Dirikan Unipala, Chen Tularkan Virus Kebersamaan dan Cintai Lingkungan

209

MINGGU, 5 FEBRUARI 2017

MAUMERE  —  Mahasiswa pencinta alam (Mapala) sebuah organisasi mahasiswa yang dibentuk sebagai wadah bagi para mahasiswa yang mempunyai semangat berbagi, menyatu dengan alam dan lingkungan. 

Chen bersama para anggota Unipala dalam sebuah kegiatan pendakian

Mapala pun kerap diplesetkan dengan istilah ‘Mahasiwa Paling Lama’ kuliahnya atau mahasiswa abadi. Mereka juga diidentikkan dengan orang-orang yang cuek, sulit di atur berpakaian ala kadarnya serta sulit diatur. Akibat dari penampilan anggotanya ini yang menyebabkan masyarakat masih memandang negatif organisasi ini.

Kesan ini yang coba dihilangkan Chen Chabarezy, jebolan fakultas Sosial jurusan ilmu komunikasi Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere ketika bersama delapan teman lainnya mencoba membentuk Mahasiswa Pencinta Alam Unipa atau disingkat Unipala.

Saat ditemui Cendana News di sekertariat Unipa Sabtu  (4/2/2017) Chen banyak berceritera mengenai suka duka mendirikan Unipala. Sejak mulai bergabung menjadi mahasiswa di Unipa tahun 2008, dirinya sudah berniat mendirikan organisasi pencinta alam di universitas yang didirikan pemerintah kabupaten Sikka ini.

Perjuangan mendirikan Unipala bagi Chen merupakan sebuah tantangan, perjuangan yang terasa berat sebab selama Unipa dipimpin dua orang rektor, pembentukan organisasi mahasiswa ini selalu ditolak.

“Saya ibarat menabrak tembok karena kedua rektor belum paham betul kegiatan pencinta alam dan mungkin termakan stigma yang berkembang di masyarakat tentang organisasi ini yang terkesan negatif,” ujarnya.

Saat masuk kuliah tahun 2008, lelaki tegap ini melihat organisasi kampus yang ada cuma badan eksekutif mahasiswa. 2009 setelah mulai kuliah dirinya  meminta rektor  agar bisa mendirikan organisasi mahasiswa pencinta alam.

Chen saat berada di puncak gunung api Egon

Dua orang rektor yang  dimintai dukungan tidak mengindahkannya sehingga Chen bersama beberapa kawan mendirikan komunitas pencinta alam Bumi Hijau dan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) cabang Sikka.

“Saya yang tanam kaki waktu itu sebab saya sendiri yang mahasiswa sehingga setelah bersama teman-teman lain di luar kampus yang sepaham, kami mencoba membentuknya,” terangnya.

Pendirian Unipala

Tahun 2010, ia menggandeng 8 teman lainnya mulai mendirikan Unipala dan merekrut anggota pertama sebanyak 12 orang. Mereka kemudian membuat pelatihan di dalam ruangan dan di luar ruangan dengan mengambil tempat di daerah Kajuwulu sebelah barat kota Maumere.

Di  organisasi ini beber Chen, mahasiswa dididik agar bukan saja mendapatkan ilmu dalam perkuliahan tetapi bisa berorganisasi dan mengembangkan bakat dan hoby mereka melalui berbagai kegiatan yang ada di Unipala.

“Saya ingin mengajarkan kepada adik-adik saya, teman-teman anggota untuk mencintai lingkungan kita, bersahabat dengan alam,” sebutnya.

Bagi masyarakat Sikka sosok lelaki ini tak asing lagi, Dirinya  mudah dikenali dari tunggangannya sehari-hari yang nyentrik dimana bagian setir motor dipasang tanduk rusa dan bendera di bagian belakang serta berbagai ornamen seperti tengkorak dan tanduk kerbau.

Pekerja media ini pun mengaku selalu mencari lingkungan  baru di Flores yang menarik untuk dijelajahi. Berbagai gunung telah didaki, seperti Arjjuna dan Welirang di Jawa Timur, Flores diantaranya gunung Egon di Sikka, serta lima puncak di kabupaten Flores Timur yakni Ile Mandiri, Ile Boleng, Ile Muda, Ile Wuko dan Lerebo.

“Kalau ada waktu luang saya selalu mengajak teman-teman di Unipala untuk melakukan perjalanan ke berbagai daerah di kabupaten Sikka serta kabupaten tetangga yang alamnya menarik dikunjungi,” tuturnya.

Unipala pun beber Chen, pernah bekerja sama dengan LSM Swiss Contact yang mensponsori pendakian lima puncak gunung di Flores Timur yang diliput dan ditulis dalam sebuah buku yang tersimpan juga di kantor pusat LSM ini di Swiss.

Unipala menanamkan rasa memiliki, semangat kebersamaan dan persaudaraan. Dari awal anggota didoktrin untuk  merasa memiliki organisasi ini dan menjiwai karena Unipala tidak memberikan apa-apa sebab anggota yang membantu agar Unipala tetap eksis.

“Saya bisa merangkul teman-teman dari tiap fakultas dan membentuk persaudaraan serta kebersamaan. Hal ini tidak ditemukan di banyak organisasi baik di kampus dan di luar kampus,” tuturnya.

Hal ini kata alumni Unipa tahun 2014 ini, yang sangat berkesan baginya sehingga dirinya merasa tidak sia-sia membentuk Unipala karena tujuan awal mendirikan organisasi ini sudah sekitar 70 persen tercapai.

Chen Chabarezy

Loyalitas anggota juga sambungnya, sangat luar biasa dimana saat ada kegiatan dan membutuhkan dana, semua anggota berpartsipasi menyumbang. Para perintis pun setiap ada waktu selalu mendampingi anggota, memberikan ide, gagasan dan bantuan lainnya.

“Ini salah satu bentuk kepedulian kami untuk melatih dan mendidik para mahasiswa untuk berorganisasi serta mencintai alam dan lingkungan,” ungkapnya.

Hingga saat ini Unipla ucap Chen, ibarat bayi yang sudah merangkak dan sedang belajar untuk berdiri, masih butuh banyak pembelajaran agar tetap eksis dan berkembang.Unipla pun sudah mulai dikenal baik di NTT dan beberapa daerah di Indonesia sebab di NTT hanya dua organisasi Mapala yakni di kampus Unipa dan Universitas Flores (Unflor) di Ende.

“Saya merasa bangga mendirikan Unipala dan masih tetap eksis.Ketika ada teman-teman dari bacpaker dari daerah lain di Indonesia kalau ke Sikka pasti akan menginap di sekertariat Unipala,” pungkasnya.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.