Gandewa, Pecinta Alam Fakultas Psikologi UI, Latihan Fisik Tanpa Kekerasan

SELASA 7 FEBRUARI 2017
DEPOK—Pemberitaan mengenai tewasnya anggota mahasiswa pecinta alam Universitas Islam Indonesia saat latihan fisik, membentuk opini publik bahwa kegiatan mahasiswa pecinta alam merupakan satu kegiatan yang keras dan menakutkan. Namun apa yang terjadi di Universitas Islam Indonesia tidak bisa menjadi kesimpulan umum yang harus dipercaya sebagaimana adanya. Kejadian di Universitas Islam Indonesia telah mencoreng citra mahasiswa pecinta alam. Pasalnya, tidak semua organisasi pencinta alam melakukan hal yang sama. 
Kegiatan Gandewa di Alam Bebas: Latihan fisiknya bertahap. 
Cendana News menemukan salah satu organisasi mahasiswa pecinta alam, Gandewa., organisasi pecinta alam bagi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.  Sekalipun  Ketua Gadewa, Dena Fijanatin Alya membenarkan  keperluan latihan fisik memadai  untuk kegiatan pecinta alam, mengingat kegiatan pecinta alam melibatkan fisik secara aktif seperti misalnya naik gunung, wall climbing
“Biasanya kami mulai latihan fisik untuk caang (calon anggota) secara bertahap. misal di bulan pertama jogging harus menempuh jarak 2,5k m untuk pemanasan . Biasanya durasi 20-30 menit, baru bisa ditingkatkan di bulan selanjutnya jadi 5 km durasi kurang lebih 40-50 menit, lalu 10 km durasi 60-90 menit? latihan fisik di Gandewa pun tidak dapat dilakukan sembarangan,”  ujar dara yang karib dipanggil Dena ini. 
Tutur mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan  2014 ini  saat pendinginan setelah jogging   selalu ada sesi “sharing?.  Saat sesi sharing ini diberikan kesempatan bagi calon anggota dan anggota untuk menceritakan pengalaman saat jogging. Saat sharing ini juga anggota senior memberi masukan kepada calon anggota bagaimana cara jogging yang tepat agar tidak sakit atau cepat lelah. 
?Latihan fisik seperti yang sudah saya terangkan di atas, untuk meningkatkan endurance anggota sehingga bisa berkegiatan alam dengan lancar dan sehat,? kata Dena. 
Kegiatan Gandewa lebih ditekankan pada bagaimana calon anggota bisa merasakan stres dan tetap bertanggungjawab atas dirinya masing-masing, orang lain, dan alam. Anggota Gandewa juga memberikan rasa stres kepada calon anggota. Biasanya calon anggota akan diberi tugas yang berhubungan dengan materi kepecintaalaman antara lain SAR, Navigasi Darat, Survival, Pertolongan Pertama Gawat Darurat, Managemen Perjalanan untuk mengetahui apakah Si Caang mampu menguasai materi dasar pecinta alam tersebut. 
Mengenai kekerasan yang terjadi di Uniersitas Islam Indonesia, Dena mengaku tidak mengetahui mengapa terjadi hal tersebut. ?mungkin karena budaya. Sebab budaya di Pecinta Alam X bisa beda sama Pecinta Alam Y. Tidak bisa kita generalisir budaya semua organisasi atau komunitas pecinta alam itu sama. 
Budaya ini yang menurut dia  mempengaruhi tingkah laku seseorang di  organisasi pecinta alam. Mungkin karena tidak ada dosen pendamping saat kegiatan, atau karena panitianya kurang tegas dengan campur tangan alumni saat kegiatan. Kalau pnecinta alam kampus yang benar-benar punya tekad buat  menjaga  keselamatan anggota, patuh sama peraturan fakultas selama proses pendidikan pasti tidak akan ada yang namanya kecolongan terjadi “kekerasan”. Kecuali kalau ada kecelakaan di alam, baru bisa dikatakan itu kehendak Tuhan.
Dena mengiyakan bahwa selalu ada dosen pembimbing dalam setiap kegiatan Gandewa. ?Kalau nggak ada, ya kegiatannya nggak boleh jalan sama fakultas,” imbuhnya. 
Salah satu dosen yang membimbing kegiatan ini adalah, Andi Supandi Suaid Koentary, S.Psi, M.Si yang akrab dipanggil Mas Asup. 
Melakukan Kekerasan Tidak Layak Bagi Pecinta Alam
Kepada Cendana News, Dena mengaku kecewa dengan apa yang dialami oleh mahasiswa Universitas Islam Indonesia. Karena  kejadian ini pasti selain mencoreng nama baik Mapala Unisi, juga mempengaruhi ke pandangan masyarakat terhadap pecinta alam terutama pecinta alam kampus. 
Dena juga mengatakan bahwa oknum tersebut tidak layak dikatakan sebagai pecinta alam.”Ya, menurut pendapat saya, seseorang yang “dengan sengaja” menyiksa manusia lain hingga meninggal, nggak pantas lagi disebut sebagai pencinta alam.  Ada kode etik yang harus ditaati setiap anggota,” tambahnya lagi. 
Terangnya lagi  mencintai alam tidak selalu mengenai mendaki gunung atau diving. Mencintai alam dapat dilakukan dengan hal-hal kecil yang memberikan dampak besar bagi lingkungan. Membuang sampah sembarangan merupakan salah satu hal kecil yang dapat mencemari lingkungan. 
Dena mengaku bahwa ada satu program kerja untuk bersih-bersih sungai, melakukan penghijauan di satu daerah kering, namun belum sempat terlaksana. Mengingat anggota Gadewa belum  banyak. Dia merasa prihatin melihat kebiasaan warga membuang sampah di sungai.  Tidak cukup upaya-upaya dari pemerintah maupun organisasi pecinta alam,  lebih dari itu diperlukan kesadaran warga. 
“Yang terealisasi saya lakukan adalah memberitahu kerabat dekat saya untuk tidak membuang sampah sembarangan baik itu di sungai ataupun tidak. Begitu pula dengan saya sendiri yang berusaha membuang sampah pada tempatnya,” tutupnya. 
Sungai yang tercemar: Gandewa punya program membersihkan.
Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: yohannes Kirshna Fajar Nugroho/ Dokumentasi Gandewa

Komentar