Hari Valentine, Penjual Bunga di Yogyakarta Kebanjiran Pembeli

SELASA, 14 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Hari Valentine yang sering diperingati setiap 14 Februari memang selalu menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang bunga. Selain menjadi simbol tanda cinta, bunga juga telah menjadi salah satu hadiah favorit yang diberikan seseorang pada pasanganya setiap Hari Valentine tiba.

Widodo.

Hal itulah yang juga dirasakan para pedagang bunga di Kota Yogyakarta, Selasa (14/02/2017). Pada perayaan Hari Valentine ini, toko mereka tampak ramai dikunjungi pembeli. Sejak pagi, hilir mudik pembeli bunga yang mayoritas anak-anak muda, seolah tak berhenti berdatangan.

Salah seorang penjual bunga, Widodo (50) warga Prambanan, Sleman, mengakui hal itu. Bapak 4 anak yang membuka kios bunga di sekitar Jalan Selokan Mataram ini, mengaku sudah menunggu momen Hari Valentine sejak lama.

“Sudah sejak beberapa hari sebelumnya saya menambah persediaan stok bunga untuk Hari Valentine. Jika hari biasa saya hanya stok 500 bunga, khusus untuk Hari Valentine ini saya tambah jadi 2000 bunga,” katanya.

Widodo mengaku, meski hanya berlangsung singkat satu-dua hari, momen Hari Valentine selalu menjadi berkah tersendiri bagi setiap pedagang bunga. Omset penjualannya bisa meningkat 2-3 kali lipat lebih.

“Tahun 2014 lalu dalam sehari saya bisa dapat omset hingga 13 juta hanya dalam 2 hari. Sampai tidak sempat makan karena melayani pembeli. Meskipun tahun berikutnya menurun drastis hanya sekitar setengahnya saja. Untuk tahun ini belum tahu, mudah-mudahan sore atau malam nanti bisa semakin ramai,” katanya.

Ia menuturkan, banyaknya permintaan bunga di Hari Valentine membuat harga bunga ikut naik. Jika biasanya satu kuntum bunga mawar seharga Rp 5000,  namun pada Hari Valentine harganya melonjak hingga Rp 10.000. Ia sendiri mendatangkan bunga dagangannya dari Malang.

“Paling banyak laku saat Hari Valentine memang bunga mawar. Khususnya warna putih, merah lalu pink. Ada juga yang warna buatan seperti biru dan ungu. Yang dari plastik juga ada. Selain mawar ada juga bunga lili dan krisan,” bebernya.

Widodo sendiri mengaku sudah sejak 5 tahun terakhir membuka toko bunga. Sebelumnya ia hanya bekerja sebagai karyawan di sebuah toko bunga di kawasan Kotabaru Yogyakarta.

Produk bunga yang dijual Widodo.

“Mungkin saya ini rejekinya di bunga. Kerena saya sudah puluhan tahun berganti-ganti pekerjaan tapi tidak pernah cocok. Mulai dari jadi guru SMA honorer, jualan buku sekolah, jualan mie ayam keliling, sampai tukang gali pasir, pernah saya jalani. Hingga akhirnya Tuhan memberi rejeki dari bunga,” ungkap sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Tidar Magelang ini.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar