banner lebaran

Disabilitas Tuna Rungu: Jangan Paksa Kami Masuk Dunia Kalian

214

MINGGU, 19 FEBRUARI 2017

SEMARANG — Nada Bicaranya terpatah-patah, dengan peluh yang bercucuran mereka mencoba menerangkan bahasa isyarat kepada masyarakat, sesekali mengernyitkan dahi karena berusaha memahami makna komunikasi dari lawan bicaranya. Tujuannya hanya satu, agar masyarakat bisa memahami dunia para penderita disabilitas tuna rungu.

Penyandang disabilitas tuna rungu sedang belajar bahasa isyarat di rumah singgah

Itulah Gambaran dari Ketua Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) region Semarang, Ari Maretdiyanto ketika ditemui CDN saat melakukan sosialisasi bahasa isyarat kepada masyarakat di acara Car Free Day di Jalan Pahlawan, Minggu (19/02/2017).

Hanya dengan beralaskan tikar disertai sejumlah buku panduan bahasa isyarat, Ari mondar-mandir menghampiri masyarakat yang tengah melintas. Sambil tersenyum ia mencoba meminta masyarakat bisa meluangkan waktunya untuk mampir ke tempat mereka. Karena kemampuan verbalnya yang terbatas seringkali ia lebih banyak menggunakan gestur tubuh untuk menerangkan maksudnya.

Ketika ada masyarakat yang mampir ke tempat mereka, tiga orang mentor disabilitas tuna rungu dengan sabar akan mengajarkan tentang pengetahuan bahasa isyarat, masyarakat juga akan dipersilahkan melihat buku panduan tentang cara berkomunikasi dengan tuna rungu.

Ketua Gerkatin Semarang Ari Maretdiyanto saat acara sosialisasi baghasa isyarat

Menurut Ari, para penyandang tuna rungu harus bekerja dua kali lipat untuk berkomunikasi daripada orang normal. Pertama harus berpikir apa yang akan disampaikan, kedua karena keterbatasan cara berkomunikasi mereka akan kembali berpikir cara menyampaikan tujuannya. Karena itu dia meminta agar masyarakat jangan meminta mereka untuk berpikir, berbicara dan bertingkah laku layaknya orang normal.

“Dengan segala kekurangan kami, tolong jangan paksa kami masuk ke dunia normal. Justru masyarakat diminta pengertiannya agar bisa masuk ke dunia kami,” terang Ari dengan terbata-bata.

Karena itu dia berharap perhatian dari pemerintah untuk lebih serius memperlakukan penyandang disabilitas tuna rungu agar jangan sampai semakin terasing. Karena hari ini dia mengakui lingkungan sekitar belum bisa menerima penyandang disabilitas seperti mereka dengan sepenuh hati, ia memberi contoh saat ini banyak tayangan di televisi yang jarang sekali menggunakan tambahan bahasa isyarat.

“Keinginan kami supaya pemerintah bisa membuatkan Peraturan Daerah khusus bagi teman-teman disabilitas tuna rungu,” pinta karyawan salah satu perusahaan swasta tersebut.

Mentor Gerkatin sedang mengajarkan bahasa Isyarat kepada masyarakat

Sebanyak 80 orang disabilitas tuna rungu tergabung dalam Gerkatin region Semarang. Mereka aktif mensosialisasikan bahasa isyarat dalam setiap kegiatan kemasyarakatan sebagai cara komunikasi non verbal. Gerkatin juga mempunyai rumah singgah untuk mengajarkan bahasa isyarat dan baca tulis kepada disbilitas tuna rungu lainnya. Setiap Tahun mereka juga rutin memperingati hari tuna rungu sedunia yang jatuh pada tanggal 29 September dengan melakukan Long March dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.

“Keterbatasan kami tidak sedikitpun mengurangi kecintaan kami pada Indonesia,” pungkas Ari.

Jurnalis : Khusnul Imanuddin / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Khusnul Imanuddin

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.