Maksimalkan Hasil Kayu Pokdarwis Way Kalam Buat Kriya Bernilai Tinggi

599

MINGGU, 5 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kawasan Desa Way Kalam mulai mengembangkan wisata berkonsep alam sekaligus memaksimalkan potensi desa yang berada di ketinggian Gunung Rajabasa Kecamatan Penengahan. 

Huruf huruf yang akan digunakan sebagai logo atau lambang dibuat dengan gergaji khusus

Menurut salah satu anggota Pokdarwis, Zakaria (43) dan Anwar Ujang (30) kegiatan Pokdarwis Desa Way Kalam selain mengelola tempat wisata alam Way Kalam juga menekuni kriya kayu yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Zakaria dan Umar mengungkapkan, khusus untuk Pokdarwis Desa Way Kalam, saat ini terdiri dari sekitar 30 orang yang ikut mengelola tempat wisata air terjun Way Kalam dengan pengunjung mencapai ratusan orang setiap hari libur, akhir pekan. Pembagian tugas diantaranya sebagai penjaga parkir, menjaga kebersihan, menyediakan kebutuhan para wisatawan seperti makanan dan minuman ringan.

Meski memiliki tugas rutin, anggota Pokdarwis Desa Way Kalam juga mulai menekuni pembuatan kriya kayu dengan memanfaatkan potensi yang ada di wilayah tersebut, khususnya kayu kayu yang sudah tak terpakai namun memiliki nilai seni.

“Awalnya konsep desa wisata yang ada di lereng Gunung Rajabasa ini memang untuk menarik pengunjung ke air terjun way Kalam, namun kita juga mengembangkan usaha pembuatan souvenir dan kerajinan dari kayu, memperindah plang plang nama jalan dan penunjuk dengan kayu yang memiliki nilai seni,”ungkap Zakaria saat ditemui bersama Umar tengah menyelesaikan proses pembuatan logo dan pesanan kaligrafi di Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (5/2/2017).

Plang nama yang dibuat oleh Pokdarwis Desa Way Kalam dengan kayu

Zakaria mengaku, beberapa warga Desa Way Kalam awalnya belum membentuk kelompok yang mewadahi para pengrajin. Seiring dengan berkembangnya Pokdarwis Desa Way Kalam dan semakin banyaknya pengunjung tempat wisata, beberapa pengrajin sepakat untuk membentuk sanggar atau rumah kerja bersama (workshop) yang ada di tempat tinggal Zakaria.

“Jadilah sekitar enam orang anggota yang memiliki keahlian dalam pembuatan kaligrafi, logo, lukisan serta kesenian lain dari kayu mulai membuat kerajinan tersebut,”sebutnya.

Secara kebetulan, selain aktif dalam kegiatan Pokdarwis Desa Way Kalam sebagian anggota juga aktif dalam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di wilayah Merambung yang juga aktif dalam pembuatan kerajinan kriya kayu.

Beberapa anggota diantaranya memiliki keahlian dalam pembuatan vas bunga dari kayu, asbak dari kayu, wayang kayu, logo, papan atau plang nama serta seni yang agak rumit diantaranya lukis sketsa wajah serta pembuatan ukir kaligrafi semuanya terbuat dari kayu.

“Kita keahliannya beda beda tapi sebagian mulai saling berbagi ilmu sehingga pekerjaan bisa dilakukan secara bersama sama dan kita kerjakan secara kelompok terutama saat ada pesananan yang banyak,”ungkap Anwar yang juga terlihat sibuk memotong logo dengan gergaji khusus.

Kesibukan di lokasi workhshop kerajinan kriya kayu

Beberapa orang yang terlibat dalam pembuatan kriya kayu tersebut menurut Anwar diantaranya Zainal Abidin, Saiun Alm, Sarjuni, Saifuloh dan keduanya. Sebagian warga yang sehari hari memiliki profesi sebagai pekebun, petani dan juga tukang bangunan membuat aktifitas pembuatan kerajinan kriya kayu dikerjakan saat malam hari secara bersama sama.

Beruntung dengan adanya perhatian dari Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Lampung Selatan kelompok tersebut mendapatkan bantuan beberapa alat untuk proses pengerjaan kerajinan. Alat yang diminta sesuai proposal kelompok tersebut diantaranya jigsaw, amplas, mesin potong, mesin bor duduk, gergaji ukir.

Alat alat  tersebut memudahkan pengerjaan untuk beberapa item kerajinan, namun ada juga yang membutuhkan waktu lama seperti ukiran kayu, logo, tergantung tingkat kerumitan dan jenis yang dibuat.

“Kita sedang mengerjakan logo Kabupaten Lampung Selatan serta beberapa logo lain termasuk Menara Siger yang dibuat pola terlebih dahulu, desainnya memang rumit namun alat yang kita miliki sudah lengkap sehingga bisa kita selesaikan dengan baik,”ungkap Anwar.

Beberapa pesanan lain diantaranya lambang Garuda Pancasila dari kayu yang dipesan oleh pemesan dengan jumlah sekitar 10 buah dengan harga rata rata Rp300.000 untuk ukuran sedang. Sementara itu untuk kerajinan kayu dengan konsep bisa digunakan sebagai vas bunga dan hiasan meja dijual dengan harga Rp50.000 hingga Rp100.000 perbuah tergantung tingkat kerumitan pembuatan. Sementara itu kriya kayu yang cukup rumit pengerjaannya diantaranya seni ukir kaligrafi. Proses pembuatan yang rumit, butuh ketelitian dan kesabaran tersebut membuat karya seni ukir kaligrafi dihargai mulai dari Rp100.000 hingga Rp1juta.

Uang hasil penjualan tersebut ungkap Anwar akan dimasukkan ke kas kelompok untuk pembelian bahan serta pengembangan kelompok diantaranya pembelian alat serta keperluan lain. Beberapa pesanan yang berasal dari wilayah Kecamatan Penengahan serta kecamatan lain selama ini telah dikerjakan.

Sementara untuk hasil kaligrafi dan kerajinan lain sebagian dijual di lokasi tempat wisata way Kalam dan rencananya akan dijual di toko khusus yang ada di tempat penjualan souvenir di masjid Kubah Intan Kalianda.

Bahkan saat ini terang Anwar, kelompok kerajinan kriya kayu yang ada di Pokdarwis Desa Way Kalam tengah mendapat penilaian untuk bisa diterima sebagai kelompok yang bisa mengisi dan menjual kerajinan tangan tersebut di toko souvenir yang ada di masjid Kubah Intan Kalianda.

Meski sudah banyak mendapat pesanan dan mengerjakan ratusan karya seni namun ia mengaku masih menunggu keputusan dan penilaian resmi agar kelompok tersebut bisa menjual karya seninya di lokasi yang sudah disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan di Masjid Kubah Intan Kalianda.

Selain dipasarkan di sekitar lokasi wisata Way Kalam, dengan banyaknya pesanan dari wilayah lain ke depan pemasaran produk produk kriya kayu berupa logo, papan nama, lambang instansi serta kerajinan lain akan dipasarkan di luar daerah sesuai pesanan.

Hasil karya kriya kayu kaligrafi yang dipajang (dok Pokdarwis Way Kalam)

Selain hasilnya bisa dimanfaatkan anggota kelompok ungkap Anwar  dengan adanya geliat dan ketekunan Pokdarwis mengolah barang barang kerajinan akan semakin mengembangkan Pokdarwis Desa Way Kalam sebagai kelompok yang aktif dalam pemberdayaan masyarakat di sekitar tempat wisata.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.