Karyati Menambal Ban Sambil Merawat Anak

SENIN 6 FEBRUARI 2017
LAMPUNG—Seperti jalan yang tidak pernah tidur. Demikian julukan pas bagi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang merupakan jalan penghubung beberapa kota di Pulau Sumatera. Jalan ini menjadi perlintasan berbagai jenis kendaraan selama 24 jam tanpa henti baik dari arah Pelabuhan Bakauheni menuju beberapa kota di Sumatera, maupun sebaliknya.
Karyati menunjukan kecekatan membuka ban kendaraan roda dua yang akan ditambal bagian ban dalam.
Jalan yang 24 jam hidup ini  menjadi peluang usaha bagi para pemilik usaha tambah angin, tambal ban. Keberadaan tambal ban tersebut bahkan nyaris selalu ada dengan jarak berdekatan satu dengan yang lain terutama di dekat beberapa perhentian kendaraan yang ada di setiap rumah makan. Sebagian besar dikerjakan oleh kaum pria yang memiliki usaha tambal ban dan jasa tambah angin dengan bangunan sederhana di sepanjang Jalan Lintas Sumatera. 
Pekerjaan jasa menambal ban kerap dilakukan oleh kaum laki laki.  Karyati Solin (39) adalah salah satu pengecualian. Perempuan ini melakukan pekrjaan tambal ban di sela sela merawat sang anak yang masih berusia satu tahun. Karyati mengaku pekerjaan sebagai tukang tambal ban tersebut sudah bisa dilakukannya sejak 10 tahun silam saat ia dan sang suami tinggal di Jalan Lintas Sumatera Desa Kekiling dan membuka tempat tambal ban di samping sebuah rumah makan dengan cara mengontrak. 
Setelah selama tiga tahun bekerja bersama sang suami sebagai tukang tambal ban, Karyati Solin bersama sang suami Herman Padang (40) membeli satu petak tanah di Desa Taman Baru Kecamatan Penengahan.
“Awalnya ngontrak karena tempat tambal ban pertama menyewa di dekat rumah makan dan dari uang menambal ban dan jasa tambah angin kami membeli sepetak tanah yang semuanya digunakan untuk bangunan rumah berikut tempat tambal ban ini,” terang Karyati Solin saat ditemui Cendana News sedang menambal ban salah satu pelanggan di depan rumah yang dimilikinya, Senin (6/2/2017).
Karyati yang lahir dan besar di sebuah desa di Sidikalang Provinsi Sumatera Utara tersebut mengaku merantau bersama sang suami setelah menikah sekitar 15 tahun lalu ke provinsi Lampung. Berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain yang rata rata berada di dekat pinggir jalan, sang suami yang memiliki keahlian sebagai penyedia jasa tambal ban dan juga bengkel terus menekuni bidang tersebut hingga kini. Tinggal di Lampung hampir puluhan tahun dan kini memiliki empat orang anak diakui Karyati membuat kebutuhan hidup semakin banyak sehingga berbagai usaha dilakukannya bersama sang suami.
Karyati mengungkapkan awalnya ia sama sekali tidak bisa mengerjakan proses menambal ban terutama karena sibuk mengurusi anak anaknya yang masih duduk di bangku sekolah. Namun saat melihat sang suami mengerjakan proses menambal ban, ia mulai bisa membantu menambah angin bagi setiap kendaraan baik kendaraan roda dua maupun roda empat. 
Setelah ketiga anaknya mulai masuk sekolah dan membutuhkan biaya tak sedikit, Karyati dan sang suami pun mulai memikirkan untuk memiliki rumah tinggal sendiri dan tidak menumpang atau menyewa di tanah milik orang lain. Setelah sang anak pertama menikah dan memiliki rumah sendiri, keluarga tersebut dengan ketiga anaknya termasuk yang berumur satu tahun dan kedua anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas telah memiliki rumah permanen lengkap dengan tempat usaha menambal ban.
Karyati yang kini hanya memiliki tanggungan tiga anak pun mulai bisa menambal ban setelah belajar dari sang suami. Sang suami yang semula hanya bekerja sebagai tukang tambal ban dengan modal yang ada mulai mengembangkan usaha sebagai penyedia jasa gergaji mesin dengan melakukan penggergajian kayu atas permintaan warga dan juga semakin banyaknya permintaan menebang pohon setelah proses pembebasan lahan di sepanjang wilayah yang akan dilalui Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). 
Jadilah pekerjaan menambal ban tersebut sepenuhnya dilakukan oleh Karyati sehingga Karyati menjadi salah satu dari beberapa tukang tambal ban perempuan yang ada di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.
Perempuan yang hanya tamatan sebuah sekolah dasar di Sidikalang Sumatera Utara tersebut mengaku selama sepuluh tahun terakhir dia mulai bisa menambal ban kendaraan roda dua hingga ban kendaraan truk besar. Meski memerlukan tenaga yang cukup besar saat harus melepas ban dari kendaraan truk semua dikerjakan dengan penuh semangat demi menambah uang untuk sekolah sang anak yang kini duduk di bangku sekolah menengah atas.  
