Iklan Rokok Bertebaran, Kota Mataram Belum Layak Anak

124
SENIN 20 FEBRUARI 2017
MATARAM—Masih bertebarannya iklan rokok yang hampir terdapat di setiap sudut dan jalan kota termasuk dekat lingkungan sekolah, membuktikan Kota Mataram belum pantas disebut sebagai kota layak anak.
Direktur Yayasan Gagas Foundation Mataram, Azhar Zaini.
“Rokok masih menjadi ancaman serius bagi anak – anak khususnya kalangan pelajar yang sangat rentan menjadi sasaran pangsa pasar dan predaran rokok untuk dijdikan sebagai konsumen masa depan,” ungkap Direktur Yayasan Galang Anak Smesta (Gagas) Foundtion Mataram, Azhar Zaini di acara Press Confrence hotel Square Mataram, Senin (20/2/2017).
Ia mengatakan, Industri rokok sudah menargetkan anak – anak sebagai pangsa pasar rokok masa depan sebagai pengganti untuk menjamin keberlangsungan bisnis mereka.
Menurut Azhar, Salah satu cara dilakukan antara lain dengan menjalin kerjasama dengan pemilik warung kecil yang berjualan, khususnya yang berada di sekitar lingkungan sekolah, untuk memasang iklan rokok, dengan imbalan berupa uang bulanan atau memberikan rokok secara cuma – cuma kepada pemilik warung untuk dijual kepada pelajar.
Selain itu, cara dilakukan perusahaan rokok untuk menarik keinginan anak merokok, menjual rokok dengan harga murah, sehingga anak bisa dengan mudah membelinya.
“Hasil monitoring Yayasan Gagas Foundation dengan Yayasan Lentera Anak Jakarta di lima Kota Indonesia, Kota Mataram, Padang, Bekasi, Tanggerang Selatan dan Kabupaten Bogor tahun 2015, sekitar 85 persen sekolah di Indonesia dikepung iklan rokok yang diletakkan di warung atau kios sekitar sekolah,” katanya
Azhar juga menduga, sebagian warung atau kios yang dijadikan mitra perusahaan rokok menjual dan memasang iklan rokok sekitar sekolah statusnya ilegal. Akibatnya perusahaan rokok juga tidak perlu meminta izin kepada Pemkot Mataram.
“Kota Mataram sebagai kota layak anak pada 2018 akan sulit tercapai, kalau iklan rokok masih tersebar, mengepung dan menghiasi setiap sudut kota dan lingkungan sekolah yang dijangkau dan membahayakan kesehatan anak.”
Jurnalis: Turmuzi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Turmuzi
Baca Juga
Lihat juga...