Menjaga Resapan Air, Berarti Menjaga Kelangsungan Hidup Anak dan Cucu

325

KAMIS, 2 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Memiliki lahan basah di wilayah aliran air dan cekungan dengan sumber air yang melimpah, merupakan berkah bagi warga Desa Pasuruan, Lampung Selatan, Hartanto (30) dan keluarganya. Bagaimana, tidak? Di saat beberapa warga lain mengeluh kekurangan air akibat kemarau panjang dan sebagian harus membuat sumur bor berkedalaman 30-40 meter, khususnya di wilayah Desa Klaten dan Desa Pasuruan serta desa-desa lainnya, bagi Hartanto semua kesulitan itu tidak berlaku.

Hartanto

Menurut Hartanto, berdasarkan sejarah wilayahnya sejak sang ayah tinggal, wilayah tersebut merupakan daerah yang ditumbuhi oleh pepohonan sagu dan nipah dengan beberapa rawa-rawa air tawar yang ditumbuhi pepohonan besar seperti gondang, aren serta beberapa tumbuhan air. Seiring perkembangan zaman, wilayah itu berubah menjadi kampung dengan sejumlah bangunan yang didirikan di beberapa bagian.

Pembangunan yang sebagian menggunakan proses penimbunan, penggusuran kawasan tangkapan air, bahkan mata air, membuat sebagian rawa-rawa yang ada di wilayah tersebut kini hilang dan tak terlihat lagi. Perubahan itu juga terjadi dengan adanya aliran sungai alami yang sebagian sudah berubah menjadi saluran-saluran permanen menggunakan semen, sehingga beberapa sumber mata air tertimbun dan warga mengalami kesulitan untuk mencari mata air, kecuali warga yang masih tinggal di area cekungan atau dikenal dengan ‘ledok’, yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan air dan menjadi lokasi pemancingan, karena ledok tersebut juga menjadi habitat ikan gabus, lele dan nila.

“Kebutuhan akan perumahan dengan cara menguruk menggunakan batu dan tanah, berimbas pada lahan-lahan basah atau dikenal dengan rawa atau ledokan di sini semakin habis, dan kolam-kolam alami berubah menjadi kolam-kolam permanen. Tapi, oleh keluarga kami tetap dipertahankan, meski dengan kolam sederhana dan juga sumur seadanya, tapi airnya jernih dan tak terlalu dalam,” ungkap Hartanto, saat ditemui Cendana News di sela kesibukannya mengambil air dengan timba, karena sumber mata air yang dijadikannya sebagai belik atau sumber ari hanya sedalam 2 meter, pada Kamis (2/2/2017).

Hartanto yang akrab dipanggil Hartek, bahkan memiliki beberapa kolam alami dan kolam permanen dengan banyaknya mata air yang menjadi sumber bagi proses keberlangsungan kolam untuk budi-daya ikan air tawar tersebut. Selain itu, keberadaan kolam yang tetap mengalir sepanjang waktu ke sungai dan sekaligus menjadi penyokong sumber mata air sumur kecil yang ada di dekat kolam itu, untuk keperluan mandi, mencuci dan kebutuhan air bersih lainnya tetap mengalirkan air selama musim kemarau.

Faktor masih bertahannya mata air di wilayah tersebut, menurutnya, selain lokasi yang berada di cekungan, juga karena beberapa pohon jenis gondang, wungu, aren serta jenis pohon bambu masih dipertahankan oleh masyarakat sebagai penahan dari kekeringan serta kehabisan sumber air.

Hartanto masih mengingat, kearifan lokal masyarakat dalam menjaga sumber mata air diakuinya dengan mempertahankan beberapa pohon besar sebagai sumber air yang memiliki sumbangsih bagi ketersediaan air bersih. Oleh sebagian tetua kampong, beberapa pohon tersebut bahkan dilarang ditebang sebagai pohon larangan, karena di bawahnya menyembul mata air yang menjadi sumber air bagi sungai-sungai kecil di alirannya seperrti Sungai Way Asahan yang menuju Sungai Way Pisang.

“Kalau petuah kakek dan para tetua kampung sebelumnya, menjaga tuk atau sumber air merupakan sebuah warisan untuk anak-cucu, sehingga perlu dipertahankan. Kalau tidak ada air, kita tidak bisa hidup,” ungkapnya.

