banner lebaran

Media Online Belum Konsisten Jalankan Fungsi Pers

58

KAMIS, 9 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Banyaknya media berbasis online yang bermunculan saat ini dinilai belum secara konsisten menjalankan fungsi pers sebagai agen perubahan. Tak sedikit media online dibuat untuk keperluan tertentu, tanpa mempertimbangkan sisi profesionalitas maupun kredibilitas baik secara kepengurusan maupun produk-produk informasi yang dihasilkan.

Dr. Lukas S Ispandriarno, MA.

Padahal media online dinilai menjadi salah satu pilar penting, disamping media mainstream baik cetak maupun elektronik dalam menjalankan fungsi-fungsi pers khususnya di era yang serba digital seperti saat ini. Hal itu diungkapkan Pakar Komunikasi dan Pengamat Media, Dr. Lukas S Ispandriarno, MA, di Yogyakarta, Kamis (09/02/2017).

“Perkembangan media online memang sangat pesat. Ini sebagai akibat kebebasan pers. Namun, pertanyaamnya, seberapa jauh media online ini keredibel dan profesional. Memang saat ini masih terbatas. Produk jurnalistiknya juga kalah dibanding media mainstream. Karena lebih mengandalkan kecepatan, sementara akurasi kurang. Selain juga lebih mengangkat sensasi. Artinya fungsi pers sebagai agen perubahan masih kurang,” kata Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, ini.

Melihat fenomena banyaknya berita hoax yang sering muncul saat ini, media online dengan kapasitasnya dinilai memiliki peran penting dalam menjadi penjernih berita hoax ataupun sumber rujukan bagi masyarakat. Yakni dengan menyuguhkan produk-prduk informasi sesuai kaidah-kaidah jurnalistik yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.

Banyaknya berita hoax yang muncul beberapa waktu belakangan, dinilai terjadi sebagai salah satu dampak perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Setiap orang dengan mudah dapat menyampaikan informasi melalui berbagai media berbasis internet. Ketidaktahuan masyarakat pengguna internet terhadap prinsip kerja jurnalistik, membuat berbagai informasi yang tersebar itu tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Mestinya media online dapat menjadi sumber rujukan bagi masyarakat dalam menyikapi berita hoax di media sosial. Tapi, sayangnya, tak sedikit media online justru menyuguhkan informasi yang hampir sama dengan yang ada di media sosial. Mestinya memang harus kredibel, harus cover both side. Kalau masih sama saja, tentunya akan sulit menjadi penjernih berita hoax,” katanya.

Lukas sendiri menilai, perlunya semacam asosiasi atau orgasisasi bagi lembaga pers khusus untuk media online. Karena sampai saat ini asosiasi semacam itu belum ada. Dengan adanya naungan semacam asosiasi ini, media online akan dapat menata dan memperbaiki dirinya. Misalnya untuk lebih berpegang pada pedoman atau kaidah profesi. Sehingga produk-produk jurnalistik yang dihasilkan media online pun akan semakin baik.

“Selain itu juga perlu dipikirkan apakah Pedoman Media Cyber yang sudah ada itu bisa dikembangkan atau tidak. Karena di luar negeri, pedoman seperti kode etik jurnalistik itu dibuat secara rinci. Misalnya, dijelaskan secara detail untuk memberitakan berita LGBT itu harus bagaimana dan sebagainya. Kita sebenarnya sudah ada, meskipun belum kuat dan belum rinci. Bahkan belum semua mengetahui dan mengikutinya,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.