banner lebaran

Pagelaran Apresiasi Wayang Kulit Digelar di Kota Malang

138
MINGGU, 19 FEBRUARI 2017

MALANG — Setelah sempat singgah di beberapa daerah, kali ini Kota Malang dipercaya menjadi tuan rumah Pagelaran Apresiasi Wayang Kulit yang rutin digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur setiap tahunnya secara bergantian. Acara yang di gelar, Sabtu (18/2/2017) didalangi oleh Ki Eddy Siswanto dengan lakon Nggayuh Kamulyaning Gesang.
Pagelaran Wayang Kulit dengan Dalang Ki Eddy Siswanto
Wakil Gubernur Jabar, Syafullah Yusuf (Gus Ipul) yang memberikan kata sambutan melalui sambungan telepon seluler menybutkan, kegiatan yang rutin digelar di setiap daerah secara bergantian tersebut tidak hanya merupakan salah satu upaya untuk meng uri-uri (menghidupkan) maupun melestarikan wayang kulit, tetapi lebih dari itu.
“Kita melihat dan memandang ini adalah bagian dari kekuatan yang kita miliki untuk mengakrabkan dan merukunkan masyarakat. Mulai dari pejabat, TNI, Polri, pedagang, nelayan, petani, serta rakyat biasa, siapa saja bisa datang untuk menyaksikan sebuah kesenian warisan leluhur yang sudah diakui dunia sebagai warisan kebudayaan dunia yang patut untuk dihidupkan di tengah masyarakat,” jelas Gus Ipul.
Disebutkan, dengan masih tingginya antusias penonton, tidak hanya orang yang sudah tua tetapi juga yang masih muda, remaja hingga anak-anak menunjukan bahwa wayang kulit tidak akan hilang tidak akan musnah, tetapi proses regenerasi bisa terus berjalan dan banyak sekali dalang-dalang cilik yang ada di Jawa Timur bahkan hampir di setiap kabupaten.
Penyerahan Gulungan tanda dimulainya wayang kulit
Sementara itu Wali Kota Malang, Mochammad Anton (Abah Anton) melalui Asisten III Sekretariat Daerah Kota Malang, Supranoto menyebutkan,  seiring perkembangan zaman dan arus globalisasi yang sangat cepat diperlukan langkah strategis dan sistematis agar kebudayaan kita tidak tergerus oleh kebudayaan asing yang pada akhirnya menciptakan keterasingan generasi bangsa terhadap budaya sendiri.
“Dengan menggalakkan kegiatan kesenian tradisional berarti kita memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap seni budaya bangsa. Sekaligus mampu membentengi kebudayaan bangsa dari terpaan budaya asing,”sebutnya.

Jurnalis : Agus Nurchaliq / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.