Kembangkan Teknologi Prebiotik, Titiek Apresiasi Mina Karya 1 Sleman

MINGGU, 19 FEBRUARI 2017

SLEMAN — Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto mengapresiasi upaya kelompok Mina Karya 1 yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan hasil produksi. Petani menerapkan budidaya ikan lele sistem terpal, dengan memanfaatkan teknologi terbaru hasil pengembangan mereka sendiri, yakni bakteri prebiotik dan pupuk fermentasi.

Titiek Soeharto memberi makan ikan di kolam lele kelompok Mina Karya 1

“Bagus sekali, ini harus terus dikembangkan dan disebarluaskan pada kelompok pembudidaya lain maupun masyarakat secara luas,”kata Titiek saat melihat langsung penggunaan kedua teknologi tersebut di salah satu kolam iklan lele milik Pondok Pesantren Masyidul Hadi di dusun Plosokuning III, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Sabtu (18/2/2017).

Dikatakan, pemanfaatan dan pengembangan teknologi kelompok Mina Karya 1 tersebut diharapkan dapat diadopsi oleh pembudidaya lainnya, sehingga dapat meningkatkan hasil produksi.

“Yang pada akhirnya akan menambah penghasilan para pembudidaya. Kita siap membantu jika dibutuhkan,” katanya.

Sementara itu, Pengelola kelompok pembudidaya ikan Mina Karya I, Muhammad Abdul Nasir menjelaskan, pengembangan teknologi  prebiotik dan pupuk fermentasi tersebut dimulai sejak enam tahun lalu. Berawal dari coba-coba, dan sempat mengalami kegagalan berulang kali, ia akhirnya mampu membuat sebuah teknologi untuk meningkatkan hasil produksi petani.

Pengelola kelompok pembudidaya ikan Mina Karya I, Muhammad Abdul Nasir

Dijelaskan, bakteri prebiotik dibuat untuk mengelola air agar ikan selalu dalam kondisi sehat dan maksinal dari sisi pertumbuhan. Sementara pupuk fermentasi diberikan untuk menekan harga pakan, yang diharapkan akan dapat meningkatkan hasil panen yang diperoleh para petani. Salah satu yang membedakan kolam ikan lele dengan memanfaatkan teknologi ini adalah warna airnya yang berbeda-beda setiap kolamnya.

“Perbedaan warna ini disebabkan tingkat akumulasi jumlah pakan atau pelet yang diberikan. Awalnya saat masih tebar benih dengan jumlah intensitas pemberian pelet rendah, air kolam berwarna hitam. Setelah ikan remaja dengan pemberian pelet meningkat, air akan berwarna hijau. Biasanya berwarna merah saat sudah dewasa atau siap panen,” ujarnya.

Dijelaskan, kelebihan penerapan teknologi diantaranya air kolam yang tidak menimbulkan bau sama sekali, menekan biaya pakan serta meningkatkan konversi pakan. Jika biasanya 1 kilo pakan pelet hanya mampu menghasilkan 8-9 ons daging, maka dengan teknologi ini, 1 kilo pakan pelet bisa menghasilkan hingga 1,2 kilogran daging.

“Sistemnya sama dengan budidaya lele menggunakan teknik terpal biasa. Tanpa menggunakan air mengalir. Hanya diberikan pupuk fermentasi saja seminggu sebelum tebar benih. Biasanya per 1.000 benih butuh dua karung pupuk. Sementara bakteri prebiotiknya butuh satu bungkus,” katanya.

Memanfaatkan lahan seluas 1.600 meter persegi, Nasir mengaku bisa meningkatkan keuntungan dari hasil panen hingga dua kali lipat dari sebelumnya. Yakni dengan waktu panen lebih cepat dibanding biasanya, yaitu selama sekitar kurang lebih 70 hari.

“Dengan pemberian prebiotik dan pupuk fermentasi ini, hasil yang kita dapatkan jauh meningkat, begitu juga dengan keuntungannya. Jika biasanya per 1.000 ekor bibit keuntungan hanya Rp.250ribu, maka dengan teknologi ini bisa meningkat hingga Rp.400 hingga 450ribu,” katanya.

Titiek Soeharto saat meninjau kolam ikan lele kelompok Mina Karya 1

Selain menjual produk teknologi berupa bakteri prebiotik dan pupuk fermentasi, Kelompok Mina Karya 1 sendiri selama ini juga memproduksi bibit ikan lele. Kelompok ini bahkan telah mendampingi puluhan kelompok pembudidaya ikan dari berbagai daerah seperti Gunungkidul, Magelang, Prambanan, Klaten dan berbagai wilayah lainnya.

“Saat ini kita sedang melakukan proses paten teknologi ini. Untuk kendala lebih pada fluktuasi harga ikan. Karena pasar di Jogja ini masih dipengaruhi oleh daerah lain. Namun dengan inovasi teknologi yang kita miliki ini, paling tidak dapat mengurangi dampak kendala tersebut,” pungkas Nasir.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Komentar