Embung Rakyat Batu Bokah dan Jejak Presiden Soeharto di Lombok

188

SABTU, 4 FEBRUARI 2017

LOMBOK — Selain pola tanam gogo rancah (Gora) yang mampu menyelamatkan masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dari krisis pangan yang sempat melanda tahun 1980, embung rakyat juga merupakan salah satu peninggalan Presiden Soeharto yang masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat untuk kebutuhan irigasi pertanian.

Bendungan Batu Bokah Desa Banyu Urip Lombok NTB

Embung rakyat Batu Bokah, Desa Banyu Urip, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), NTB adalah satu dari sekian ribu embung rakyat yang dibangun dan menjadi peninggalan bersejarah Presiden Soeharto yang tidak akan pernah dilupakan petani di NTB, khususnya petani Pulau Lombok bagian selatan yang identik dengan daerah tadah hujan.

Dibangun di pinggiran pegunungan, air bendungan Batu Bokah banyak dimanfaatkan petani untuk bercocok, terutama di musim kemarau, baik untuk menanam padi, jagung, kedelai, semangka dan tembakau.

Meski termasuk embung kecil, Batu Bokah mampu mengairi ratusan hektar lahan pertanian Desa Banyu Urip, tidak pernah kering dan airnya tetap besar sepanjang tahun.

Besarnya air bendungan, selain karena dalam, Batu Bokah juga termasuk bendungan yang airnya bersumber dari hujan dan dari mata air pegunungan yang selalu mengalir setiap waktu.

Meski demikian, semenjak dibangun era Presiden Soeharto, Bendungan Batu Bokah tidak pernah mengalami perbaikan, baik pengerukan sedimentasi akibat tumpukan tanah pegunungan yang terbawa hujan, maupun perbaikan drainase sebagai saluran air bendungan menuju sawah petani.

Selain air digunakan untuk kebutuhan irigasi pertanian, bendungan Batu Bokah setiap libur akhir pekan juga banyak dijadikan sebagai lokasi memancing ikan, karena terdapat berbagi jenis ikan, mulai ikan nila, mujaher dan lele.

Data Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyebutkan, jumlah embung rakyat yang terdapat dan tersebar di seluruh Kabupaten Kota NTB mencapai 2.237 dengan usia mencapai puluhan tahun.

Jurnalis : Turmuzi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi

Baca Juga
Lihat juga...