Kurang Edukasi, Hari Lahan Basah Sedunia Tak Bergaung

175

KAMIS, 2 FBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Hari ini tanggal 2 Februari, biasa diperingati sebagai Hari Lahan Basah Sedunia. Peringatan ini muncul sejak adanya penanda-tanganan Konvensi Lahan Basah di Kota Ramsar, Pantai Laut Kaspia, Iran, pada 2 Februari 1971, silam. Adanya peringatan Hari Lahan Basah Sedunia ini biasa dijadikan momentum untuk mengkampanyekan pentingnya keberadaan lahan basah, sekaligus upaya pelestariannya. Tetapi, apakah sebenarnya lahan basah itu? 

Kantor Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM Yogyakarta.

Sekretaris Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr. M. Pramono Hadi, M.Sc., menyebut, lahan basah merupakan wilayah-wilayah pertemuan antara daratan dan perairan. Lahan basah memiliki kondisi unik, dengan sebagian atau seluruhnya pada saat tertentu memiliki kondisi kering, namun pada saat tertentu tergenangi air. Lingkungan yang termasuk lahan basah di antaranya rawa-rawa, lahan gambut, muara sungai, hingga daerah pinggiran aliran sungai.

Ekosistem di kawasan lahan basah dikenal memiliki keaneka-ragaman hayati yang sangat tinggi. Memiliki berbagai jenis tumbuhan vegetasi maupun biota hewan di dalamnya. Kawasan lahan basah juga dikenal merupakan lahan yang sangat subur. Selain menjadi kawasan konservasi untuk kepentingan biodiversity sekaligus buffer zone, lahan basah juga biasa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, perikanan, tambak, maupun bidang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Pramono mengatakan, sebagai negara kepulauan yang terdiri dari banyak sekali pulau, Indonesia memiliki kawasan lahan basah yang sangat besar, membentang di sepanjang pantai, muara dan aliran-aliran sungai, termasuk juga lahan-lahan di sejumlah dataran rendah. “Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lahan basah yang sangat luas sekali. Misalnya, di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa sisi barat. Di Meraoke itu sepanjang 200 kilometer hingga pedalaman juga merupakan lahan basah. Belum lagi lahan-lahan gambut di Kalimantan dan di berbagai daerah lainnya di Indonesia,” ujarnya.

Pramono Hadi, Sekretaris Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM Yogyakarta.  

Salah-satu ciri kawasan lahan basah sendiri adalah kondisinya yang sulit atau bahkan tidak bisa dikontrol. Pada saat musim kemarau dapat mengering, sementara pada saat musim hujan akan terjadi banjir dan tergenang. Ini membuat pemanfaatan lahan basah pun mengandalkan musim. Yakni, saat kering biasanya digunakan untuk lahan pertanian, sementara saat tergenang sebagai lahan perikanan.

Meski memiliki kawasan lahan basah yang sangat besar, namun hingga kini masih banyak masyarakat Indonesia kurang menyadari atau bahkan tidak mengetahui potensi kawasan lahan basah itu. Bahkan peringatan hari lahan basah sedunia seperti saat ini pun, seolah tanpa gaung, sebagaimana peringatan hari lingkungan hidup pada umumnya. Ini tidak lepas karena masih kurangnya edukasi yang diberikan terkait lahan basah dengan segala aspeknya kepada masyarakat. “Karena itulah edukasi menjadi sangat penting, agar masyarakat bisa lebih paham, sehingga bisa memanfaatkan, menjaga dan melestarikan kawasan-kawasan semacam ini,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...

Isi komentar yuk