Pekerjaan yang nyaris banyak dilakukan kaum laki laki tersebut ungkap Karyati merupakan pekerjaan yang sebetulnya bisa dilakukan tanpa memandang jenis kelamin. Ia bahkan mengungkapkan saat ini perempuan harus bisa membantu pekerjaan suami atau pekerjaan laki laki yang bisa dikerjakan kaum perempuan selagi bisa dikerjakan tetap dikerjakan.
Karyati bahkan mengaku selain bekerja sebagai tukang tambal ban masih memiliki kesibukan sebagai petani dengan menggarap sekitar dua hektar lahan sawah yang berada tepat di depan rumahnya dengan cara menumpang dan bagi hasil. Proses pengolahan dilakukan dengan mesin traktor serta dikerjakan oleh tenaga upahan namun pekerjaan memupuk, membersihkan rumput serta perawatan tanaman padi tetap dikerjakannya tanpa bantuan sang suami karena sang suami kini sibuk menerima pesanan melakukan proses penggergajian kayu.
“Selagi masih bisa dikerjakan oleh perempuan menambal ban tetap saya kerjakan dan pekerjaan ini halal dilakukan karena hanya mengandalkan keahlian dan tidak malu,”ungkap Karyati.
Sebagai tukang tambal ban, Karyati bahkan mengaku saat musim liburan panjang atau saat mudik lebaran dirinya selalu panen pelanggan terutama untuk menambah angin. Lokasi yang berjauhan dengan pemilik jasa tambah angin dan tambal ban membuat tempat tambal ban miliknya menjadi rujukan saat pengendara mengalami insiden ban kempes atau bahkan pecah. Ia bahkan mengingat kejadian harus dibangunkan sekitar pukul 02:00 dini hari oleh seorang pengendara kendaraan roda dua yang membawa serta isteri dan seorang anak.
Dibangunkan tengah malam, meski sebagai perempuan ia mengaku tetap mengerjakan tambal ban tersebut tanpa mengeluh. Ia bahkan hanya mematok upah jasa tambal ban dalam dengan rata rata hanya Rp10.000 per ban dalam untuk kendaraan roda dua serta tambal ban kendaraan truk Rp35.000 per ban dalam. Seminggu setelah ia membantu pengendara tersebut menambal ban, ia mengaku pengendara tersebut yang berasal dari Jakarta hendak menuju ke Lampung Tengah kembali mampir ke tempat ia menambal ban. Ia yang sempat lupa karena saat menambal ban pada malam hari sempat diingatkan pengendara tersebut telah ditolong dengan menambal ban sehingga sampai di rumah dengan selamat.
“Saya dibawakan kue kue serta buah tangan lain karena oleh pengendara kendaraan tersebut dianggap telah menolong mereka dan bahkan memberi uang bagi anak saya yang masih kecil,”kenang Karyati.
Karyati juga mengaku tidak mengeluh meski sebagai perempuan harus bekerja sebagai tukang tambal ban sebab dalam sepekan ia mengungkapkan dengan menambal ban atau jasa menambah angin dirinya bisa mendapatkan penghasilan rata rata Rp100 ribu. Sementara sang suami bekerja. dirinya yang tinggal di rumah tak merasa malu mengerjakan pekerjaan yang didominasi kaum laki laki tersebut. 
Dia terkadang menjumpai beberapa kaum laki laki pun tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang ditekuninya sebagai tukang tambal ban. Karyati juga menyadari persamaan gender yang sering digaungkan orang diakuinya saat ini kerap belum diterapkan dalam kehidupan sehari hari oleh kaum suami atau laki laki.
Beberapa hal yang belum menunjukkan kesetaraan gender tersebut d antaranya diakui dalam hal pekerjaan pekerjaan sederhana di rumah. Ia bahkan mengaku sejak kecil melatih anak anaknya yang kesemuanya laki laki untuk mengerjakan pekerjaan yang selama ini dikerjakan wanita yang sebetulnya bisa dikerjakan kaum laki laki diantaranya mencuci piring, mencuci baju bahkan menyapu untuk membersihkan rumah. Sambil bekerja menambal ban Karyati mmapu merawat anak bungsunya yang berumur satu tahun sembari mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya tanpa hambatan.
“Bagi saya pekerjaan laki laki dalam rumah tangga yang bisa dikerjakan perempuan juga tetap dikerjakan bahkan anak anak saya yang laki laki juga tetap bisa mengerjakan pekerjaan mencuci piring, baju karena terlatih sejak kecil,”ungkapnya.
Karyati menyadari kodrat beberapa hal dalam dunia laki laki dan perempuan tidak bisa ditukar namun dalam pekerjaan yang masih bisa dikerjakan tanpa memandang jenis kelamin dikerjakannya dengan senang hati. Dia tak malu menambal ban dan digantikan sang anak saat sudah pulang sekolah dan dirinya berangkat ke sawah memikul alat semprot saat sang suami tengah mencari nafkah sebagai tukang gergaji mesin.
Karyati menambah angin kendaraan roda dua.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Komentar