Lahan Sempit Tak Halangi Warga Ketapang Budidayakan Jahe Merah

309
RABU, 15 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Memiliki lahan sempit tak menghalangi warga di Desa Ketapang Laut, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, untuk membudidayakan komoditas pertanian jenis jahe merah (zingiber officinale var rubrum rhizoma). Bagi Budi Kuntarjo (49) yang memiliki usaha bidang perikanan, jual-beli kerang bulu, kerang susu, rajungan dan ubur-ubur bersama istrinya Masnawiyaah (45) ini, peluang usaha apa pun dilakukan asal halal. Juga bisa dikerjakan secara bersamaan tanpa mengganggu usaha lainnya. Jadilah, meski dirinya menekuni usaha bidang perikanan, laki-laki energik tersebut juga melakukan budidaya tanaman rimpang jenis jahe merah. Usahanya pun terbilang sederhana, hanya menggunakan lahan yang tak terlalu luas dan bisa dirawat setelah pekerjaan di usaha pengupasan kerang selesai.

Budi Kuntarjo di antara tanaman jahe merah miliknya.

Laki-laki yang kerap dipanggil dengan nama Budi tersebut menuturkan kepada Cendana News, penanaman jahe merah yang dilakukannya merupakan penanaman kedua kalinya setelah sebelumnya sukses mencoba membudidayakan jahe merah menggunakan polybag sebagai contoh sekaligus bibit. Budi bahkan pada penanaman kedua memanfaatkan sebagian lahan yang sempit di tanah milik mertua untuk areal penanaman jahe merah dengan ukuran 2,5 meter x 3 meter. Disekat menggunakan pagar bambu sebagai penahan media tanam sebanyak 10 petak dengan komposisi yang telah diatur sedemikian rupa, baik media tanam maupun jumlah rimpang yang ditanam.

Budi yang pernah bekerja di perusahaan swasta penampung hasil perikanan nelayan tersebut mengaku, awalnya menanam jahe merah setelah belajar cara menanam jahe merah dari salah satu kelompok tani (poktan) penanam jahe merah di wilayah Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur, yang telah bekerjasama dengan perusahaan jamu. Permintaan yang berkesinambungan dan mudahnya memperoleh bibit membuat sebagian petani penanam jahe merah lebih mudah melakukan penanaman dan memiliki kejelasan soal distribusi atau penampung hasil panen. Sekaligus harga yang relatif stabil, tidak seperti komoditas pertanian lain yang kerap anjlok di saat masa panen tiba.

Diakuinya, jahe merah merupakan salah satu tanaman jenis rimpang yang memiliki banyak manfaat. Pada umumnya, ia mengakui, pangsa pasar jahe merah digunakan sebagai bahan baku obat atau jamu karena khasiatnya yang dipercaya untuk kesehatan dan manfaat lain. Selain sebagai bahan obat, jahe merah kini juga dimanfaatkan sebagai minuman yang dipercaya dapat menambah stamina selain manfaat sebagai obat. Budi mengaku, sebelumnya mendapat tawaran untuk menanam jenis jahe di antaranya jenis jahe gajah, jahe badak, jahe kuning/putih. Namun pilihan dijatuhkan pada jahe merah yang memiliki harga cukup tinggi dengan cara penanaman lebih mudah dan tak memerlukan lahan luas.

“Sebelum menanam jahe saya terlebih dahulu survei ke beberapa tempat dan jenis jahe merah lebih banyak diminati. Selain oleh tengkulak juga oleh pabrik jamu dalam negeri dan sebagian diekspor ke luar negeri,” ungkap Budi saat ditemui Cendana News sedang memeriksa tanaman jahe merah yang berusia sekitar lima bulan di salah satu lahan miliknya di Desa Ketapang Laut, Kecamatan Ketapang, Rabu (15/2/2017).

Pilihan menanam jahe merah, diakui Budi, lebih karena penggunaan lahan yang tak terlalu luas dan hanya memerlukan beberapa bahan organik yang mudah diperoleh di wilayah Ketapang. Beberapa bahan yang mudah didapatkan di antaranya bambu untuk media penanaman, media tanah dicampur kompos kotoran ternak, daun bambu yang sudah dikomposkan, serbuk gergaji kayu serta bonggol jagung maupun campuran tanah dengan komposisi tepat. Selain itu dengan pola penanaman menggunakan media yang tersusun rapi dengan bambu yang disekat-sekat, memudahkan perawatan seperti tanaman lain. Permintaan pasar yang cukup tinggi baik lokal maupun pasar ekspor serta modal awal yang relatif murah.

Budi mengaku untuk membuat dengan  disekat-sekat menggunakan bambu, ia menanam sekitar 2,5 kilogram jahe merah yang disebar di 10 petak bambu yang ada di lahan seluas 10 meter x 20 meter. Sementara lahan sisa digunakan untuk menanam tanaman pisang sebagai peneduh. Sebagai modal awal untuk pembelian bibit serta penyiapan tempat, ia mengeluarkan modal awal sekitar Rp 500.000. Modal tersebut sedikit terbantu dengan bahan-bahan yang bisa disiapkannya tanpa harus membeli. Di antaranya bambu serta pupuk kompos yang diambil dari gudang penggilingan jagung yang menjadi campuran untuk media tanam.

