Kampung Pionir, Pengelola Air Bersih hingga Tempat Wisata

153

SELASA, 7 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Kampung Jetisharjo, Kecamatan Jetis, Yogyakarta, boleh dibilang merupakan salah satu kampung yang berhasil mengembangkan potensi lokal untuk kepentingan masyarakat atau warganya. Selain menjadi salah satu kampung wisata di Kota Yogyakarta dengan paket wisata susur sungainya, kampung ini juga tercatat sebagai kampung pionir dalam pengelolaan air bersih untuk warganya.

Kawasan pinggir sungai yang tampak asri.

Kampung Jetisharjo sendiri merupakan kampung pemukiman padat yang berada di kawasan pinggiran Sungai Code dan terletak di pusat kota tak jauh dari Tugu Yogyakarta. Sejak lama warga di kampung ini mendapatkan sumber air bersih dari sejumlah mata air atau belik di sepanjang pinggiran sungai.

“Sebelum adanya pengelolaan air bersih seperti sekarang, warga kampung setiap hari harus bersusah payah mengambil air dengan turun ke lokasi mata air dekat sungai. Karena memang di sini tidak banyak warga membuat sumur. Sementara jika harus berlangganan PDAM, biayanya cukup mahal,” ujar tokoh kampung yang juga Ketua Pemerti Kali Code, Totok Pratopo, Selasa (07/02/2017).

Berawal dari kondisi itulah, Totok bersama warga lainnya, berupaya untuk mencari solusi. Hingga akhirnya mereka berhasil memompa air dari sumber mata air dekat sungai langsung ke rumah-rumah warga. Saat ini, sebanyak 130 rumah atau keluarga di kampung Jetisharjo, telah mendapat suplai air bersih tanpa harus mengambil lamgsung dan mengangkutnya.

“Debit mata air di sini cukup besar dan mencukupi untuk mensuplai kebutuhan sehari-hari warga. Sehingga tahun 2001 kami memutuskan memompanya ke atas secara swadaya ke rumah-rumah warga. Dengan begitu warga bisa mendapat suplai air bersih tanpa harus mengambilnya langsung, namun sudah tersalur ke rumah-rumah. Biayanya juga lebih murah dibanding berlangganan ke PDAM,” katanya.

Atas keberhasilan tersebut, kampung ini pun mulai dikenal dan banyak dikunjungi orang-orang dari daerah lain untuk belajar tentang pengelolaan air. Banyaknya tamu yang datang ke kampung ini, membangkitkan semangat warga untuk membenahi kampung yang nantinya menjadi cikal-bakal kampung wisata Jetisharjo.

“Sejak saat itu kita tergerak untuk membenahi kampung. Mulai dari melakukan pemberdayaan masyarakat, melakukan penghijauan kampung hingga membuat akses jalan di sepanjang sungai,” jelasnya.

Salah satu fokus warga dalam upaya membenahi kampung dilakukan dengan merevitalisasi kawasan sungai di sekitar kampung mereka tersebut. Terlebih kondisi sungai terlihat semakin rusak sehingga berpotensi menimbulkan bencana, baik itu banjir atau tanah longsor yang mengancam warga kampung.

“Kita melihat kondisi Sungai Code ini semakin hari semakin rusak. Rumpun-rumpun bambu serta pohon-pohon besar di pinggir sungai yang memiliki berbagai fungsi baik sebagai habitat ikan atau burung, termasuk talud alami, sudah hilang. Sampah-sampah juga masih dibuang di sungai sehingga berisiko terjadi banjir,” katanya.

Dari situlah, Totok dan tokoh lainnya berupaya merangkul masyarakat untuk bergerak bersama-sama. Mereka pun berhasil menghijaukan kampung dengan berbagai jenis tanaman maupun menghijaukan sungai dengan menanam pohon-pohon besar di sekitar sungai. Sungai di kawasan kampung Jetisharjo ini pun kini terlihat lebih hijau dan bersih karena tak ada lagi warga membuang sampah ke sungai.

“Hal lain yang juga kita lakukan adalah membangun akses jalan di sepanjang pinggiran sungai. Dulu di pinggir sungai ini tidak ada jalan. Jadi akses antarkampung pinggiran sungai terputus. Dengan jalan ini warga sekarang bisa berinteraksi dengan warga kampung pinggiran sungai lainnya. Selain itu warga juga bisa menikmati sungai sebagai bagian dari kampung mereka,” jelasnya.

Kini kampung Jetisharjo telah menjadi salah satu kampung wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Tak sedikit tamu-tamu hotel atau wisatawan berkunjung ke kampung ini untuk menikmati suasananya. Salah satu paket wisata yang ditawarkan kampung Jetisharjo adalah wisata susur sungai. Yakni semacam trip bagi wisatawan untuk menyusuri kampung-kampung dengan segala komponen dan bermacam potensinya, secara berjalan kaki.

Totok Pratopo.

“Sebenarnya kawasan pinggir sungai ini merupakan kawasan heritage yang bisa dikembangkan menjadi alternatif wisata di Yogya. Namun memang untuk mewujudkan hal itu tidak bisa hanya dilakukan oleh masyarakat saja. Butuh upaya serius dari pemerintah untuk bisa mewujudkannya. Sebenarnya, itu sangat mudah, tinggal komitmen pemimpinnya seperti apa. Sampai saat ini memang belum ada keseriusan, baru sebatas wacana,” paparnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...

Isi komentar yuk