Keakraban Anggota IMPALA UB Terbentuk di Alam Tanpa Kekerasan

SELASA 7 FEBRUARI 2017
MALANG—Berawal dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, sejak tanggal 29 Mei 1976 Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMPALA) resmi berdiri sebagai oraganisasi pencinta alam Universitas Brawijaya (UB). Dengan berlandaskan Resosil (Rekreasi, olahraga, sosial, ilmiah), IMPALA UB hingga kini terus eksis menjaga kelestarian alam.
Tim IMPALA Universitas Brawijaya: Mencintai Alam Tanpa Kekerasan.
“Aktivitas kami terbagi menjadi dua yaitu kegiatan sosial ilmiah yang meliputi lingkungan, kemanusiaan maupun aksi-aksi sosial lainnya. Yang kedua yakni kegiatan olahraga alam bebas seperti arung jeram, panjat tebing, penelusuran gua dan yang terakhir gunung hutan,” jelas seksi operasional, Ediwasito saat ditemui Cendana News di sekretariat IMPALA UB.
Beberapa waktu yang lalu IMPALA UB juga baru saja melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di daerah dusun Brau kota Batu. Disana para pencinta alam ini turut membantu mengatasi permasalahan di daerah tersebut yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai peternak Sapi. 
“Kebetulan di dusun Brau mayoritas penduduknya berternak sapi, sehingga terbentuklah limbah dari kotoran sapi yang sebenarnya jika dimanfaatkan dengan baik bisa dijadikan sebagai bahan baku untuk bio gas. Tidak hanya itu, di sana kami juga membantu masyarakat mengolah susu sapi untuk dijadikan produk turunan dari susu sapi seperti dodol, sehingga dapat menambah nilai ekonomis dari susu sapi yang tentunya juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” terangnya.
Selain itu IMPALA UB juga sering berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon yang sempat dilakukan di kawasan waduk Selorejo dan juga melakuan analisa sosial. Bahkan pada tahun kemarin, delapan anggota IMPALA UB berangkat ke Pulau Dangar, Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk melakukan analisa vegetasi. Dari hasil analisa tersebut, Edi menyebutkan bahwa selai didominasi hutan bakau, ternyata di Pulau Dangar juga terdapat tanaman Centigi yang merupakan tumbuhan endemik di daerah tersebut.
Bukan hanya itu, kecintaan IMPALA UB terhadap alam juga diwujudkan dengan selalu mengagendakan untuk memungut sampah setiap kali mereka mendaki gunung.
Kegiatan konservasi. 
“Jangan pernah meninggalkan apapun kecuali jejak, Jangan pernah mengambil apapun kecuali foto, jangan pernah membunuh apapun kecuali waktu. Itu yang harus di tanamkan saat kita berpergian ke alam. Jadi saat kita berpergian ke alam, jangan kita hanya mengambil senangnya aja, tetapi juga harus memberikan balasan kepada alam yaitu dengan cara tidak meninggalkan sampah atau merusak alam,” tuturnya.
Menurutnya, dengan semakin seringnya mereka mengadakan kegiatan di alam, hal tersebut justru akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan dan bisa membentuk keakraban yang terbentuk di alam di antara para angota IMPALA UB.
Lebih lanjut Edi menerangkan bahwasannya proses recruiment anggota IMPALA UB biasanya diadakan di semester ganjil. Alur pendaftarannya di mulai dari technical meeting, pemberian materi dalam forum, persiapan dan pemantapan, kemudian mempraktekkannya dikampus, baru selanjutnya terjun kelapangan untuk mengikuti Diklat.
“Biasanya pada saat pendaftaran kita akan menanyakan kepada calon pendaftar, apa mereka memiliki riwayat sakit tertentu atau tidak. Kami juga bekerjasama dengan poliklinik untuk pengecekan kesehatan dan surat keterangan sehat tersebut sudah harus ada sebelum berangkat Diklat,” terangnya. “Sebelum ke lapangan para calon anggota IMPALA UB juga kami bekali dengan materi pertolongan pertama gawat darurat. Disamping itu di kepanitiaan juga ada bagian kesehatan,” tandasnya.
Disebutkan, selama mengikuti Diklat, para calon anggota IMPALA UB ini hanya mempraktekkan semua materi yang telah didapat sebelumnya dalam forum dan sudah di uji cobakan di kampus sebelum dipraktekkan di lapangan. Materi-materi tersebut diantaranya berupa materi navigasi darat, rapling, prusikking, packing perlengkpan apa yang harus mereka bawa, perencanaan menu makanan yang akan mereka bawa, serta materi melatih kekompakan.
“Sebelum berangkat ke lapangan kita sudah harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang seperti menyiapkan perlengkapan keselamatan dan kesehatan, makanan cadangan maupun alat komunikasi. Kita harus bisa mengantisipasi resiko yang mungkin akan terjadi,” tuturnya.
Sementara itu, Edi menolak dengan tegas jika ada yang beranggapan bahwa selalu ada kekerasan di setiap kegiatan pencinta alam. Karena di IMPALA UB sendiri tidak ada yang namanya kekerasan. Kegiatan fisik memang ada tapi tidak sampai kontak fisik.
“Aktifitas fisik di IMPALA UB hanya sebatas olahraga, lari, push up. Itu pun kita lihat kemampuan mereka dan juga kita kasih batasan, kalau memang  mereka tidak kuat ya sudah, tidak kami paksa. Pokoknya di IMPALA UB tidak ada yang namanya main fisik atau kekerasan di setiap kegiatan apapun,” tegasnya. 
Sementara itu menanggapi masalah kekerasan yang terjadi pada pecinta alam di Universitas Islam Indonesia (UII), mahasiswa semester delapan Fakultas Teknologi Pertanian UB ini mengaku turut berduka atas meninggalnya sesama anggota pencinta alam di UII, namun begitu kami meminta kepada masyarakat jangan menganggap pencinta alam itu sama semuanya, karena harus di lihat juga nilai positif yang ada di pecinta alam.
“Kami berduka, tapi jangan menganggap semua pencinta alam itu kasar karena kami di IMPALA UB memang sama sekali tidak melakukan kekerasan. Pada dasarnya kami tidak setuju adanya kontak fisik atau kekerasan dalam kegiatan pencinta alam karena masih ada cara lain selain menggunakan kekerasan,” pungkasnya.
Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq

Komentar