Kisah Jatuh Bangun Budidaya Jamur Mukhlis

1.534
KAMIS 9 FEBRUARI 2017

PONOROGO—Mukhlis (27 tahun) warga Dusun Tempel, Desa Turi, Kecamatan Jetis lebih memilih menekuni usaha penjualan bibit jamur. Alumnus dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo ini bahkan kini menjabat sebagai ketua asosiasi jamur di Ponorogo. Kecintaannya dan fokusnya terhadap usahanya ini sukses membawanya sebagai petani jamur.
Mukhlis dan produksi jamurnya. 
Usahanya ini ia tekuni sejak  2008 lalu, di mana saat menjadi murid di Pondok Ar Risalah, salah satu studi bandingnya belajar bagaimana budidaya jamur di Sragen. Dari situ, muncul ide usaha membuat bibit jamur.
“Saat ini saya menjual bibit jamur tiram dan jamur kuping,” jelasnya kepada Cendana News saat ditemui di lokasi, Kamis (9/2/2017).
Bermula dari usahanya ini, banyak masyarakat sekitar tempat tinggalnya tertarik dan mulai beralih menjadi petani jamur. Bahkan desanya didapuk menjadi desa wisata agrobudaya. Karena selain warganya banyak yang menjadi petani jamur juga terdapat warga yang membuat kerajinan tangan khas reog, seperti ganongan, reog dan kendang.
“Kalau di Dusun Tempel ini, ada sekitar 25 orang petani jamur, di sini juga dikenal sebagai sentra industri jamur tiram,” ujarnya.
Untuk satu baglog (media tanam jamur.red) lengkap sudah diisi dengan bibit jamur, Mukhlis menjual satu baglog dengan harga Rp22 ribu jika pesan baglog diatas 500 baglog, maka menjadi Rp 21 ribu.
“Saya sekarang tengah mengerjakan pesanan bibit jamur dari petani Ponorogo, Madiun, Magetan, dan Surabaya,” tuturnya.
Dalam menjalankan usahanya ini ia dibantu tujuh orang karyawannya, dimana ada yang bertugas mengisi baglog dan ada yang bertugas mengisi benih jamur serta ada yang bertugas mengoven jamur didalam suatu ruangan.
“Kalau ada yang pesan bibit jamur harus menunggu tiga minggu, karena pesanan kami sedang banyak sekali,” terangnya.
Menurut Mukhlis, saat ini di Ponorogo terdapat 15 petani jamur besar yang membawahi 300 petani jamur kecil. Dalam satu hari produksi jamur tiram di Ponorogo hanya mampu 6-7 kwintal per hari. Padahal untuk kebutuhan Ponorogo sendiri diperlukan 1-2 ton per hari. Setiap petani jamur yang membeli bibit jamur dari Mukhlis, bisa langsung memetik hasilnya sekitar tiga minggu. Untuk setiap baglog sendiri, bisa dipanen 4-5 kali dan paling banyak menghasilkan 0,5 kilogram jamur.
“Saya berharap kedepan semakin banyak petani jamur di Ponorogo, supaya kebutuhan pasar untuk jamur tiram bisa terpenuhi,” cakapnya.
Selain fokus dengan usahanya ini, Mukhlis juga tengah fokus menggarap desa wisata agrobudaya, dimana baglog yang sudah tidak terpakai bisa digunakan sebagai media perkembangbiakan cacing, untuk di Dusun Tempel ini saja sudah ada tujuh petani cacing.
“Dari petani cacing nantinya juga bisa didapatkan kascing (pupuk kotoran cacing.red) yang bisa menyuburkan tanaman, jadi baglog ini tidak terbuang percuma,” tukasnya. Biasanya, lanjut Mukhlis, pupuk kascing paling bagus digunakan untuk pupuk papaya California.
Usaha yang ditekuni Mukhlis selama hampir delapan tahun ini, tidak berarti tidak ada masalah. Mukhlis mengakui sempat mengalami jatuh bangun saat membangun usahanya. Bermula pada 2008 saat membuka usaha, Namun pada 2011 ia mengalami kebangkrutan dan usahanya sempat terhenti selama tiga bulan. Dia bangkit lagi dan pada  2013 ia jatuh lagi, Dia bangkit dan tahun 2014 akhir mengalami kebangkrutan. Pada 2015 bangkit hingga sekarang.
“Penyebab kebangkrutan itu karena faktor cuaca, kalau suhu udara terlalu panas, bibit jamur tidak tumbuh,” katanya. 
Guna menutupi kebangkrutannya, Mukhlis memutar otak, menjalankan bisnis yang lain. Selain itu juga ia belajar ke berbagai pakar jamur yang ada di Indonesia, salah satunya Pak Tri warga Cisarua, Bogor.
“Di laboratorium Pak Tri itulah diketahui penyebab tidak tumbuhnya bibit jamur saya, beruntung beliau tidak pelit ilmu,” pungkasnya. 
Beberapa tenaga kerja Mukhlis. 
Jurnalis: Charolin Pebrianti/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Charolin Pebrianti
Baca Juga
Lihat juga...