingkat.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta

Baca Juga
Lihat juga...