Festival Bau Nyale, Ratusan Masyarakat Lombok Padati Pantai Selong Belanak

87

JUMAT, 17 FEBRUARI 2017

LOMBOK — Ratusan warga Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) tumpah ruah di pantai Selong Belanak, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) untuk merayakan pesta rakyat, Festival bau nyale (tangkap cacing laut). Tidak hanya masyarakat lokal, wisatawan dari luar NTB dan Mancanegara turut ambil bagian dalam pesta tahunan tersebut. 

Masyarakat nampak berjalan meninggalkan kawasan Menanga dan Mawi pantai Selong Belanak, Lombok Tengah usai melaksanakan pesta rakyat bau nyale

Masyarakat dan wisatawan bahkan telah terpantau memadati pantai Selong Belanak sejak kamis malam 16 Februari 2017. Wisatawan luar NTB pada umumnya ingin menyaksikan langsung festival tersebut karena selama ini hanya melihat dari media sosial.

“Festival bau nyale saya taunya dari teman dan nonton youtube, asik dan unik sekali kelihatannya, makanya penasaran dan datang untuk melihat dan ikut secara langsung,” cerita Uchi, Wisatawan asal Bogor kepada Cendana News, Jum’at (17/2/2017).

Ia pun mengaku baru sekarang bisa ikut dan menilai pesta tersebut sebagai festival kebudayaan yang sangat unik dibandingkan dengan festival yang pernah disaksikan.

Semua masyarakat bergembira, berbaur menjadi satu di pinggiran pantai Selong belanak secara bersama – sama menangkap nyale menggunakan sorok maupun tangan kosong.

Pengakuan sama juga diungkapkan Khairi, pesta rakyat festival bau nyale mampu menyatukan kebersama warga, tanpa menghiraukan dan mempertanyakan warga yang datang dari daerah mana, suku mana, maupun negara, semua larut dalam kegembiraan bersama.

“Selain itu yang lebih menarik tentu, legenda di balik asal muasal nyale yang oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai jelmaan dari Putri Mandalikan Lombok,”terangnya.

Menurut legenda, untuk menghindari perpecahan di antara anak pangeran dan raja yang memperebutkan dirinya,  Putri akhirnya memilih menceburkan diri dan menjelma menjadi cacing laut.

Pesta bau nyale sendiri dilaksanakan masyarakat pada dini hari, mulai pukul 04.00 hingga jelang terbit mentari di ufuk timur dengan bantuan lampu penerang.

Jurnalis : Turmuzi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi

Baca Juga
Lihat juga...