HUT ke-120, Penanganan Banjir di Balikpapan Belum Tuntas

KAMIS, 9 FEBRUARI 2017
 
BALIKPAPAN — Seiring perkembangan dan keberhasilan yang diraih Kota Balikpapan di usia 120 tahun, beberapa persoalan yang dihadapi belum tuntas. Persoalan banjir misalnya, berdasarkan catatan Dinas Pekerjaan Umum, ada 52 titik banjir di tahun 2016. Pasalnya, dari jumlah itu lima di antaranya merupakan titik banjir baru.

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi.

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, menjelaskan, hingga saat ini masih belum menuntaskan secara keseluruhan penanganan titik lokasi banjir. Tak hanya karena topografi dan struktur tanah di kota yang berpotensi menimbulkan genangan air, juga karena pengupasan lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan.

“Memang, ada titik banjir baru. Tapi kita sudah tuntaskan empat titik banjir. Kita benahi terus dan tuntaskan persoalan banjir ini,” ungkapnya saat ditemui setelah Rapat Paripurna Istimewa HUT Kota Balikpapan.

Selain karena topografi dan struktur tanah lanjut Rizal, kondisi cuaca ekstrem juga salah satu penyebabnya dan penyebab lainnya di daerah hulu juga belum tertata baik sehingga air mengalir tidak lancar.

“Upaya yang dilakukan dengan menata daerah yang ada di hulu. Misalnya, membuat tali-tali air dan memperlebar drainase karena kecil serta dangkal,” tandasnya.

Selain itu, pihaknya juga akan mengontrol dari hulu dan pembukaan lahan baru tetap harus ditata.

“Bukan moratorium pembangunan rumah, jadi sebenarnya pembangunan rumah horizontal tidak hanya di Balikpapan tapi bisa di daerah lainnya. Nanti kita kerjasama dengan daerah lain,” tambahnya.

Selain persoalan banjir yang belum tuntas, Kota Balikpapan juga harus menghadapi penyediaan air baku. Penyediaan air baku saat ini 75% bergantung pada Waduk Manggar dan 25% bergantung pada air bawah tanah.

Persoalan kemacetan lalu-lintas juga menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kota Balikpapan karena pertumbuhan jalan yang ada tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan.

Jurnalis: Ferry Cahyanti / Editor: Satmoko / Foto: Ferry Cahyanti

Komentar