Krisis Air dan Solusi Pertanian Lahan Basah di NTT

324

JUMAT, 3 FEBRUARI 2017

MAUMERE — Air menjadi salah satu kebutuhan vital bagi manusia. Bukan hanya dikonsumsi namun bagi para petani lahan basah, ketersediaan air merupakan harga mati. Sawah tanpa cukup air, gagal panen sudah pasti menghadang.

Areal persawahan di Dusun Koro, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda.

Minimnya air merupakan sebuah persoalan serius bagi para petani lahan basah khususnya di sentra-sentra areal persawahan di Kecamatan Magepanda, Mego, Paga, Waigete dan Talibura. Meski tidak semua wilayah kecamatan di Kabupaten Sikka ini memiliki lahan sawah.

Robertus Ngole, petani Dusun Koro, Desa Reroroja, saat ditemui Cendana News di areal persawahannya Jumat (3/2/2017) mengeluhkan ketersediaan air yang minim saat musim kemarau melanda Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dikatakan Robertus, bila debit air dari mata air menurun, para petani terpaksa begadang agar bisa mendapatkan air. Kadang terjadi pula pertengkaran antarpetani akibat berebut air untuk mengairi areal sawah masing-masing.

“Bila air debitnya kurang maka kami harus begadang supaya saat sawah lainnya sudah dialiri cukup air, maka kami akan menutup saluran air ke sawah tersebut agar bisa mengaliri areal persawahan kami,” terangnya.

Debit Air Menurun
Pertanian lahan basah dan kering di Kabupaten Sikka, bila dilihat memang berbeda jauh hanya sekitar 30 persen petani saja yang menggarap lahan basah sebab kontur tanah yang berbukit dengan kemiringan sekitar 30 derajat menyebabkan lahan sawah hanya terjadi di daerah rata di sekitar pantai saja.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM), Carolus Winfridus Keupung yang sudah puluhan tahun bergelut mendampingi petani saat ditemui Cendana News di kantornya, Kamis (2/2/2017) menjelaskan, beberapa persoalan pertanian lahan basah yang terjadi di mana-mana, yakni terjadi akibat kekurangan air saat musim panas.

“Kejadian ini berdampak kepada perebutan air antarpetani dan ini akan semakin parah bila musim kemarau panjang sehingga tak heran bila sawah di Kecamatan Magepanda banyak yang hanya produksi setahun sekali atau dua kali saja setahun,” ungkapnya.

Sumber mata air di Kabupaten Sikka, sebut Win, sapaannya, banyak yang mengalami penurunan debit yang disebabkan karena areal hutan di sekitar mata air semakin berkurang akibat perambahan hutan dan penggundulan. Usaha yang harus dilakukan menurutnya adalah bagaimana melakukan konservasi terhadap mata air dengan upaya peningkatan aktivitas di sekitar mata air untuk menambah debit air. Harus ada suatu gerakan membangun keseimbangan hulu dan hilir.

“Keadilan hulu dan hilir harus terjadi sehingga jangan sampai orang di hilir yang menikmati air hanya cuma mengeluh saja tanpa ada upaya yang dilakukan meningkatkan debit mata air,” tuturnya.

Peraih penghargaan Pelopor Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka ini mengakui, tidak ada kontribusi nyata petani di hilir bagi meningkatnya debit mata air dan masyarakat yang menjaga areal mata air. Win melihat ada ketimpangan perhatian pemerintah antara pertanian lahan basah dan lahan kering. Proyek-proyek yang masuk ke areal pertanian lahan basah sangat luar biasa sementara yang masuk ke areal lahan kering sangat terbatas.

“Padahal petani di sekitar mata air merupakan petani lahan kering dan mereka menyatakan areal itu merupakan kawasan yang dikelola mereka sehingga terjadilah perang di sana, akibat tidak adanya satu kepastian areal mata air itu,” jelasnya.

Di banyak tempat, beber pendiri WTM ini, terjadi pengelolaan areal pertanian sampai di bibir mata air namun hal ini tidak terjadi di Kabupaten Sikka dan hampir semua wilayah pertanian di provinsi NTT.

Perlu Dijaga Keseimbangan
Pembedaan antara petani lahan basah dan lahan kering harusnya perlahan demi perlahan dihilangkan. Pemerintah selama ini lebih banyak mencurahkan tenaga, pikiran dan bantuan bagi petani lahan basah saja. Hal ini yang harus dijaga, tegas Win, perlu dibangun keseimbangan perhatian antara petani lahan basah dan lahan kering, antara hulu dan hilir untuk mendorong petani di sekitar mata air menjaga mata air, tidak masuk merambah hingga ke dekat mata air.

Selain itu, sambung Win, persoalan ketergantungan terhadap sarana produksi pertanian dari luar. Ketika melihat petani lahan basah, di areal persawahan sangat kental dengan aspek kimiawi sementara banyak persoalan di areal sawah yang tidak bisa diselesaikan dengan konsep kimiawi.

“Kami di WTM menawarkan konsep pertanian organik baik di areal lahan basah maupun lahan kering agar ketergantungan petani terhadap pihak luar akan berkurang bahkan tidak ada lagi,” ungkapnya. Alumni Politani Kupang ini melihat bahwa semua komoditi dianalisa dengan urusan ekonomi dan tidak ada suatu pemisahan yang jelas antara membangun kedaulatan pangan  dan membangun ekonomi petani.  Dengan demikian, lanjutnya, semua komoditii diukur dengan nilai ekonomi. Misalnya jagung, ada petani yang tidak mau menanam benih jagung yang dibagikan karena jagungnya cepat rusak kalau disimpan.

“Bila disampaikan seperti ini berarti petani tersebut masih melihat jagung sebagai urusan pangan. Bukan bernilai ekonomi meski mereka pun kerap menjualnya kalau membutuhkan uang,” terangnya. Di sisi lain, sebut pendiri WTM ini, pemerintah mendorong pengembangan jagung dengan perhitungan ekonomi sebab bila ditanam hasilnya lebih banyak dan harganya pun lebih mahal sehingga bisa mendatangkan pendapatan lebih bagi petani.

Ada banyak keluhan di banyak tempat, papar Win, misalnya petani lahan kering mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah. Mereka merasa tidak diperhatikan sementara petani lahan basah dimanjakan sejak dari pemberian bibit, pendampingan hingga pupuk dan alat pertanian.

Carolus Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM).

“Petani lahan kering lebih banyak berkembang secara alami dan bila mereka berhasil maka itu sebuah kebanggaan. Beda bila dibandingkan dengan lahan basah yang mana perbandingannya sangat jauh.” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary

Baca Juga
Lihat juga...