Kawasan Desa Way Kalam Kembangkan Budidaya Sayuran Organik

565

MINGGU, 5 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Kawasan yang subur di wilayah Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan menjadi kawasan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan untuk pengembangan budidaya sayuran. 

Tanaman timun yang akan digunakan sebagai indukan dan bibit

Warga Desa Way Kalam, Anwar Ujang (30) menyebutkan, lokasi yang berada di lereng Gunung Rajabasa membuat wilayah tersebut memiliki kondisi iklim yang cocok untuk penanaman berbagai jenis sayuran. Tingkat kesuburan tinggi sehingga penggunaan bahan kimia hampir tidak diperlukan.

Kondisi tersebut membuat Desa Way Kalam oleh Kementerian Pertanian dijadikan sebagai salah satu sentra pengembangan Desa Organik pada tahun 2016 dan terus dilanjutkan hingga tahun 2017 ini dengan menggunakan berbagai media organik untuk proses penanaman sayuran.

“Kami memang sebagian besar petani karena memang sebagian masyarakat bertanam sayur oleh Kementerian Pertanian dan bekerjasama dengan produsen bibit desa kami dijadikan sentra pengembangan desa organik,”ungkap Anwar Ujang yang menunjukkan beberapa lahan pertanian termasuk tanaman kubis miliknya yang baru ditanam dan diberi lanjaran bambu.

Anwar Ujang yang ditemui Cendana News pada Minggu (5/2/2017) menyebutkan, pengembangan desa organik tersebut diantaranya dimulai dari proses sosialisasi, pengolahan tanah hingga pasca panen. Pelatihan yang diberikan kepada petani diantaranya proses penggunaan pupuk organik serta tidak menggunakan bahan kimia.

Anwar salah satu petani di Desa Way Kalam yang ikut terlibat dalam pengembangan desa organik

Jenis pupuk yang digunakan diantaranya pupuk kompos, pupuk kandang dan media penanaman sebagian menggunakan campuran kompos, coco peat (serbuk sabut kelapa) serta campuran bahan lainnya yang bersumber dari bahan organik.

Sebagai bentuk kerjasama sekaligus pendampingan ungkap Anwar, sebagian besar petani mendapat bibit secara cuma-cuma dari produsen bibit. Setelah berbagai jenis tanaman sayur tersebut menjadi indukan dan menghasilkan benih untuk bibit, hasilnya dibeli oleh perusahaan yang berperan sebagai mitra dengan harga yang lebih baik dibanding jika dijual dalam bentuk sayuran konsumsi.

Konsep kemitraaan tersebut juga berlaku pada jenis komoditas tertentu, diantaranya jahe gajah yang merupakan bahan baku pembuatan obat.

“Namun khusus untuk jahe sebagian petani sempat mengeluh karena hasilnya kurang maksimal dengan harga berkisar Rp2ribu per kilogram dan belum memberi keuntungan bagi petani,”keluh Anwar.

Hasan salah satu petani yang melakukan penanaman mentimun sebagai bibit

Petani lain yang menjalin kemitraan dengan pengembangan desa organik melalui Kementerian Pertanian dan produsen benih diantaranya Hasan (35). Memiliki lahan seluas satu hektar, sebagian digunakan untuk budidaya tanaman cabai merah, cabai rawit serta ketimun. Proses penanaman dilakukan tanpa menggunakan bahan kimia dan pemupukan menggunakan pupuk organik.

Disebutkan, pada saat ketimur umur 20 hari setelah tanam dan mulai berbunga, disiapkan proses penyerbukan. Setelah berbuah ketimun tersebut dibiarkan tua dan matang.

“Kerjasama dengan perusahaan bibit memang untuk diambil benihnya, jadi menunggu tua dan setelah dikeringkan menjadi benih hasilnya kami jual ke perusahaan kembali sehingga harga jualnya lebih lumayan dibanding menjual mentimun di pasar,”ungkap Hasan.

Konsep kemitraan tersebut ungkap Hasan telah berjalan selama hampir setahun, khusus untuk tanaman ketimun ia mengaku benih kering yang telah didapatnya sebanyak 1 kilogram dihargai Rp360ribu. Ia mengaku pada musim tanam kali ini dengan kondisi angin yang kencang cukup mengganggu penyerbukan sehingga ia memagari lahan tanaman ketimunnya dengan jaring.

Penanaman buncis, serta jenis sayuran lain dengan bahan organik tanpa penggunaan bahan kimia

Selain tanaman jenis ketimun, beberapa petani yang diajak bermitra dengan Kementerian Pertanian melalui perusahaan penyedia benih diantaranya jenis tanaman terong, tanaman buncis serta tanaman sayuran lain. Selain mengembangkan tanaman yang ditanam dengan kemitraan di desa organik, sebagian petani masih bisa melakukan proses penanaman sayuran jenis lain untuk dijual ke pasar sebagai sumber pemasukan bagi warga yang tinggal di lereng Gunung Rajabasa tersebut.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Baca Juga
Lihat juga...