Ini Harapan Kaum Difabel pada Kepala Daerah Terpilih di Flotim

KAMIS, 15 FEBRUARI 2017

LARANTUKA — Pemilihan Kepala Daerah Serentak di seluruh negeri ini termasuk di Kabupaten Flores Timur, hendaknya membawa dampak bagi semua golongan masyarakat dengan lahirnya pemimpin terpilih. Kepala Daerah yang dipercaya masyarakat harus memperhatikan semua golongan, segenap elemen masyarakat yang dipimpinnya. Pesan ini yang selalu digemakan kaum difabel yang selama ini masih dipandang sebeleh mata oleh Pemerintah.

Yohanes Bo Kerans bersama istri yang juga difabel, Maria Katarina Kean Odjan, serta anak semata wayangnya.

 Yohanes Bo Kerans (41), salah-satu penyandang difabel dari Kelurahan Lewolere, Kota Larantuka, kepada Cendana News saat memberikan suara di TPS 01 Desa Lemawalang mengatakan, semua temannya kaum difabel di Flores Timur bersepakat memberikan suara dengan harapan, agar Bupati dan Wakil Bupati terpilih bisa memperhatikan nasib mereka. “Semua teman kami pada umumnya mengeluhkan kurangnya perhatian Pemerintah terhadap kaum difabel, sehingga kami beharap pemimpin Flotim terpilih bisa mendengar suara kami,” ujarnya.

Dikatakan John, sapaan karibnya, ia oleh Dinas Sosial Flotim pernah dikirim ke Makasar pada 2001 dan ke Bogor pada 2005, guna mendapatkan pendidikan keterampilan. Namun, setelah pulang ke Larantuka, tidak ada perhatian lanjut dari Pemerintah Kabupaten Flotim dalam rangka mengembangkan usaha. Karena itu, kaum difabel menyeruhkan, agar Pemerintah  mendata kaum difabel dan memberikan bantuan, sebab dengan keterampilan yang ada, kaum difabel sebenarnya bisa berusaha, bekerja sesuai keterampilan.

Kaum difabel yang ada di Flores Timur tercatat ada sekitar 50 orang, tergabung dalam Wadah Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia Cabang Flores Timur, yang semua pengurusnya juga berasal dari kaum difabel. Dua bulan sekali, kaum difabel di seluruh Flotim berkumpul dan mengadakan arisan, guna memepererat persatuan, merasa senasib sepenanggungan dan bersuara memperjuangkan diskriminasi yang dilakukan Pemerintah dan masyarakat. “Saya memilih, karena mau suara saya berguna, agar siapa pun yang terpilih nantinya bisa memperhatikan nasib kami kaum difabel, dan beberapa teman yang saya telepon mengaku ikut memilih dan berharap sama, agar ke depan tidak ada diskriminasi bagi kami kaum difabel lagi,” tutur John.

Suami dari Maria Katarina Kean Odjan ini juga menjelaskan, dirinya dikirim mengikuti pelatihan fotografi, namun setelah pulang Pemda Flotim tidak memberikan fasilitas dan bantuan modal usaha, sehingga ia harus mendatangi sekolah-sekolah menawarkan jasa membuat foto pada rapor dan ijazah. Lelaki asal kelurahan Lewolere ini pun tak memungkiri kenyataan, bahwa kebanyakan masyarakat masih menganggap kaum difabel tidak bisa berbuat apa-apa. Diskriminasi ini yang diminta kaum difabel, agar tidak dilakukan pemimpin Flotim terpilih hasil Pilkada Serentak 2017 ini.

Maria Katarina Kean Odjan yang setia menanti pengumuman suara usai mencoblos di TPS 01 Lamawalang.

John tak memungkiri, ada sedikit perhatian Pemerintah, misalnya seperti yang dialami salah-satu temannya asal Adonara, Simplisius Paji Abe, yang setelah menjuarai lomba lari saat perlombaan antar kaum difabel tingkat nasional meraih juara, kemudian diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Kami kaum difabel janganlah dibedakan, berilah kami bantuan modal seperti yang dilakukan Pemerintah kepada warga normal lainnya, agar kami bisa berusaha,” pintanya.

Dalam keseharainnya, John hidup bersama sang istri yang juga sesama difabel dan telah dikarunia seorang anak yang diberi nama, Yuliana Sineta Manggota Odjan, yang kini masih berumur 7 tahun. “Saya dan istri sama-sama penyandang cacat, sehingga dalam keseharian bila saya tidak mampu melakukan pekerjaan di rumah tangga, saya minta bantuan istri atau sebaliknya,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar