Forsidas, Ubah Sungai Kumuh Jadi Kawasan Ekowisata

KAMIS, 2 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Upaya yang dilakukan para pegiat sungai dalam mengimplementasikan kecintaan mereka pada alam memang patut diacungi jempol. Tak memilih jauh-jauh pergi ke tempat tertentu seperti gunung atau hutan, mereka justru secara riil berusaha melestarikan alam terdekat khususnya lingkungan sungai di sekitar tempat tinggal mereka sendiri.

Salah satu kawasan kumuh Sungai Gajahwong yang diubah menjadi ruang publik

Secara konsisten selama bertahun-tahun mereka bergerak berusaha memperbaiki kondisi lingkungan sungai yang semakin hari semakin rusak dan tercemar. Tak hanya memperhatikan faktor lingkungan saja, mereka juga berusaha memperbaiki kondisi sosial, budaya, maupun ekonomi yang saling terkait di lingkungan sekitar mereka tersebut. Secara perlahan, para pegiat sungai yang tergabung dalam Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai (Forsidas) Gajahwong ini pun mampu mengubah kondisi lingkungan sungai di sekitar mereka. Lingkungan sungai yang awalnya tercemar, kumuh dan berisiko, berhasil menjadi lebih bersih, rapi, aman, dan sehat.

Salah satu motor penggerak pegiat Sungai Gajahwong itu adalah Purbudi Wahyuni. Ketua Forsidas Gajahwong se-DIY ini menuturkan, mulai tergerak untuk peduli memperbaiki kondisi Sungai Gajahwong sejak 1990-an lalu. Sebagai warga yang tinggal tak jauh dari Sungai Gajahwong, ia dan warga lainnya mengaku prihatin melihat rusak dan tercemarnya kondisi sungai yang sangat parah. 

“Awalnya dulu kita para pegiat sungai bergerak secara parsial atau sendiri-sendiri. Tiap kelompok hanya bergerak di sekitar lingkungan kampung mereka masing-masing. Karena setelah mengeluh ke mana-mana tidak mendapat tanggapan, akhirnya kita tergerak untuk membentuk forum komunikasi. Kebetulan saat itu tahun 2010, terjadi banjir besar di Sungai Gajahwong ini hingga menghancurkan tebing-tebing dan pinggiran sungai,” ujarnya kepada Cendana News belum lama ini.

Dengan dimediasi oleh Bappeda Kota Yogyakarta akhirnya pada 2010 terbentuklah Forsidas Gajahwong yang terdiri dari kelompok-kelompok pegiat sungai di wilayah kota Yogyakarta. Pada 2012 Forsidas Gajahwong yang awalnya hanya fokus mengurusi sungai meliputi wilayah Kota Yogyakarta saja, akhirnya memutuskan untuk berpikir menyeluruh sejak dari kawasan hulu hingga hilir sungai. Dari situlah terbentuk Forsidas Gajahwong DIY yang mencakup Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta.

“Visi kita adalah menciptakan Sungai Gajahwong sebagai integrated ecotourism (ekowisata terpadu). Karena Sungai Gajahwong ini merupakan salah satu penyangga keistimewaan Yogyakarta dengan segala potensi heritage yang dimilikinya. Di sepanjang Sungai Gajahwong ini banyak terdapat situs-situs sejarah peninggalan kerajaan sejak era Mataram Kotagede hingga Kraton Yogyakarta,” kata dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta ini.

Berbagai upaya telah dilakukan Forsidas Gajahwong dalam memperbaiki kondisi sungai tersebut. Salah satunya adalah dengan menjaga kelestarian aliran Sungai Gajahwong dengan menanam pohon-pohon di sekitar kawasan pinggir sungai. Selain untuk penghijauan dan meminimalisir erosi, penanaman ini juga dilakukan untuk menjaga kelangsungan sumber-sumber mata air di sekitar sungai yang selama ini menjadi penopang utama aliran sungai.

“Kita juga membuat ruang-ruang pinggir sungai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Termasuk juga membangun jalur-jalur di sekitar sungai untuk proses evakuasi ketika sewaktu-waktu terjadi banjir. Dengan didukung Gubernur, Balai Besar Sungai dan Dinas PU, kita juga membentuk koridor sungai. Melalui koridor sungai inilai kita berusaha mewujudkan Sungai Gajahwong yang bersih dan aman. Masyarakatnya pun juga peduli pada sungai,” jelasnya.

