KPK Periksa Susilo, Pejabat Kementan sebagai Saksi Kasus Dugaan Korupsi

106
SENIN, 13 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini dijadwalkan akan melakukan pemeriksaan sebagai saksi terhadap Susilo yang tak lain adalah Direktur Perlindungan Holtikultura Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia di Gedung Baru KPK Jakarta, Senin (13/2/2017).

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah.

Demikian pernyataan resmi yang diterima para awak media secara langsung dari Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di Gedung Baru KPK Merah Putih, Jakarta. Susilo rencananya dijadwalkan akan diperiksa sebagai saksi HI atau Hasanuddin Ibrahim yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai seorang tersangka oleh penyidik KPK.

Hasanuddin Ibrahim belakangan diketahui pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Holtikultura Kementrian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia dengan masa jabatan selama 5 tahun atau satu periode, yaitu sejak 2010 hingga 2015.

“Susilo rencananya akan dimintai keterangan sebagai saksi oleh penyidik KPK sebagai saksi untuk tersangka HI atau Hasanuddin Ibrahim, mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Holtikultura Kementrian Pertanian (Kementan) RI, terkait kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dalam proyek pengadaan fasilitas pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2013,” kata Febri Diansyah, di Gedung Baru KPK Merah Putih, Jakarta, Senin siang (13/2/2017).

Penyidik KPK juga akan memeriksa tersangka lainnya dalam kasus dugaan Tipikor proyek pengadaan fasilitas pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), yaitu  Eko Mardiyanto. Eko Mardiyanto adalah seorang pejabat pembuat Komitmen Direktorat Jenderal (Ditjen) Holtikultura Kementerian Pertanian (Kementan) RI tahun 2013.

Penyidik KPK setidaknya telah menetapkan 3 orang tersangka dalam kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi proyek pengadaan fasilitas pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Masing-masing di antaranya adalah HI atau Hasanuddin Ibrahim, kemudian EM atau Eko Mardiyanto, dan Sutrisno yang berasal dari pihak swasta.

Penyidik KPK menduga bahwa tersangka Hasanuddin Ibrahim dan Eko Mardiyanto telah menyalahgunakan wewenang dan jabatannya. Keduanya diduga sengaja menggelembungkan anggaran dalam proyek pengadaan fasilitas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di Kementan RI.

Seharusnya, proyek pengadaan fasilitas OPT tersebut diperkirakan hanya menghabiskan anggaran sekitar 8 miliar rupiah. Namun ternyata proyek OPT tersebut belakangan digelembungkan hingga mencapai 18 miliar rupiah sehingga proyek OPT di Kementan RI tersebut telah merugikan anggaran negara sebesar 10 miliar rupiah.

Jurnalis: Eko Sulestyono / Editor: Satmoko / Foto: Eko Sulestyono

Baca Juga
Lihat juga...