Matakin: Jaga Kerukunan, Pikirkan Dulu Sebelum Diucapkan

93
SABTU, 4 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Perayaan hari raya tahun baru imlek 2568 Kongzili tingkat Nasional, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) menyelenggarakan kegiatan di Teater Bhinneka Tunggal Ika, Taman Mini Indonesia Indah. Serangkaian acara ditampilkan untuk menghibur pengunjung yang hadir, mulai dari bazar rakyat yang menyajikan kuliner pedagang kaki lima, mengundang anak- anak jalanan dan fakir miskin, penampilan Barongsai, Wushu Perguruan Genta Suci, hiburan musik, pentas seni, hingga penampilan musik anak – anak jalanan.  
Pergelaran Barongsai
Uung Sendana, Ketua Umum Matakin menjelaskan, dalam perayaan Imlek tahun ini kepanitiaan melibatkan dari seluruh perwakilan wilayah di Jakarta mulai dari bazar hingga kesenian yang ditampilkan dalam acara tersebut. 
“Tidak hanya itu, kepanitiaan juga melibatkan perwakilan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia seperti dari Kalimantan, Sumatera, karena perayaan ini merupakan hari peribadatan yang dilakukan malam nanti pada pukul 23.00 WIB, Sembahyang Kepada Tuhan Yang Maha Esa,”sebutnya di TMII, Sabtu (4/2/2017).
Tema untuk tahun ini “Junzi Lambat Bicara, Tangkas Bekerja” dipilih  karena melihat kondisi bangsa Indonesia. Saat ini terjadinya persoalan-persoalan karena apa yang kita ucapkan tanpa dipikirkan terlebih dahulu. 
“Padahal seorang Junzi, seorang yang beriman dan berbudi luhur itu didalam mau berkata-kata dia selalu lambat atau kadangkala seperti gagap, artinya memang dia selalu memikirkan apa yang di ucapkan itu tidak sembarangan dikarenakan dia tahu konsekuensi ucapan yang dia ucapkan akan berdampak besar,”jelasnya. 
Bazar
Selain itu sesuatu yang diucapkan dari seorang Junzi merupakan janji yang artinya di dalam agama Konghucu dikatakan bahwa satunya kata dan perbuatan adalah jalan suci, sempurnanya kata dan perbuatan merupakan Iman, jadi yang namanya kata-kata itu memang benar-benar harus difikirkan, ditata, dan keluar dari dalam diri yang merupakan firman Tuhan. Seorang Junzi mempunyai sifat seperti itu, dan tangkas bekerja.
Masyarakat juga mulai sekarang harus bisa membedakan mana yang hoax, mana yang sekedar isu, diharapkan untuk lebih bijak. Tidak hanya itu, untuk mereka mereka yang menebarkan isu agar untuk sekarang ini ada baiknya lebih mementingkan bangsa dan negara.
“Tema yang diambil tahun ini yang merupakan tahun ayam api itu melambangkan suasana kedamaian, walaupun memang sekarang ini terlihat gesekan gesekan, namun kita dapat bicarakan dengan baik tidak hanya dengan berkotek saja sehingga menciptakan kerukunan yang harmonis,” Jelasnya.
Acara perayaan imlek tahun ini mengundang anak anak jalanan bekerjasama dengan jaringan-jaringan lintas iman. Tujuan mengundang anak-anak jalanan ini untuk memberikan kesempatan kepada mereka menikmati hiburan maupun permainan di Taman Mini yang tidak mereka dapat seperti anak anak lainnya. 
Di tahun baru ini, diharapkan seluruh masyarakat mempererat rasa persatuan, serta kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan.
“Inti dari acara Perayaan Imlek setiap tahunnya yakni kepedulian terhadap sesama, menciptakan kerukunan beragama, dan membangun bangsa,”katanya lagi.

Jurnalis: M. Fahrizal / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto: M. Fahrizal

Baca Juga
Lihat juga...