Gus Taqi: Pendidikan Pancasila Era Pak Harto Perlu Dibangkitkan Lagi

375

MINGGU, 19 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Pengasuh Pondok Pesantren Qashrul Arifin, Kyai Ruhullah Taqi Murwat mengatakan, maraknya isu sara yang berpotensi memecah-belah bangsa akhir-akir ini tidak lepas dari sistem pendidikan yang banyak menghilangkan aspek penting pendidikan budi pekerti dan kebangsaan. Keterbukaan informasi juga membuat generasi muda tercerabut dari akar budaya ketimurannya, sehingga mudah termakan isu dan hasutan.

Titiek Soeharto bersama Kyai Ruhullah Taqi Murwat

Ditemui usai gelar Rapat Dengar Pendapat Masyarakat (RDPM) tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika bersama Anggota DPR/MPR RI, Siti Hediati Soeharto, Sabtu (18/2/2017), Kyai Ruhullah Taqi Murwat yang akrab disapa Gus Taqi mengatakan, situasi yang terjadi di masyarakat saat ini tidak lepas dari sistem pendidikan sekarang ini yang banyak menghilangkan aspek pendidikan karakter dan lebih menonjolkan kecerdasan otak.

Merebak dan meluasnya potensi konflik yang berpotensi memecah-belah bangsa, tidak lepas pula dari peran media yang menyebarkannya. Seperti diketahui, di tengah era keterbukaan informasi melalui dunia maya, beragam informasi apa pun dengan mudah disebar-luaskan, meski belum pasti kebenarannya. Bahkan, acapkali informasi tersebut sengaja mengumbar keburukan orang lain, yang tujuannya memang untuk menjatuhkan seseorang atau memperkeruh suasana dan memecah-belah bangsa.

Dalam tradisi pesantren, kata Gus Taqi, para santri sejak dini telah diajarkan untuk menyembunyikan aib atau keburukan pemimpinnya. Ini karena seorang pemimpin adalah simbol yang harus dijaga nama baiknya. Bukan untuk menyembunyikan kesalahan atau aibnya, melainkan untuk melindungi kepentingan yang lebih besar, yaitu mencegah terjadinya konflik terbuka yang berpotensi memecah-belah umat.

“Kanjeng Nabi dulu juga sering menyembunyikan aib dari para sahabat-sahabatnya di muka umum. Tapi, di belakang, mereka tetap dihukum,” katanya.

Gus Taqi

Menurut Gus Taqi, etika seperti itulah yang selama ini hilang. Karenanya, setiap aib para pemimpin justru diumbar, sehingga menyebabkan situasi semakin tidak kondusif. Masyarakat menjadi semakin resah, dan merasa kehilangan panutan dan tak percaya lagi dengan pemimpin.

“Jika aib pemimpin disebar-luaskan, maka dampak yang timbul itu justru kontra produktif. Pemimpin atau siapa pun yang keliru itu cukup dihukum saja, tidak perlu diumbar kejelekannya yang justru membuat masyarakat semakin dipenuhi rasa kebencian,” jelasnya.

Dalam tradisi pesantren pula, tambah Gus Taqi, para santri, bahkan kiai, selalu diajarkan untuk berpikir positif dan tidak serta-merta terburu menjatuhkan hukuman kepada seorang pemimpin. Jika ada pemimpin yang salah, kiai akan mendoakannya, agar pemimpin itu segera menyadari kekeliruannya. Mendoakan pemimpin agar menyadari kekeliruannya itu sudah otomatis mendoakan pula seluruh rakyatnya.

“Karena kalau pemimpin itu kemudian sadar, maka rakyat pun juga akan ikut menerima kebaikan. Tapi, kalau setiap kesalahan atau aib pemimpin itu diumbar, seluruh rakyat juga akan terkena dampaknya, menjadi mudah tersulut emosi, mudah terhasut, dan akhirnya justru menambah konflik dan masalah,” jelasnya.

Situasi bangsa dan negara yang demikian, lanjut Gus Taqi, tidak bisa diubah dalam waktu singkat. Pembentukan moral dan etika serta aklak adalah pendidikan karakter yang membutuhkan waktu lama. Karena itu, sistem pendidikan saat ini yang hanya menonjolkan kecerdasan otak, harus segera diubah. Harus diperbanyak muatan pendidikan aklak dan wawasan kebangsaan.

“Tidak semua di zaman Orde Baru itu jelek. Maka, yang baik-baik di zaman Orde Baru tidak ada salahnya diteruskan. Misalnya, Pendidikan Pancasila, Sejarah dan Kewarga-negaraan, harus dibangktikan lagi,” ujar Gus Taqi.

Selain itu, sambung Gus Taqi, untuk mengatasi situasi bangsa saat ini, masyarakat juga harus kembali memahami kebudayaannya sendiri, memahami aklak ketimurannya sebagai manusia yang berbudaya dan beragama. Bahwa, perbedaan itu sudah sejak dahulu ada dan bukan persoalan. Dan, agama itu mengajarkan orang untuk melihat orang lain dari sisi kebaikannya, dan melihat dirinya sendiri dari keburukannya.

Aib itu, tegas Gus Taqi, tabu dipertontonkan. Mengumbar kejelekan orang lain itu tidak etis. Dan, sebuah konflik itu terjadi karena ada dua kekuatan sama besar. Maka, harus ada penekanan pentingnya perdamaian. Pertengkaran tidak cukup hanya dipisahkan atau didamaikan. Melainkan, kepada orang-orang yang terlibat pertengkaran itu perlu dijelaskan arti dan pentingnya perdamaian.

“Kembalilah kepada kearifan lokal. Budayakan lagi adat ketimuran yang serba harmonis. Biarkan konflik itu diselesaikan di belakang, jangan dipertontonkan. Dikuatkan lagi pendidikan moral, budi pekerti dan wawasan kebangsaan sejak dini,” pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko

Baca Juga
Lihat juga...