Jadi Tunganai Kapal di Padang, Rp 3 Juta Per Hari

217
JUMAT, 17 FEBRUARI 2017

PADANG — Tunganai (pemilik atau bos) kapal nelayan merupakan sebuah usaha yang menjanjikan. Kenapa tidak, menjadi seorang tunganai hanya perlu duduk di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan menunggu kapal nelayan pulang di pagi hari.

Kapal milik Ilen yang terparkir.

Hal ini, telah dilakoni oleh Ilen, warga Lansano, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ilen yang ditemui di salah satu warung yang berada dekat dari Muaro Lansano sore ini menceritakan, dengan memiliki 4 unit jenis kapal bagan, setiap paginya ia mampu memperoleh Rp 3 juta.

Ia menjelaskan, Rp 3 juta itu merupakan penghasilan bersih, setelah bagi hasil dengan anak buah kapal dan modal minyak kapal serta kebutuhan lainnya.

“Satu kapal itu bisa menangkap ikan jenis tongkol sekira 4 fiber. Ukuran 1 fiber tersebut, ikan di dalamnya bisa 25-30 kg. Dengan berat yang demikian, untuk 1 fiber bisa menghasilkan uang Rp 500 ribu bila harga tinggi, kalau harga turun hanya bisa Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per fiber,” paparnya, Jumat (17/2/2017).

Mengingat ada 4 kapal, jika ada 4 fiber per pergi melaut, maka jika dirata-ratakan bukanlah hal yang mustahil bagi Ilen untuk memperoleh Rp 3 juta per hari.

Namun ia mengakui, penghasilan tersebut tidak selalu mulus. Karena yang namanya meluat, ada kalanya hasil tangkap turun, terlebih jika bulan telah muncul. Jika gelap malam diterangi oleh bulan, maka para nelayan memilih untuk tidak melaut.

“Situasi bulan terang, merupakan saat-saat mengeluarkan biaya yang besar. Karena akan ada perbaikan kapal, jaring, dan keperluan melaut lainnya,” ungkapnya.

Menjadi seorang tunganai sudah dilakoni oleh Ilen sejak tahun 2000-an. Bermula dari satu unit kapal dan terus berkembang menjadi 4 unit kapal. Dulu waktu masih memiliki satu unit kapal, Ilen langsung turun ke laut dengan membawa sejumlah anak buah kapal. Pengalaman yang dimiliki oleh Ilen ini, dianggap oleh kebanyakan nelayan lainnya sebuah kunci sukses.

Ia menyatakan, tidak semua hal menyenangkan jika sudah menjadi bos kapal atau tunganai, terutama soal peristiwa di lautan, yang sangat ia khawatirkan, yakni bencana di laut. Karena hal tersebut merupakan hal yang mengerikan bagi para nelayan, karena bisa menyebabkan kematian.

“Saya selalu khawatir kepada anak buah kapal saya. Namun apabila kapal milik saya sudah terlihat masuk Muaro Lansano ini, maka lepaslah rasa kekhawatiran itu. Hal begitulah yang terus saya rasakan setiap pagi, setiap kepulangan kapal-kapal saya,” tutupnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Muhammad Noli Hendra

Baca Juga
Lihat juga...