banner lebaran

Di Semarang, Leukimia Rangking Pertama Kanker Anak

138

SENIN, 20 FEBRUARI 2017

SEMARANG — Ketahanan tubuh yang sering menurun drastis, membuat penderita kanker anak harus terisolir dari orang lain. Mentor dituntut berbohong untuk menjelaskan kondisi mereka. Masa kecil yang harusnya diisi dengan keceriaan tidak bisa lagi dinikmati oleh anak kecil penderita kanker. Kelainan sel menyebabkan mereka rentan tertular penyakit yang mungkin dibawa orang lain.

Pengurus YKI Semarang, Lesti Kumalasari

Pengurus Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKI) Semarang, Lesti Kumalasari, mengatakan, kesulitan mentor yang paling utama adalah menjelaskan kondisi ini kepada penderita kanker anak tanpa harus menakuti mereka tentang resiko penyakit tersebut. Apalagi di usia 1-10 tahun, ketika mereka belum banyak mengetahui jika penyakit tersebut telah menjangkiti tubuh mereka.

Tapi sayangnya, kondisi pasien kanker anak yang harus diisolir, malah menimbulkan mitos di masyarakat, bahwa kanker itu bisa menular, sehingga banyak orang yang takut berkumpul dengan mereka. “Itu tidak benar, justru anak yang kena kanker harus diperlakukan khusus, agar jangan sampai tertular virus orang lain,” terangnya, saat ditemui, Senin (19/2/2017).

Karena itu, lanjut Lesti, bagi orang-orang yang berkunjung ke Rumah Singgah YKI, terlebih dahulu ditanya kondisi kesehatannya, setelah itu mereka diwajibkan cuci tangan dan memakai masker. Ini dilakukan, agar pengunjung bisa steril saat berkomunikasi dengan penderita kanker anak.

Diresmikan pada 26 September 2016 oleh Walikota Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat ini Rumah Singgah YKI dihuni sekitar 40 orang penderita kanker yang berasal dari seluruh Indonesia. Anak-anak yang tinggal di sana diajarkan cara hidup sehat seperti kebiasaan cuci tangan sebelum makan dan selalu memakai masker ketika ke luar rumah.

Rumah Singgah YKI juga membuat program Sekolahku, yaitu pembelajaran khusus bagi anak penderita kanker oleh mentor-mentor khusus, dikarenakan tidak mungkin mereka bisa mengikuti sekolah selayaknya orang normal. Di Sekolahku, jadwal belajar akan disesuaikan dengan waktu pengobatan yang memakan waktu lama. “Sumbangan suka rela lima ribu rupiah per bulan bagi keluarga yang ingin anaknya diajar di Rumah Singgah, tetapi jika tidak mampu bayar juga tidak apa-apa,” tambah Lesti.

Butuh Support Orang Tua
Di kesempatan terpisah, dokter spesialis kanker anak, Bambang Sudarmanto, mengharapkan peran orangtua untuk terus mendorong anak bisa beraktivitas sehari-hari, walaupun secara fisik diakui kanker akan menghambat gerakan. Hal ini penting untuk menjaga kejiwaan mereka tetap stabil. Selain itu, orangtua juga harus tahu mengenai gejala dini penyakit kanker, agar bias ditangani secepat mungkin, karena kebanyakan kematian akibat kanker disebabkan penyakit tersebut baru diketahui ketika mencapai tahap kronis.

Menurutnya, tanda-tanda seperti wajah yang sering pucat, nyeri, hilang nafsu makan, pendarahan yang tidak cepat berhenti dan ditemukan benjolan di kulit merupakan gejala dini kalau anak tersebut terkena kanker, oleh karena itu harus segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk ditangani secepatnya. “Jika terdeteksi dini, kemungkinan besar bias disembuhkan,” terang Bambang.

Data yang dimiliki oleh RSUP Kariadi, menyebut, Leukimia menempati rangking pertama penyakit kanker anak, yang biasanya dialami oleh anak berumur 4-10 tahun, sementara itu kanker ginjal dan mata di umur 2 tahun.

Bambang juga menjelaskan, penyakit kanker terbagi menjadi dua jenis, yang pertama cair, karena berasal dari darah seperti Leukimia. Kedua, solid yang bisa menyebabkan kanker tumor, kelenjar getah bening, otak dan hati. Untuk pengobatannya sendiri bisa melalui pembedahan, kemoterapi dan radiasi penyinaran.

Karena Kanker merupakan penyakit yang menempati peringkat dengan jumlah pasien terbanyak, Pemerintah sangat serius untuk menanganinya melalui sistem jaminan kesehatan yang dikelola BPJS. Maka, obat-obatan untuk penyakit tersebut sudah disuport, begitu juga dengan biaya dan peralatan. Diharapkan, dengan perawatan yang maksimal, jumlah kematian akibat kanker bisa ditekan.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.