Kelezatan Cokelat Ikut Sejahterakan Petani Kakao di Lampung

228
SABTU, 11 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Kopi cokelat atau dikenal dengan kakao (Theobroma Cacao L) menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Lampung Selatan. Sebagian besar petani pekebun di wilayah Gunung Rajabasa menjadikannya sebagai sebuah investasi. Masyarakat setempat menjadikan sebagai tanaman sela yang dipadukan dengan berbagai tanaman lain, termasuk kopi jenis arabica (coffea arabica) dan robusta (coffea canephora). 
Zainal dengan tanaman cokelat miliknya
Salah seorang warga, Zainal Abidin (51) menyebutkan, ia mulai menanam kakao sejak lima tahun lalu. Bibit dibelinya dari persemaian atau pedagang bibit keliling. Dalam penanaman, ia menerapkan sistem multy purpose trees (MTPS) atau dikenal dengan tumpang sari. Tanaman kopi cokelat berbaur dengan berbagai jenis pohon bernilai ekonomis lainnya seperti jengkol, durian, petai serta kelapa.
Zainal Abidin menjelaskan, dibandingkan pembibitan sendiri, bibit yang dibeli lebih terjaga kualitas bibit, hasil penanaman juga lebih bagus.
“Cokelat ini kan tanaman yang bisa dijadikan penghasilan harian atau mingguan jadi saya pilih bibit berkualitas dan bersertifikat saat penanaman awal, namun saat akan melakukan penanaman di lahan baru saya juga tetap melakukan pembibitan sendiri dari pohon yang saya tanam,”ungkap Zainal Abidin warga Desa Rawi Dusun Sawung Kuring Kecamatan Penengahan saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (11/2/2017).
Tanaman cokelat miliknya ditanam di lahan kaki Gunung Rajabasa yang sangat cocok untuk budidaya. Daerah perbukitan dengan intensitas cahaya yang tidak terlalu banyak, pertumbuhannya akan lebih baik dibandingkan dengan daerah yang langsung lebih terpapar sinar matahari. Di lahannya, saat usia sekitar tiga tahun, sudah berbuah dan bisa dipanen. 
Kopi hitam, raoti panggang dan milkshake cokelat yang bisa dinikmati di kedai kopi pacar hitam
Dikatakan, panen dengan pengumpulan setiap hari dirinya bisa memperoleh 5 hingga 10 kilogram kakao basah per hari dan dikumpulkan, setelah terkumpul 100 kilogram baru dijual ke pengepul. 
Kendala yang dihadapinya diantaranya, hama yang kerap membuat produktifitas menurun. Lalat penggerek buah, bajing bahkan kerontokan daun selama musim berangin dan hujan menjadi momok yang menakutkan. Namun dengan perawatan dan pemeliharaan yang intensif Zainal mengaku masih bisa menikmati hasil dengan harga di pengepul saat ini berkisar Rp20.000 hingga Rp24.000 dengan kondisi dan kualitas kadar air yang rendah setelah proses penjemuran.
Kakao Menjadi Penghasilan Tambahan Para Petani
Penjualan komoditas cokelat yang ditanam oleh Zainal juga dirasakan beberapa petani lain, diantaranya Rohman (34) warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Rohman mengaku budidaya cokelat memiliki pasang surut terutama soal harga. Musim panen raya harga mencapai Rp40.000 hingga Rp50.000 perkilogram. Namun saat panen dalam jumlah yang cukup minim harga justru hanya berkisar dari Rp20.000 hingga Rp24.000. 
Proses penjemuran kakao
Selama ini menurut Rohman, hasil penjualan komoditas cokelat menjadi penghasilan tambahan bagi petani di samping penghasilan utama sebagai petani sawah.
“Kalau boleh dibilang menanam cokelat bisa dijadikan penghasilan sampingan meski kita telah memiliki pekerjaan dan sebagian menanam cokelat untuk investasi hari tua,”terang Rohman.
Setelah tanaman cokelat yang ditanam berumur cukup tua sebagian besar petani di wilayah tersebut selalu rutin melakukan peremajaan dengan tujuan produktifitas kakao meningkat. Beberapa petani yang memiliki tanaman cokelat luas mampu menghasilkan buah dengan rata rata per bulan mencapai 50-100 kilogram dan dijual ke pengepul yang ada di beberapa kecamatan di Lampung Selatan.
Sementara itu, salah seorang pengepul hasil bumi khususnya cokelat, Joni Effendi (30) warga Desa Banjarmasin Kecamatan Penengahan mengungkapkan, ia sudah menekuni usaha jual beli cokelat beberapa tahun lalu. Mempekerjakan sebanyak empat karyawan membuat usahanya semakin berkembang.
Joni Effendi pengepul cokelat di Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan
Joni Effendi yang rajin berkeliling ke beberapa kecamatan untuk membeli kopi cokelat dari petani mengaku saat ini harga cokelat sedang berada di posisi Rp20.000 hingga Rp24.000. Namun demikian petani kopi cokelat di wilayah tersebut diakuinya sudah cukup sejahtera dengan bisa menjual cokelat tanpa harus menjual ke wilayah lain. Sebagai pengepul cokelat yang menggantungkan sumber pasokan dari petani, ia mengaku saat ini petani petani di wilayah Lampung Selatan masih mengembangkan kakao dengan cara tradisional dan masih dijadikan tanaman sampingan.
“Prospek masih terbuka karena penggunaan dan permintaan untuk berbagai bahan produk makanan terus mengalir dan kami para pengepul tetap membeli dari para petani,”terang Joni Effendi.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.