Nelayan Mulai Ngebabang, Permintaan Solar di Muara Piluk Menurun

213

MINGGU, 19 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Puluhan nelayan di dermaga muara Piluk Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni mulai melakukan aktifitas ngebabang di wilayah perairan Barat Lampung akibat kondisi perairan Timur Lampung tidak bersahabat dan jumlah tangkapan ikan mulai menurun. 

Membeli bahan bakar untuk melaut

Salah satu nelayan Sunding (30) pemilik jenis kapal bagan congkel di Dusun Muara Piluk mengaku akan melakukan aktifitas ngebabang sejak Minggu (19/2/2017) ke wilayah perairan Barat dan membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk dipergunakan sebagai bekal selama beberapa hari.

Sunding menyebutkan, aktifitas ngebabang tersebut tidak dilakukan rutin melainkan menjadi aktifitas yang sesekali dilakukan saat kondisi hasil tangkapan dalam kondisi tidak menguntungkan sehingga terpaksa harus pergi melaut ke wilayah perairan lain.

Ngebabang menurutnya merupakan sebutan dan aktifitas yang masih rutin dilakukan oleh nelayan yang ada di sekitar Perairan Timur Lampung. Ngebabang berarti pula nelayan ada di Bakauheni yang melaut berhari-hari dan kemudian menjual hasil tangkapannya ke daerah lain dan paling cepat 15 hari baru pulang ke rumah membawa uang bagi keluarganya.

“Sebelum ngebabang kita membeli bahan baku solar di SPBN karena di wilayah dermaga Muara Piluk memiliki satu unit tempat penjualan bahan baku solar yang akan kita gunakan untuk melaut selama beberapa hari,”ungkap Sunding saat ditemui di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan di dermaga Muara Piluk Bakauheni, Minggu (19/2/2017).

Seperti proses ngebabang pada tahun sebelumnya, setelah beberapa hari mencari ikan, Sunding tidak kembali ke dermaga Muara Piluk Bakauheni melainkan langsung bersandar di pelabuhan lain, dermaga tradisional Bom Kalianda.

Aktifitas ngebabang layaknya berspekulasi karena dalam kondisi cuaca mendukung dan musim ikan jenis tertentu seperti ikan selar, tongkol, kembung serta jenis ikan lainnya bisa diperoleh dengan jumlah ratusan kilogram.

Namun terkadang hasil yang diperoleh pun tidak sesuai harapan, belum lagi hasil itu harus dibagi empat orang yang ditaksir kalau diuangkan hanya kurang dari 50 ribuan . Tak sebanding dengan waktu dan biaya pengeluaran untuk melaut.

Bakar ikan sebelum melaut

Sunding mengaku saat ngebabang tersebut terkadang dirinya tidak memperoleh tangkapan yang banyak, entah faktor apa, ikan-ikan sulit dijaring meski ia dan kawan-kawannya sudah pergi jauh di tengah laut. Nasibnya tak berubah dari hari ke hari bahkan lebih buruk akibat kondisi cuaca yang tidak menguntungkan bagi para nelayan yang melaut.

Sejumlah nelayan yang ngebabang merupakan nelayan yang siap mengambil resiko dan memiliki cukup modal sementara bagi nelayan tradisional yang tak memiliki modal cukup memilih beristirahat dan tidak melaut.

Aktifitas ngebabang dan sebagian nelayan yang tak melaut tersebut berdampak pada penjualan bahan bakar minyak (SPBN) Aneka Kimia Raya (AKR). Catur Udiyanto pengelola SPBN Muara Piluk mengaku permintaan solar yang menurun.

“Meski beberapa nelayan melakukan aktifitas ngebabang namun permintaan tidak banyak dan masih tersedia stok cukup banyak di bulan ini padahal pada masa normal kami sampai kehabisan stok,”terang Catur.

Beberapa nelayan yang melakukan aktifitas ngebabang tersebut diakui Catur selaku pengelola SPBN AKR Bakauheni mempengaruhi permintaan. Sebagian nelayan bahkan dipastikan akan kembali beberapa bulan ke dermaga Muara Piluk saat kondisi perairan pantai Timur membaik dan permintaan solar dipastikan akan kembali stabil.

Kapal nelayan bagan congkel di Muara Piluk

SPBN AKR terang Catur dalam masa normal saat puluhan nelayan melaut jumlah solar yang dikirim mencapai dua tangki dengan kapasitas masing masing 5.000 liter sementara dalam masa ngebabang permintaan tidak terlalu besar rata rata perhari hanya mencapai 500 liter sehingga stok yang disediakan hanya sekitar satu tangki. Harga solar sebesar Rp5.150 perliter tersebut bagi nelayan yang tak melaut saat ini cukup memberatkan ditambah tidak adanya hasil tangkapan sehingga biaya operasional melaut lebih tinggi dibanding pendapatan dari melaut.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.