Sumber mata air yang ada di wilayah tersebut, oleh sebagian masyarakat bahkan dimanfaatkan untuk pembuatan kolam-kolam ikan air tawar. Sebagian membentuk kelompok budi-daya ikan air tawar dengan ikan yang dipelihara merupakan ikan-ikan untuk dikonsumsi sendiri, maupun ikan untuk dijual kembali di antaranya ikan lele, mujahir, nila serta ikan jenis air tawar lainnya. Selain menggunakan air untuk pembuatan kolam tanah, beberapa warga menggunakan air dari sumber di wilayah tersebut dengan membuat kolam pemancingan serta membuat kolam terpal plastik.

Melimpahnya sumber air di wilayah itu, diakui Hartanto membuat sebagian warga tidak perlu membuat sumur dengan menggali cukup dalam. Sebagian warga justru membuat belik atau sumber mata air yang selanjutnya dipompa ke dalam bak-bak penampungan atau tandon air, untuk dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk pengairan lahan pertanian, meski di beberapa wilayah lain air menjadi sumber kebutuhan yang sangat mahal dan terpaksa harus membeli.

“Kalau kita menyadari keberlangsungan siklus air tak lepas dari peranan manusia menjaga alam dan lingkungan, maka kita tidak akan pernah kesulitan air. Daerah resapan air yang dijaga dengan tidak menebang pohon otomatis akan mempertahankan keberlangsungan air untuk kebutuhan saat ini dan masa mendatang,” ungkap Hartanto.

Beda Wilayah, Beda Cerita
Hartanto yang tinggal di kaki Gunung Rajabasa dengan wilayah cekungan dan daerah resapan air yang luas dan memudahkan masyarakat mencari sumber air, tak berlaku di wilayah Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan. Wilayah perbukitan dengan sumber-sumber mata air yang telah hilang akibat bukit-bukit yang telah ditebangi dan tidak memiliki daerah resapan air dan tangkapan air, membuat ratusan masyarakat harus terpaksa membeli air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Jasa cabang Bakauheni, maupun dari penjual air dengan tangki-tangki keliling.

A. Roni, Manager Operasional PDAM Tirta Jasa Cabang Bakauheni.

Hal demikian diungkapkan oleh Manager Operasional PDAM Tirta Jasa Cabang Bakauheni, A. Roni, yang mengungkapkan, jika saat musim kemarau kebutuhan air bersih bagi sekitar 500 pelanggan harus disuplai oleh perusahaan penyedia air tersebut. Saat ini, sepanjang musim hujan diakuinya tempat penampungan air yang bersumber dari mata air Gunung Rajabasa mampu menampung sebanyak 1.500 kubik air bersih untuk pasokan air bersih. “Tetap kita mengalami kesulitan saat musim kemarau panjang, karena sebagian besar masyarakat Bakauheni bergantung dari pasokan air bawah tanah yang kita suplai dari mata air di Gunung Rajabasa,” ungkap Roni.

Roni mengatakan, pentingnya menjaga pasokan air berkaitan erat dengan upaya masyarakat di sekitar hutan lindung Gunung Rajabasa, untuk mempertahankan pepohonan di wilayah tersebut. Adanya daerah tangkapan air (catchment area) akan mendukung keberlangsungan sumber air yang digunakan bagi ratusan masyarakat, termasuk oleh perusahaan-perusahaan pelayaran di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.

Roni juga tidak menampik, jika masyarakat yang memiliki modal cukup, membuat sumur bor di wilayah Bakauheni merupakan sebuah pilihan untuk pasokan air. Namun, biaya yang mahal sekitar Rp. 15-20 Juta untuk sekali pembuatan sumur bor dengan kedalaman 75 meter, membuat sebagian masyarakat tidak memiliki biaya, sehingga memilih berlangganan air bersih dari PDAM. Meski kerap mengalami kekurangan air bersih pada tahun-tahun sebelumnya, namun pihak PDAM hingga kini belum menjajaki untuk pencarian mata air baru. Pasalnya, saat ini pasokan air sudah terpenuhi. Hanya saja, Roni menghimbau agar air bersih yang saat ini melimpah bisa digunakan secara bijak oleh masyarakat.

“Kita masih belum memiliki budaya menabung air, terutama saat musim penghujan. Padahal, dengan membuat sumur-sumur resapan, membuat bak-bak penampungan bisa digunakan saat musim kemarau,” terangnya.

Sepanjang 2016 hingga awal 2017, diakui Roni debit air yang hanya mencapai 3 liter per detik, dan kini mencapai 25 liter per detik, akan terus dipertahankan dengan melakukan perawatan di instalasi pipa serta sumber air di hutan lindung. Perawatan dilakukan dengan pemeriksaan jalur pipa serta melakukan pengawasan di sekitar hutan lindung, agar tidak ada perusakan pepohonan di wilayah tersebut. Sebab, kebutuhan akan air sangat penting bagi kehidupan.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Baca Juga
Lihat juga...