banner lebaran

Mbah Joko, Tukang Pembuat Andong Khas Yogya Bergelar Sarjana

309

JUMAT, 10 FEBRUARI 2017

 BANTUL — Meski telah berusia 68 tahun, Joko Narwanto atau akrab disapa Mbah Joko tampak masih begitu cekatan melakukan pekerjaannya sebagai seorang pande atau pembuat andong. Ditemui di bengkelnya, Dusun Kertopaten, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, Jumat (10/02/2017) sore, ia tampak tengah sibuk mendandani sebuah kereta andong milik pelanggannya, seorang diri.

Joko Narwanto atau akrab disapa Mbah Joko.

Tanpa kesulitan, ia melepas sebuah besi penopang yang rusak, membakarnya pada tungku api, meluruskannya dengan cara dipukul-pukul, lalu memasangnya kembali. Meski masih menggunakan peralatan tradisional yang serba manual, Mbah Joko tak sedikit pun mengeluh. Di usainya yang telah senja, ia tetap menjalankan pekerjaanya sehari-hari itu dengan penuh kesungguhan dan dedikasi tinggi.

Sepintas, orang mungkin akan mengira Mbah Joko hanyalah seorang tukang pembuat andong biasa, sebagaimana tukang-tukang lainnya. Namun, ternyata, Mbah Joko adalah sosok tukang yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Selain berprofesi sebagai tukang pembuat andong, ia ternyata  juga merupakan seorang pensiunan pegawai negeri sipil, yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Pemerintahan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, lulus tahun 1974 dengan gelar Drs.

Terlahir dari seorang bapak yang juga berprofesi sebagai tukang pembuat andong, Mbah Joko mengaku, sudah terbiasa bekerja keras sejak masih muda. Sejak SMP, ia sudah mulai diminta membantu bapaknya membuat andong pesanan di bengkel setiap kali pulang sekolah. Selepas lulus SMA ia juga harus nyambi sebagai kusir andong di Pasar Beringharjo untuk membiayai kuliahnya.

“Dulu bapak saya itu sebenarnya meminta saya agar tidak usah sekolah sampai tinggi-tinggi. Tapi saya tetap ingin kuliah, walaupun harus membiayai kuliah sendiri dengan jadi kusir andong dan bantu bapak saya di bengkel,” ujar warga asli Kotagede, Yogyakarta, ini.

Setelah lulus kuliah, menikah, dan menjadi PNS, Mbah Joko tak serta merta meninggalkan pekerjaanya sebagai pembuat andong. Terlebih dari 9 saudaranya, hanya Mbah Joko saja yang sejak awal membantu bapaknya meneruskan usaha pembuat andong hingga akhirnya menjadi generasi penerus sampai sekarang.

“Dari 10 bersaudara, memang hanya saya sendiri yang meneruskan usaha bapak saya sebagai pembuat andong sampai sekarang. Sebenarnya  dulu ada satu saudara saya yang juga membuka usaha pembuatan andong, tapi tidak jalan dan akhirnya tutup,” katanya.

50 tahun lebih menggeluti usaha pembuatan andong, nama Mbah Joko memang telah banyak dikenal di kalangan para kusir andong. Banyak pelanggannya tak hanya berasal dari DIY saja, namun juga hingga ke luar daerah, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jawa Barat, dan Jakarta. Ia bahkan kerap kali mendapat pesanan kereta kencana untuk wisata dari luar negeri, seperti Amerika, Australia, Belanda, hingga Korea.

“Saya hanya khusus membuat kereta roda 4 saja. Seperti andong wisata atau kereta kencana,” ujarnya.

Satu buah andong, dikatakan Mbah Joko, bisa selesai dibuat dalam kurun waktu sekitar 1,5-2 bulan. Semua proses pembuatan andong itu hampir seluruhnya ia kerjakan sendiri dengan dibantu seorang anaknya. Mulai dari memproses besi lonjoran untuk dibuat kerangka dengan ditempa secara manual hingga memproses kayujJati mentah menjadi chasis dan bodi kereta andong.

Proses paling lama dan sulit membuat andong dikatakan adalah proses membuat shok atau per, yang terbuat dari potong-potongan besi tipis yang dilengkungkan, ditumpuk lalu dibuat bertangkupan. Setelah pembuatan per selesai, proses selanjutnya adalah pembuatan besi untuk kontrol kemudi. Dilanjutkan pembuatan chasis dan bodi dari kayu dan terakhir baru pembuatan roda.

“Semua bahannya mayoritas dari besi dan kayu jati. Hanya atap dan alas duduk yang dari plastik sehingga memang mahal. Tapi karena bahan-bahanya memang bagus, makanya bisa awet sampai puluhan tahun. Ini andong pertama yang saya buat tahun 1974, sampai sekarang, setelah 40 tahun lebih juga masih bagus. Saya ingat betul zaman itu harganya masih Rp 55.000,” katanya sambil menunjuk andong yang tengah ia servis.

Kini harga satu unit andong sendiri dikatakan Mbah Joko berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Sementara untuk kereta kencana jauh lebih mahal, yakni hingga Rp 600 juta per unitnya. Dalam satu tahun sendiri, Mbah Joko mengaku bisa mendapat pesanan hingga 16 unit kereta andong. Sementara pesanan kereta kencana sangat langka dan jarang ada.

“Memang yang paling sering andong wisata. Dibanding dulu-dulu, juga ramai sekarang, apalagi sejak Yogya banyak dikunjungi wisatawan. Karena itu, selain membuat pesanan saya juga menerima servis reparasi. Banyak pelanggan yang dulu buat andong di sini, setiap servis juga pasti di sini,” katanya.

Mbah Joko sendiri mengaku tetap mempertahankan profesinya sebagai tukang pembuat andong, meski telah menjadi PNS, lebih dikarenakan rasa cinta. Selain nguri-uri budaya ia juga melakukan itu untuk meneruskan profesi bapaknya.

“Kalau tidak dilanjutkan, pembuat andong di Yogya nanti lama-kelamaan hilang dan tidak ada lagi . Karena sampai sekarang juga tinggal sedikit sekali,” katanya.

Mbah Joko saat membuat rangka andong.

Mbah Joko sendiri berharap, usaha turun-temurun keluarga itu nantinya bisa diteruskan oleh salah satu dari ke 5 anaknya. Sehingga pembuat andong khas Yogya masih dapat dipertahankan dan tidak hilang begitu saja.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.