Nyale dan Legenda Putri Mandalika Lombok

JUMAT, 17 FEBRUARI 2017

LOMBOK — Pesta rakyat, festival bau nyale (menangkap cacing laut) merupakan salah satu even dan festival kebudayaan NTB yang terkenal di kalangan wisatawan nusantara dan mancanegara serta telah mendunia.

Salah satu rangkaian upacara pesta bau nyale saat putri Mandalika hendak menceburkan diri ke laut di pantai seger, Kabupaten  Lombok Tengah

Festival bau nyale sendiri dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yaitu tanggal 20 bulan sepuluh berdasarkan perhitungan kalender Sasak Lombok dan kalender masehi dan itu rutin dilakukan masyarakat Pulau Lombok sampai sekarang.

Keunikah peryaan pesta bau nyale serta kisah dan legenda awal mulanya nyale muncul, yang oleh sebagian masyarakat dipercayai sebagai jelmaan dari putri Mandalika yang  menceburkan diri ke laut.

Menurut legenda yang berkembang di masyarakat, nyale yang biasa ditangkap masyarakat dulunya merupakan putri raja dengan paras sangat cantik jelita dan diperebutkan banyak raja dan pangeran.

Menyadari jadi rebutan raja, pangeran dan bangsawan seluruh plosok Pulau Lombok, putri Mandalika menjadi bingung hendak memilih siapa dari sekian banyak raja, pangeran dan bangsawan yang datang melamarnya.

Sebab kalau memilih salah satu di antara para raja, pangeran dan bangsawan yang datang melamarnya, sudah pasti akan menimbulkan kekecewaan dan kemarahan dari pangeran lain yang mengajukan lamaran untuk dijadikan istri dan permaisurinya.

Tidak ingin terjadi permusuhan dan pertumpahan darah di antara raja, pangeran dan bangsawan termasuk masyarakat, suatu hari di pinggiran pantai selatan Pulau Lombok, sang Putri Mandalika mengumpulkan seluruh rakyat, raja, pangeran dan bangsawan lain yang melamarnya.

Kepada seluruh rakyatnya, sang Putri Mandalika bijaksana menyampaikan rasa kecintaannya kepada seluruh rakyat dan tidak ingin sampai terjadi permusuhan bahkan pertumpahan dara di antara rakyat, putri Mandalika memutuskan menolak semua lamaran raja dan pangeran yang menginginkan dirinya.

Usai berkata, putri Mandalika kemudian naik ke atas batu karang pantai selatan Pulau Lombok dan menceburkan diri ke laut, tindakan Putri Mandalika menceburkan diri ke laut tersebut menimbulkan kesedihan mendalam di hati seluruh rakyatnya.

Sebelum menceburkan diri ke laut, Putri Mandalika sempat berpesan bahwa dirinya adalah milik seluruh rakyat dan akan mendapatkan dirinya dalam bentuk nyale di setiap tanggal 20 bulan sepuluh.

Nyale (cacing laut) hasil tangkapan salah satu warga siap disjikan jadi sayur

Sebagai bentuk penghormatan terhadap pengorbanan sang putri Mandalika, masyarakat Pulau Lombok mengabadikannya dalam bentuk patung monumen yang menggambarkan saat sang Putri Mandalika hendak menceburkan diri ke laut.

Jurnalis : Turmuzi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi

Komentar