Embung Jadi Lokasi Pemancingan dan Stok Air

KAMIS, 2 FEBRUARI 2017
 

LAMPUNG — Musim kemarau berkepanjangan yang kerap melanda mengakibatkan lokasi persemaian permanen di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Provinsi Lampung, kerap mengalami kekurangan air untuk proses penyiraman bibit berbagai jenis tanaman. Kondisi tersebut, menurut Slamet yang diwakili oleh Tejo Agung selaku manajer persemaian permanen Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS-WSS) diatasi dengan membangun check dam atau embung yang berguna untuk penyimpanan air hujan untuk kebutuhan air persemaian tersebut.

Tejo Agung.

Lahan sekitar wilayah persemaian permanen yang memiliki kebutuhan akan air sangat banyak membuat persemaian permanen menyediakan sebanyak tiga sumur bor sedalam 75 meter, bendungan sebanyak dua lokasi termasuk check dam (embung) serta dua lokasi penampungan air yang cukup besar. Lokasi tersebut, menurut Tejo Agung, bahkan kini dimanfaatkan oleh masyarakat dari beberapa kampung untuk memancing karena embung tersebut ditebar ikan nila sebanyak 5000 ekor, patin 2000 ekor serta mujahir sebanyak 1000 ekor.

“Fungsi embung tersebut awalnya memang hanya untuk persediaan air di persemaian namun seiring perkembangan banyak masyarakat menggunakan untuk kegiatan memancing karena ikan yang begitu banyak yang sengaja ditebar agar berkembang biak,” ungkap Tejo Agung, salah satu staf di persemaian permanen BPDAS-WSS Desa Karangsari, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (2/2/2017).

Ia mengungkapkan, embung yang akhirnya menjadi habitat berbagai jenis ikan tersebut sekaligus multifungsi menjadi lokasi pemancingan yang digunakan masyarakat dan juga menjadi sumber untuk pengairan jutaan bibit yang ada di persemaian permanen tersebut. Selain itu berbagai jenis pohon yang tumbuh di area yang menjadi rawa-rawa tersebut menjadi sumber penghijauan bagi sekitar area yang berada di kawasan Register I Lampung Selatan.

Saat ini, menurut Tejo Agung, kebutuhan akan air untuk pengairan di area persemaian tersebut membutuhkan sebanyak 30 kubik air saat musim penghujan dan sebanyak 60 kubik saat musim kemarau. Kebutuhan akan air tersebut, ungkap Tejo, bisa dipenuhi dengan keberadaan bak-bak penampungan air dalam yang diperoleh dengan cara pengeboran dan sumur-sumur yang dipompa semakin banyak mengandung air berkat penghijauan dengan adanya berbagai jenis pohon yang telah ditanam di area seluas 20 hektar tersebut.

Air yang dipompa ke bak-bak penampungan tersebut, ungkap Tejo Agung, selama ini kerap mengalami kekurangan meski akhirnya bisa dipasok dari embung yang dipersiapkan dan selanjutnya dipompa ke penampungan untuk kebutuhan air bagi jutaan pohon berbagai tanaman pohon penghijauan, pohon produksi dan pohon multi fungsi (multy purpose trees).

Lokasi penampungan air.

Meski semula embung sedalam lima belas meter dengan luas sekitar 1000 meter tersebut direncanakan untuk kebutuhan pengairan bibit, namun perkembangan ikan-ikan yang sudah semakin banyak membuat lokasi tersebut dijadikan area pemancingan masyarakat. Tejo Agung memastikan sebetulnya kawasan tangkapan air yang mulai ditanami dengan tanaman penghijauan tersebut bukan area pemancingan. Namun karena justru memiliki manfaat bagi masyarakat pihak persemaian permanen tidak bisa melakukan pelarangan.

“Habitat yang baik untuk ikan justru menjadikan embung berfungsi juga sebagai kolam besar, namun pemancing kita imbau tetap berhati-hati melakukan aktivitas di embung yang cukup dalam tersebut,” ungkap Tejo Agung.

Pada awal tahun 2017 ini, ia mengaku, kebutuhan akan air sangat besar karena penyediaan bibit bagi persemaian permanen untuk didistribusikan di wilayah Provinsi Lampung mencapai 3,5 juta bibit dari sebanyak 48 jenis tanaman. Sebanyak 1 juta bibit disediakan oleh persemaian permanen yang ada di Kabupaten Tanggamus sementara kebutuhan sebanyak 2,5 juta bibit dipasok dari Kabupaten Lampung Selatan.

Kebutuhan yang banyak akan bibit tersebut, diakuinya, dipastikan membuat kebutuhan akan air dalam dengan pengeboran dan dari embung akan cukup banyak pada tahun ini, terutama masa persemaian sedang diproses dengan penyiapan media tanam.

Ia berharap, selama masa tanam bibit yang akan dipanen hingga bulan Mei mendatang bisa dipenuhi dari bak-bak air yang ada dan jika sangat dibutuhkan maka air yang ada diembung bisa digunakan untuk penyiraman. Fungsi yang sangat bermanfaat dan kini digunakan sebagai lokasi pemancingan membuat embung dipertahankan meski telah mengalami kerusakan dua kali akibat jebol pada bagian tanggul.

“Saat musim penghujan kebutuhan air dalam dari embung belum terasa, namun saat kemarau air dipastikan akan diambil dari embung. Sementara fungsi utama embung sebagai kolam dan bermanfaat untuk warga,” ungkapnya.

Selain berguna untuk kolam, embung tersebut bahkan kini dikelilingi pohon-pohon besar produktif di antaranya pohon durian, pohon kemiri serta pohon bambu. Fungsi yang beragam juga dimanfaatkan petani di wilayah tersebut untuk budidaya tanaman cabai dan jagung sehingga keberadaan embung yang merupakan sumber pasokan air masih dipertahankan.

Amir, salah satu warga Desa Sripendowo yang setiap hari memancing di lokasi embung mengaku, berterima kasih dengan adanya embung yang dibuat oleh BPDAS WSS di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Selain memiliki sisi konservasi masyarakat yang memancing juga bisa memperoleh jenis-jenis ikan untuk dikonsumsi sehingga bisa menjadi sumber makanan untuk keluarga dan lokasi pemancingan tersebut gratis tanpa harus membayar.

“Fungsinya sangat banyak yang pastinya untuk kolam dan ikannya bisa kami pancing. Kadang kami dapat hingga lima kilogram ikan nila setiap hari dari siang hingga sore,”terang Amir.

Embung tempat pemeliharaan dan pemancingan ikan.

Ia berharap, embung tersebut bisa ditebar dengan beragam jenis ikan lainnya agar bisa berkembang dan bermanfaat sebagai lokasi pemancingan dan airnya masih bisa dimanfaatkan untuk pengairan lahan pertanian dan juga pengairan lokasi persemaian permanen. Dipastikan juga saat musim kemarau jutaan kubik air dari dua embung masih bisa memenuhi kebutuhan untuk persemaian permanen tanpa takut kehabisan air.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar