Ini Suka Duka Para Jurnalis di Lampung

KAMIS, 9 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Peran jurnalis yang bagi masyarakat Lampung sungguh diakui sangat berjasa dalam mewartakan setiap potensi lokal dari wilayah terpencil, bukan sebuah pekerjaan yang tanpa resiko. Sebaliknya, acapkali seorang jurnalis dalam melakukan proses peliputan harus bertaruh nyawa, demi menyampaikan fakta kebenaran.

Sejumlah jurnalis di Lampung saat hendak berangkat liputan menggunakan kapal.

Salah-satu jurnalis televisi di Lampung, Sangga, mengaku pernah dalam satu tugas peliputannya di pulau terpencil tak bisa pulang karena tidak memperoleh kapal untuk kembali. Dan, dalam sebuah peliputan pengeboman ikan, ia bahkan pernah diancam akan diceburkan ke laut. Selain itu, biaya yang tinggi dalam peliputan di daerah terpencil kerap membuatnya harus mengeluarkan biaya lebih banyak dari hasil liputan yang dikirimnya ke kantor berita tempatnya bertugas.

“Kita tidak bisa mengatakan saja tanpa visualisasi terkait kondisi riil masyaraat. Sebagai jurnalis televisi, tentunya saya harus memperlihatkan dalam bentuk visual dan menjadi sebuah liputan, dampaknya tentunya kepedulian bagi anak anak pulau,” ungkap Sangga.

Dampak pemberitaan diakui sangat membantu masyarakat pedalaman. Misalnya, pemberitaan sebuah sekolah di pulau kecil yang memiliki keterbatasan sarana, telah mendorong instansi terkait dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan untuk memberikan bantuan perahu. Sementara, beberapa komunitas lain seperti Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Lampung, memberikan bantuan buku-buku bacaan, relawan generasi peduli Lampung memberikan pengobatan dan pemeriksaan kesehatan gratis serta kegiatan penanaman bakau untuk pencegahan abrasi dilakukan oleh organisasi pecinta lingkungan. (baca: Peran Jurnalis di Lampung Diakui Turut Mengangkat Potensi Daerah Terpencil)

Sangga, saat bersama kawan dalam suka dan duka.

Sangga mengakui, dampak langsung dengan adanya jurnalis yang melakukan pemberitaan kondisi pulau terpencil akan menggerakkan hati para warga untuk peduli terhadap keterbatasan masyarakat di pulau terpencil. Meski dalam sebuah peliputan di pulau terpencil hanya disuguhi ikan bakar oleh para nelayan, Sangga mengakui hal itu justru merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Terutama penerimaan masyarakat di pulau terluar yang masih memiliki keterbatasan akses informasi serta minimnya beragam fasilitas. Dengan adanya jurnalis yang memberitakan kondisi riil kepulauan, Sangga berharap bisa membuat pembangunan di kepulauan semakin diperhatikan.

Suka duka jurnalis tak hanya dialami Sangga. Jurnalis perempuan pun tak luput dari beragam kendala. Sebut saja, jurnalis perempuan di Lampung bernama Ramona Pasaur Dini (19). Jurnalis perempuan muda ini di kalangan kawan-kawan dikenal sebagai jurnalis energik, murah senyum dan memiliki dedikasi yang tinggi. Jurnalis perempuan muda yang kerap melakukan liputan di perkotaan maupun pedalaman tersebut mengaku memiliki pengalaman yang beragam selama menjadi jurnalis. Ia juga mengaku asam garam dunia jurnalistik justru semakin menempa kemampuannya.

Ramona mengaku bangga menjadi jurnalis. Bisa mengenal banyak narasumber yang karakternya bervariasi. Sebagai jurnalis media cetak, ia juga mengaku pernah menjumpai narasumber yang tidak mau memberikan keterangan atau diwawancarai, bahkan meski sudah membuat janji sebelumnya. “Resiko tentunya diatasi dengan persiapan matang. Bahan lengkap untuk wawancara, namun ada kalanya narasumber tidak bisa ditemui, bahkan ditelepon pun tidak diangkat. Tapi, saya memiliki prinsip jika jurnalis lain bisa, maka saya juga harus bisa,” ungkapnya.

Boby Eerlando.

Tak hanya itu, dalam beberapa tugas jurnalistik bersifat investigatif kerapkali ia harus mendatangi sejumlah wilayah yang jauh dari tempat tinggalnya. Beberapa proyeksi dalam liputan khusus bahkan memaksanya menitipkan kendaraan roda dua miliknya dan terpaksa berjalan kaki menuju ke rumah narasumber yang tak bisa dilalui kendaraan, baik mobil maupun motor. Namun, ia tetap menjalankan tugas-tugas tersebut dengan semangat dan dedikasi, bahkan ketika pekerjaan itu sangat menguras energi, finansial serta pengeluaran yang tidak sedikit dan tak sebanding dengan kesejahteraan yang diperolehnya. Ia bahkan mengatakan, terkait kesejahteraan, ia menyadari bahwa seorang jurnalis tentunya harus mencukupkan diri dan bersyukur dengan upah yang diperoleh dari kantornya bekerja sebagai jurnalis.

Suka duka dunia kerja jurnalistik, juga dialami oleh salah-satu jurnalis media dalam jaringan (daring) atau dikenal media online di Lampung, Boby Erlando (28). Ia mengaku, di saat peran media online masih dianggap sebelah mata, terutama pola pikir masyarakat yang melihat media hanya media cetak, televisi atau elektornik, membuat narasumber berita pun sulit ditemui. “Selama ini, memang terkadang jurnalis media online masih kurang dikenal, sehingga narasumber masih perlu pemahaman. Tapi, di zaman modern ini media online sudah semakin dikenal,” ungkap Boby.

Ramona Pasaur Dini, saat bersama rekan seprofesi.

Boby yang melakukan liputan dengan menggunakan sepeda motor, bahkan hingga ke pelosok-pelosok tersebut mengaku pernah mengalami intervensi dari keluarga narasumber, di antaranya saat akan melakukan liputan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli). Meski demikian, ia mengaku dengan menjadi jurnalis media online, ia merasa bangga, karena memiliki tingkat kecepatan yang lebih dibandingkan dengan media cetak. Sebab, dalam proses peliputan, penerbitan berita dilakukan saat itu juga, sementara media cetak harus menunggu hari berikutnya.

Bagi Boby, menjadi jurnalis dengan beragam suka duka, tetap menjadi sebuah tugas yang mulia. Menjalankan tugas sesuai kaidah dan kode etik jurnalistik, bertugas hingga ke pelosok tanpa mengenal lelah dan melakukan liputan bersama kawan-kawan sesama jurnalis, merupakan hal yang menyenangkan, termasuk rasa terima kasih dan bangga dari narasumber yang ikut terbantu karena pemberitaan, seperti usaha-usaha kreatif masyarakat di pedesaan. Karenya, di hari pers ini ia berharap, kesejahteraan para jurnalis semakin diperhatikan, mengingat resiko dan pekerjaan di lapangan terutama dalam kasus-kasus sensitif, tak jarang diikuti dengan intervensi dan ancaman dari pihak lain.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar