Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta, Pusat Edukasi Masyarakat

JUMAT, 3 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Sebagai salah satu wahana edukasi sekaligus pusat pengembangan pohon pisang di Indonesia, Kebun Plasma Nutfah Pisang (KPNP) yang ada di Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta, setiap hari tak pernah sepi pengunjung. Selain kerap dikunjungi warga yang ingin membeli bibit pisang, KPNP ini juga banyak dikunjungi pelajar maupun akademisi yang ingin mempelajari pengembangan pohon pisang.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto, menunjukkan bibit pisang hasil kultur jaringan.

Didirikan atas gagasan Ibu Tien Suharto, Kebun Plasma Nutfah Pisang telah ada sejak tahun 1988 silam. Dibangun di atas lahan seluas 19.525 meter persegi, KPNP ini memiliki berbagai fasilitas pengembangan pohon pisang. Mulai dari tempat pembibitan dan penyilangan varietas pisang berupa laboratorium kultur jaringan, laboratorium olahan, laboratorium holtikultura, hingga lahan penanaman berbagai macam jenis varian pisang.

Kebun Plasma Nutfah Pisang sendiri sampai saat ini tercatat memiliki 346 jenis varian pisang. Hal itu membuat kebun Plasma Nutfah Pisang ini tercatat sebagai kebun pisang terlengkap yang ada di Indonesia bahakan Asia Tenggara. Berbagai varian pohon pisang baik bibit unggulan, hingga pohon pisang hias terdapat di sini. Baik itu pohon pisang asal Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua bahkan pisang asal Amerika Selatan dan Afrika.

“Selain menjadi pusat pengembangan pohon pisang, Kebun Plasma Pisang ini juga menjadi pusat edukasi atau pusat belajar masyarakat mengenai segala hal tentang pohon pisang. Mulai dari jenis-jenisnya, cara penanaman dan perawatannya, hingga proses pembibitan maupun penyilangan pohon pisang itu sendiri,” ujar Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto, yang menaungi KPNP ini.

Tak hanya kerap dikunjungi rombongan pelajar tingkat dasar seperti TK dan SD, Kebun Plasma Nutfah Pisang ini juga menjadi lokasi tujuan utama pelajar tingkat menengah baik SMA atau SMK untuk magang atau Praktik Kerja Lapangan (PKL). Di KPNP inilah para pelajar ini mempraktikkan ilmu yang mereka dapatkan dari pelajaran teori di sekolah secara langsung di lapangan.

“Setiap bulan selalu ada pelajar SMA/SMK yang magang dan belajar tentang kultur jaringan di sini. Mereka berasal dari berbagai sekolah menengah khususnya jurusan perkebunan atau pertanian yang tersebar dari berbagai daerah seperti Kulonprogo, Bantul, Sleman hingga Klaten dan Magelang,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan bibit pisang sendiri, Kebun Plasma Nutfah Pisang dikatakan terus melakukan upaya pengembangan bibit pisang dengan proses kultur jaringan yang dinilai lebih efektif. Selain itu penelitian kultur jaringan juga terus dilakukan untuk menyilangkan varian-varian pohon pisang demi mendapatkan bibit pohon pisang unggul.

“Jenis varian pisang unggulan yang paling banyak digemari adalah jenis raja bagus. Pisang ini merupakan pengembangan varian pisang raja. Namun rasanya lebih manis. Selain itu ada pula pisang seribu yang buahnya bisa memanjang sangat banyak,” ujarnya.

Pengembangan atau penambahan bibit-bibit pisang baru di Kebun Plasma Nutfah Pisang sendiri saat ini terkendala keterbatasan lahan maupun tenaga pengelola. Pasalnya lahan yang ada saat ini dinilai sudah tidak cukup untuk menampung tambahan bibit pisang baru. Sementara perluasan lahan juga belum memungkinkan dilakukan karena secara otomatis harus disertai penambahan tenaga pengelola.

“Semestinya memang harus ada lahan penanaman yang diistirahatkan atau tidak ditanami selama beberapa waktu. Ini untuk mengembalikan kondisi tanah agar bisa maksimal saat ditanami. Namun karena lahan yang tersedia di sini terbatas kita hanya bisa mengistirahatkan lahan sebentar saja. Karena memang untuk menambah lahan baru agak sulit. Belum lagi soal tenaga pengelola yang juga sangat minim,” ujarnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar