banner lebaran

Kemeriahan PBTY, dari Kue Bakcang hingga Ketoprak dan Sholawatan

65
SELASA, 7 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Sejak dibuka secara resmi beberapa hari lalu, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2017 yang dipusatkan di Kampung Ketandan, Jalan Malioboro Yogyakarta, selalu ramai. Ratusan pengunjung memenuhi gang-gang di Kampung Ketandan yang dikenal sebagai kawasan pecinan tertua di Kota Yogyakarta.

Suasana Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2017 yang dipusatkan di Kampung Ketandan, Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Tak hanya dapat menikmati beragam sajian kuliner, pengunjung juga dapat menyaksikan beragam kesenian yang ditampilkan di panggung PBTY. Uniknya, beragam kuliner maupun kesenian itu tak hanya berasal dari budaya Tionghoa saja, namun juga dari budaya daerah di seluruh Indonesia.

Ketua Umum PBTY 2017, Tri Kirana Muslidatun, sebelumnya menyatakan, penyelenggaraan PBTY ke-12 ini memang mengangkat tema Pelangi Budaya Nusantara. Melalui tema itu PBTY ingin menunjukkan kuatnya rasa toleransi dan kebersamaan masyarakat, maupun akulturasi budaya di kawasan Ketandan yang terpelihara sejak dulu hingga saat ini.

Digelar selama 7 hari hingga 11 Februari mendatang, PBTY 2017 ini menampilkan sebanyak 134 stan kuliner. Mulai dari makanan khas Tionghoa seperti mie babi, bakcang, kue keranjang, lontong cap go meh, hingga beragam kuliner modern lainnya seperti bakso bakar, es dalam tabung gas, dan sebagainya.

Tak hanya itu, PBTY 2017 ini juga menggelar berbagai kegiatan mulai dari lomba naga barongsai, pertunjukan tari dan musik tradisional Tionghoa, lomba pidato bahasa Mandarin, pertunjukan sulap, paduan suara, hingga modern dance. Selain itu, ada pula kesenian berupa ketoprak, tari rodat, kesenian lLampung, kesenian Papua, tari klasik tradisional Jawa, kesenian Melayu, lelang kaligrafi, tari golek bahkan hingga sholawatan bersama.

Salah seorang pengunjung, Aini, asal Godean, Sleman, mengaku tertarik mengunjungi Pekan Budaya Tionghoa ini karena hanya digelar setahun sekali. Di acara inilah ia mengaku bisa mencicipi berbagai masakan kuliner khas Tionghoa yang banyak dijual.

“Kebetulan pas ke Malioboro. Jadi sekalian mampir ke sini. Pengen nyobain kulinernya. Sekalian foto-foto,” ujarnya.

Salah satu gerobak kuliner khas Tionghoa.

Pada penyelenggaraan PBTY tahun ini, panitia memang juga menyediakan sejumlah spot foto dengan latar belakang rumah kuno khas Tionghoa yang ada di kampung pecinan Ketandan. Rumah bernuansa Tionghoa ini dicat dengan warna mencolok yakni merah dan kuning emas sebagaimana warna keberuntungan yang biasa dipakai kaum Tionghoa.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.