Proses penanaman yang dilakukan tersebut, harus rajin dirawat karena setelah berumur 2-3 minggu bibit jahe merah yang ditanam siap dipindahkan ke media penanaman dengan jarak yang telah ditentukan. Proses perawatan dilakukan dengan melakukan penyiraman secara rutin setiap pagi dan sore hari agar kondisi tanah tetap lembab namun tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.

Setelah bibit jahe merah yang ditanamnya tumbuh, ia melakukan penambahan tanah hingga menutupi rimpang yang mulai keluar. Beberapa tunas yang tumbuh sebagian dipotong untuk mencegah banyaknya tunas dan proses ini dilakukan secara rutin hingga jahe mencapai umur sekitar 10 bulan atau hingga masa panen tiba.

“Sebagian tanaman jahe yang meninggi saya sekat menggunakan bambu agar tidak roboh karena akhir-akhir ini kerap hujan disertai angin jika tidak diberi penopang sekat bilah bambu bisa roboh karena sebagian besar tingginya mencapai satu meter,” terang Budi.

Tergabung dalam kelompok pembudidaya jahe merah di beberapa desa, di antaranya ada yang memiliki lahan satu hektar lebih, Budi mengaku, pada masa panen mendatang, diperkirakan kelompok pembudidaya jahe merah dari wilayah Lampung Selatan dan Lampung Timur akan melakukan panen jahe merah sebanyak 20 ton. Setelah masa panen hasil jahe merah tersebut, rencananya akan dibeli oleh pengepul yang akan langsung melakukan pemasokan ke pabrik jamu di wilayah Tangerang. Sebagaian besar tanaman jahe merah yang dibudidayakan oleh kelompok penanam jahe merah  dilarang menggunakan bahan-bahan kimia karena jahe merah yang akan disetor ke pabrik harus melewati uji laboratorium (uji lab). Sementara jahe merah yang menggunakan bahan kimia dan pupuk kimia dipastikan tidak akan diterima. Anjuran tersebut disosialisasikan kepada penanam jahe merah sejak awal agar tidak kecewa jika jahe merahnya ditolak pabrik karena curang menggunakan bahan kimia.

Budi mengungkapkan, dengan modal sekitar Rp 500.000 ia mengaku dengan rata-rata setiap kotak media penanaman menghasilkan sekitar 100 kilogram, maka ia bisa melakukan pemanenan sekitar 1000 kilogram bahkan bisa lebih dari sebanyak 10 petak yang dimilikinya. Saat ini,  harga jahe merah sudah mencapai harga dari kisaran Rp 24 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram. Dengan dirata-rata satu kilogram seharga Rp 20 ribu ia mengaku, memperkirakan budidaya jahe merah yang saat ini menunggu masa panen mampu menghasilkan sekitar Rp 20 juta. Hasil penjualan jahe merah yang akan ditampung oleh pengepul yang tergabung dalam kelompok budidaya jahe merah direncanakan untuk perluasan lahan tanam pada masa tanam berikutnya.

Sebagai strategi untuk bisa melakukan pemanenan secara kontinyu, ia  menanam jahe merah di kebun miliknya yang lain. Sebab ia mengaku dengan masa panen yang cukup lama, maka ia mengakali dengan menanam jahe merah selang 3 bulan sekali sehingga bisa saat lahan jahe merah yang dipanen di bagian lain juga dirinya masih memiliki lahan jahe merah untuk dipanen. Selain menggunakan media tanam petak bambu, ia mengaku melakukan penanaman jahe merah di sekitar rumah dengan menggunakan polybag dan bekas kertas semen serta memberi bibit kepada warga lainnya untuk ditanam dan dibeli saat masa panen tiba.

“Kelompok penanam jahe merah juga memberdayakan masyarakat dengan memberi bibit dan menanam di pot atau polybag serta imbauan untuk mengurangi penggunaan bahan kimia di tanaman. Jika ada yang berminat menanam dalam jumlah banyak kami juga menyediakan bibit,” tutup Budi.

Jahe merah yang masih berumur muda sebagian digunakan untuk penanaman masa berikutnya.

Upaya yang dilakukan Budi sekaligus menjadi contoh bagi warga sekitar bahwa setiap orang harus pandai memanfaatkan peluang pekerjaan termasuk aset yang hanya sedikit di antaranya tanah. Pemanfaatan waktu luang seperti yang dilakukannya dengan memiliki usaha bidang perikanan tak lantas membuatnya berpuas diri dan masih merambah bidang agro bisnis dengan memanfaatkan lahan terbatas, namun melakukan budidaya tanaman bernilai ekonomis tinggi. Ia bahkan didaulat oleh warga sekitar untuk menjadi contoh dan mengajari warga menanam jahe merah di lahan terbatas sehingga bisa memperoleh hasil yang cukup lumayan dengan pola penanaman yang baik dan tidak menggunakan bahan kimia. Melainkan semua menggunakan bahan organik sesuai permintaan pabrik jamu yang akan dipasok jahe merah.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.