Tempat yang dulunya kotor bisa menjadi begitu bersih dan nyaman dinikmati.

Salah satu program yang digagas Forsidas adalah M3K yakni Munggah Mundur Madep Kali. Atau Mundur Naik Menghadap Sungai. Melalui program ini Forsidas berusaha mengajak masyarakat khususnya di sekitar pinggiran sungai agar mau ditata. Munggah berarti mau dievakuasi ketika terjadi banjir. Mundur berarti mau dipindah ke tempat yang lebih aman dan lebih layak. Serta Madep Kali atau menghadap sungai yang berarti menjadikan sungai sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

“Ketika sungai telah tertata, kita juga akan bisa mengoptimalkan potensi Sungai Gajahwong yang sangat besar ini untuk kepentingan wisata. Sehingga otomatis dari situ semua potensi warga di sepanjang kawasan sungai juga akan ikut terangkat. Mulai dari potensi kesenian, budaya, kuliner, kerajinan, semua akan ikut terangkat. Warga pun juga akan mendapatkan dampak positif dari sisi ekonomi,” jelasnya.

Untuk mewujudkan hal itu, Purbudi Wahyuni sendiri mengaku memprioritaskan kawasan-kawasan paling kumuh di pinggiran sungai untuk dibenahi. Baik itu kumuh secara fisik, sosial, maupun mental. Kawasan-kawasan pinggir sungai yang semula banyak digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, limbah pabrik dan rumah sakit, peternakan babi, sapi, kambing, hingga hunian liar diubah menjadi kawasan wisata sungai.

“Ada banyak kawasan kumuh di sepanjang Sungai Gajahwong yang sudah kita garap. Baik secara swadaya maupun dengan bantuan pemerintah. Beberapa di antara seperti Gajahwong Education Park, lalu Umbul Warungboto, lalu juga di Baciro, dan terakhir tahun 2016 kemarin Bendung Mrican yang masih belum diresmikan sampai saat ini, ” katanya.

Kini sejumlah kawasan yang awalnya kumuh itu pun telah berubah menjadi kawasan yang bersih dan rapi. Dibangun ruang rekreasi seperti kolam renang air, tempat bermain anak, hingga tempat bersantai dan beristirahat seperti gazebo dan taman. Kawasan ini pun bahkan sudah dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk berbagai kegiatan baik tempat pertemuan ibu-ibu, senam lansia maupun beragam kegiatan lainnya.

“Kita juga selalu mengedukasi masyarakat agar selalu menjaga situs-situs yang ada di sepanjang kawasan sungai. Karena banyak situs di Sungai Gajahwong ini rusak dan tak terawat. Termasuk mengadvokasi dan memediasi masyarakat misalnya pabrik atau rumah sakit agar tidak membuang limbah di sungai. Jadi kita menjadi semacam penghubung antara masyarakat dengan pemerintah,” katanya.

Perlu diketahui, berbagai situs budaya dan sejarah banyak terdapat di kawasan Sungai Gajahwong ini. Sedikitnya terdapat 30 titik situs bersejarah. Mulai dari situs Watu Gajah yang menjadi asal usul penamaan Sungai Gajahwong, situs Tuk Umbul Warungboto peninggalan Sultan HB II, situs Umbul Raja dengan petilasan Naga Lanang dan Naga Wadon peninggalan Sultan Agung, Jembatan Lo Gathuk, situs Makam Ki Juru Kithing, situs Watu Manten, situs Cinde Amoh, situs Makam Joko Bodo, situs Kyai Guno Mrico, hingga situs Wonokromo dengan tradisi Rebo Pungkasan yang masih ada sampai saat ini.

Purbudi Wahyuni.

“Di sepanjang kawasan Sungai Gajahwong ini juga banyak terdapat topomim yang menjadi asal-usul penamaan kampung. Seperti Kampung Paparingan, di situ dulu banyak pohon bambu atau pring, lalu Kampung Logathuk dari kata Pohon Lo yang menyambung, lalu Kampung Gambiran yaitu dari pohon Gambir, ada daerah Kayu Putih dari pohon Kayu Putih, Kampung Karangmiri dari kata pohon Kemiri, Kampung Mrican karena banyak pohon Merica, Kampung Karangduren karena di situ banyak pohon duren, dan sebagainya. Inilah yang ingin kita kembalikan, yakni dengan menanam pohon-pohon tersebut di tiap daerah pinggir sungai. Agar generasi penerus mengerti dan mengenal asal-usul kampung mereka,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar