banner lebaran

Emmy Aznulleily, Kader Damandiri Berjiwa Sosial Tinggi

61

SELASA, 7 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Ramah, murah senyum dan kerap melontarkan candaan memecah keheningan, begitulah Emmy Aznulleily, Ketua Posdaya Kenanga Simprug, binaan Yayasan Damandiri yang berkedudukan di Rawa Simprug, RW 011, Grogol Selatan, Jakarta Selatan. Emmy, sapaan akrabnya, juga adalah ibu rumah tangga yang aktif dalam setiap kegiatan warga di sekitar kediamannya. Dan, ia memiliki motto kuat yang mendasari keaktifannya, bahwa ‘Tanpa Jiwa Sosial, Tak Mungkin Ada Kegiatan Pemberdayaan‘.

Emmy Aznulleily

“Kegiatan pemberdayaan masyarakat semuanya bersifat sosial, tanpa imbalan apapun. Jika tidak memiliki jiwa sosial yang tinggi, pasti tidak akan maksimal. Intinya, tanpa didasari jiwa sosial dan etos kerja gotong-royong, mustahil bisa membuahkan hasil positif,” ucapnya kepada Cendana News, Senin (6/2/2017).

Di sekitar tempat tinggalnya, Emmy dikenal luwes bersosialisasi, sehingga mampu menggerakkan warga ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan PKK, Posyandu dan lain sebagainya. Gotong-royong adalah konsep yang ditonjolkan Emmy, sehingga warga jadi terbiasa melakukan segala sesuatu bersama-sama. Contoh kegiatan sosial yang digerakkan Emmy adalah PKK dan Koperasi.

Lahir di Jambi, 1 Januari 1958, Emmy melewati masa remaja cukup mencekam saat pertama kali pindah ke Jakarta 1965, ketika meletusnya peristiwa Gestapu. Ada pengalaman tak terlupakan seumur hidupnya, ketika ia dan keluarganya tinggal di daerah Jakarta Pusat. Emmy kecil dan remaja perempuan lain di daerah tempat tinggalnya harus disembunyikan oleh orangtua masing-masing, akibat beredar isu ancaman penculikan dari pemberontak PKI (Partai Komunis Indonesia).

“Jika diingat kembali, rasa takut kala itu sangat besar. Tapi, sepintas konyol juga, karena untuk apa remaja perempuan dan gadis kecil hendak diculik? Tapi, orangtua pastinya khawatir akan keselamatan anak-anaknya, jadi mereka menyembunyikan kami agar tidak diculik PKI,” kenang Emmy.

Emmy menikah pada 1980 dan ketika lahir anak pertama, Emmy pindah ke Grogol Selatan, tepat di akhir 1981. Saat sudah menikah, Emmy masih dalam posisi bekerja sebagai seorang karyawan pabrik di Jakarta. Ketika anak mulai bertambah, Emmy mengundurkan diri dari pekerjaannya pada 1995, untuk fokus menjadi ibu rumah tangga. Dari pernikahannya, Emmy dikaruniai 3 orang anak dan 3 cucu.

Di usianya yang sudah menginjak 59 tahun, Perempuan berdarah Jambi-Melayu ini semakin mendedikasikan sisa hidupnya untuk kegiatan memberdayakan masyarakat. Bagi dirinya, siapapun atau apapun keadaannya, masyarakat tidak boleh dibiarkan pasif dalam keseharian mereka. Masyarakat harus mampu memberdayakan diri-sendiri di segala aspek kehidupan. Butuh orang yang bisa menginspirasi mereka untuk bergerak, dan Emmy mengambil keputusan menjadi inspiratornya.

“Warga, terutama kaum perempuan, harus mampu memberdayakan dirinya untuk sepenuhnya meningkatkan kemampuan keluarga, baik secara ekonomi, lingkungan, pendidikan maupun kesehatan,” pungkas perempuan penggemar kue kembang goyang (kue khas Betawi -red) ini, mengakhiri perbincangan.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.