Kehangatan Racikan Kopi Rempah Ala ‘LegiPait’

MINGGU, 12 FEBRUARI 2017

MALANG — Berawal dari kegemaran menikmati kopi bersama dengan teman-temannya, dua orang sahabat Nova Ruth dan Donny Hendrawan memiliki ide untuk membuat sebuah warung kopi sebagai tempat berkumpul. Berlokasi di sebuah bangunan kuno yang berada di sudut jalan Pattimura, tepatnya di depan hotel Helios kota Malang, dua orang sahabat tersebut akhirnya memutuskan mendirikan usaha warung kopi (warkop) “LegiPait”.

Kopi Rempah

“Nama Legi Pait sendiri berasal dari bahasa Jawa yakni Legi yang berarti manis dan Pait yang berarti Pahit. Seperti kehidupan, kadang manis kadang pahit begitu juga dengan rasa kopi ada yang suka pahit tapi ada juga yang suka manis,” jelas pengelola LegiPait, Nini kepada Cendana News.

Meski pemilik Legi Pait sendiri, Nova Ruth tidak tinggal di Indonesia tetapi warkop yang berdiri sejak 23 Juni 2011 tetap bertahan hingga sekarang. LegiPait menawarkan berbagai varian minuman kopi yang memiliki cita rasa khasnya masing-masing. Dari sekian banyak pilihan, nama kopi rempah menjadi daya tarik tersendiris untuk mencoba kenikmatan sekaligus melihat secara langsung peracikan kopi rempah oleh barista (peracik kopi) LegiPait.

Sesuai dengan namanya, kopi yang satu ini diracik dengan berbagai campuran rempah-rempah seperti kapulaga, kayu manis dan cengkeh di dalamnya. Aroma wangi biji kopi seketika langsung tercium bersamaan dengan aroma khas rempah-rempah usai sang barista menuangkan air panas kedalam gelas berisi bubuk kopi kasar dan rempah.

Fandi, salah satu Barista meracik kopi rempah

Selain aroma yang membuatnya berbeda dengan kopi pada umumnya, perpaduan berbagai rempah dengan takaran yang pas juga memberikan sensasi tersendiri di lidah dan kehangatan di tenggorokan saat dinikmati.

“Perpaduan rempah-rempah tersebut memiliki khasiat yang berbeda-beda. Misalnya kayu manis pada kopi rempah dapat memberikan perasaan tenang bagi penikmatnya. Sedangkan kapulaga dan cengkeh mampu menghadirkan sedikit rasa pedas di lidah sekaligus hangat di tenggorokan,” ungkap Nini.

Sselain kopi rempah, LegiPait juga menghadirkan kopi Late, Capucino dan kopi Tubruk yang kesemuanya berasal dari biji kopi lokal dari daerah Malang. Kopi-kopi tersebut dibandrol dengan kisaran harga 8-18 ribu Rupiah.

Konsep tempat tongkrongan bernuansa  kekeluargaan menjadi salah satu kunci LegiPait selalu ramai pengunjung dan mampu terus bertahan hingga sekarang. Meskipun hanya menyediakan kurang lebih 30 kursi, tetapi setidaknya ada 70-80 pengunjung yang datang setiap harinya secara bergantian.

Dengan konsep tersebut tidak heran jika LegiPait saat ini  tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati secangkir kopi saja tetapi juga menjadi wadah berkumpulnya berbagai komunitas yang ada di Malang. Bahkan per bulan November 2016 yang lalu, LegiPait mebuka tempat baru yakni LegiPait 2 di daerah Sanan.

“Sengaja kita mengusung konsep tersebut agar mereka yang datang kesini bisa merasa lebih nyaman berada di LegiPait karena merasa seperti berada di rumahnya sendiri,” terangnya.

Setiap hari Senin, LegiPait  juga memiliki agenda rutin yakni ‘Blue Monday’, dimana dalam acara tersebut band maupun musisi Malang yang berpotensi diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan di LegiPait.

“Kebetulan pemilik LegiPait sendiri yakni Nova Ruth juga seorang musisi, tapi sekarang  tinggalnya di Barcelona bersama dengan suaminya.,” jelas Nini.

Sementara itu, menanggapi banyaknya bermunculan warung kopi maupun cafe baru di Malang, Nini lebih memilih untuk tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut. Bahkan ia mengaku senang dan tidak merasa bersaing dengan mereka, karena menurutnya rejeki sudah ada jatahnya masing-masing.

“Tidak perlu khawatir, karena semua sudah ada rejekinya masing-masing,” ujarnya tenang.

Nini (kana) bersama crew LegiPait

Selain menyediakan bermacam varian kopi, LegiPait juga menyediakan berbagai jenis minuman dan juga makanan. LegiPait buka setiap hari pukul 07.00-13.00 WIB, setelah itu tutup dan buka lagi jam 16.00-24.00 WIB.

Jurnalis : Agus Nurchaliq / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq

Komentar