banner lebaran

Katni, Kader Damandiri Inspirator dan Pejuang Pangan Rawa Simprug

78

JUMAT, 10 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Demi menyukseskan Program Kebun Bergizi, Posdaya Bougenville binaan Yayasan Damandiri memberdayakan warga setempat beserta seorang kader lingkungan bernama Katni, yang setia merawat kelangsungan hidup seluruh tanaman pangan dan tanaman toga (obat) yang ada di Kebun Bergizi. Tidak hanya itu, ia sekaligus melakukan praktek pembibitan secara mandiri melalui sistem stek (cutting atau stuk).

Katni

Katni, begitulah nama dan panggilannya sehari-hari, pria Betawi asal Tanah Koja, Grogol Utara ini. Katni sudah dikenal warga Rawa Simprug sebagai penyuka tanaman. Dari sekedar hobi menggemburkan tanah untuk ditanami beragam tumbuhan, hingga hobi tersebut menjadi sebuah keahlian khusus. Sejak remaja, Katni banyak menimba ilmu bercocok-tanam dari orangtuanya. Ditambah lagi, ketika gaung pertanian serta pembibitan tanaman pangan begitu menggema di era pemerintahan Presiden kedua RI, H.M. Soeharto, Katni berusaha menyerap semua ilmu pembibitan kala itu. Keahlian Katni yang mengemuka untuk pembibitan adalah sistem stek serta pengolahan pupuk organik.

Pengalaman Katni selama bekerja mengurus kebun dan taman di Permata Hijau, semakin menguatkan skill bercocok-tanam yang dimilikinya. Pria penggemar singkong goreng dan pisang rebus ini sanggup sehari penuh bergulat dengan tanah dan tanaman hanya untuk memastikan tanaman tumbuh dengan baik. Semua berjalan apa adanya, hingga suatu ketika pada 2012, ia bertemu Intan Nuraini, Pengurus RW 09, Rawa Simprug beserta Emmy Aznulleily, penggiat PKK RW 11, Rawa Simprug, Grogol Selatan. Mereka bertiga membicarakan rencana RW 09 untuk menghijaukan wilayah Rawa Simprug.

Rencana tersebut berlanjut menjadi sebuah pengabdian besar, ketika diresmikannya kegiatan 5 Posdaya di Kantor Kelurahan Grogol Selatan pada 2014. Oleh Intan Nuraini, Ketua Posdaya Bougenville, Katni dijadikan kader lingkungan untuk menangani Kebun Bergizi. “Sejak awal, Katni seorang diri merawat Kebun Bergizi kami, dan ia mencurahkan semua kemampuan sekaligus kesehariannya di sana,” sebut Intan Nuraini, Ketua Posdaya Bougenville mengenai awal sepak terjang Katni di Posdaya Bougenville.

Tanaman hasil pembibitan Katni di Kebun Bergizi

Setiap hari, selesai membersihkan dan memilah sampah-sampah organik milik warga setempat untuk dijadikan bahan pupuk organik atau pupuk kompos, Katni merawat tanaman Kebun Bergizi. Ia menggemburkan tanah yang sebelumnya telah dicampur pupuk, memotong setiap daun yang kelihatan layu dan menyirami seluruh tanaman. Untuk tanaman konsumsi dari jenis buah-buahan, Katni sangat memperhatikan pertumbuhan buahnya.

“Seperti pepaya dan pisang yang di ujung itu, buahnya harus dijaga, karena masyarakat gemar mengambil buah dari dua pohon tersebut. Untuk pisang juga ada jantung pisang yang bisa diolah menjadi sayuran konsumsi sehari-hari. Buah yang mulai besar akan saya tutupi plastik atau daun pisang, agar terhindar dari serangan hewan malam seperti kampret (sejenis kelelawar -red), tupai dan tikus,” terang pria 6 anak ini mengenai kegiatannya sehari-hari.

Salah seorang dari sekian banyak warga yang memanfaatkan hasil Kebun Bergizi adalah Rohanah, warga Rawa Simprug RW 09. Selain memanfaatkan hasil Kebun Bergizi, ia akhirnya terinspirasi untuk ikut merawat tanaman di Kebun Bergizi secara sukarela. “Saya biasa memanfaatkan bayam kebo untuk sayur lodeh atau lalapan sambal terasi pakai ikan asin, dan menurut saya tidak adil jika hanya memanfaatkan saja. Itulah makanya saya ikut merawat Kebun Bergizi,” ujar ibu rumah tangga yang sempat lari kala akan didokumentasikan.

Serangan hama tikus adalah pusat perhatian Katni. Bagaimana tidak? Tanaman yang kerap diserang tikus adalah singkong. Padahal, singkong itu selain bahan pangan favorit Katni, juga banyak diambil warga untuk dibuat cemilan keluarga seperti getuk, keripik maupun kolak. Cara Katni untuk menangani masalah itu adalah dengan langsung melakukan pembibitan stek begitu selesai panen singkong.

Pertumbuhan singkong terhitung sangat cepat, karena dalam beberapa minggu saja tanaman singkong sudah bisa dicabut untuk dinikmati hasilnya. Karena sudah paham jadwal panen singkong, ia lebih mudah melakukannya. Hasil stek langsung ditanam kembali, agar bisa segera tumbuh menjadi tanaman singkong baru. Daun singkong juga banyak dikonsumsi warga setelah terlebih dahulu diolah menjadi sayur daun singkong yang lezat.

Suka duka Katni selama berkecimpung di Posdaya Bougenville dalam merawat Kebun Bergizi, adalah sebuah pemikiran ke depan yang kerap mengganggunya, yakni bagaimana membawa Kebun Bergizi menjadi sumber pangan tetap bagi warga, sekaligus menambah penghasilan mereka. Menurut Katni, selama ini Kebun Bergizi memang bisa diandalkan untuk keperluan pangan darurat warga, tetapi lebih baik lagi jika bisa membawa rejeki bagi keluarga mereka di rumah.

“Saya sedang mengembangkan stek untuk insulin, singkong serta pembibitan untuk memperbanyak tanaman pisang raja dan kepok. Bulan Ramadhan sudah dekat, saya berharap pada bulan puasa nanti, bagi warga yang ingin berdagang kolak dan sejenisnya bisa mengambil bahan baku secara gratis dari Kebun Bergizi. Masih ada beberapa bulan ke depan untuk menyiapkannya, dan saya terus berjuang untuk itu,” pungkas Katni.

Katni memang luar biasa. Ia bukan sebatas kader lingkungan Damandiri saja, tetapi juga bisa menginspirasi warga untuk ikut secara sukarela merawat Kebun Bergizi. Katni tidak pernah mengimbau warga untuk melakukan kegiatan sukarela tersebut. Ia hanya memberi contoh saja kepada mereka. Katni bukan sekedar kader lingkungan Damandiri, tetapi juga Kader Damandiri, inspirator dan pejuang pangan masyarakat.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.