PBTY 2017 Diharap Mampu Tumbuhkan Semangat Ke-Indonesia-an

SENIN, 6 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Ribuan masyarakat Yogyakarta berbondong-bondong menyaksikan acara pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2017, di sepanjang Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta Minggu, (5/2/2017), malam. Acara rutin tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-12 ini, secara resmi dibuka oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Alun-Alun Utara Yogyakarta.

Kirab Budaya PBTY di Jalan Malioboro Kota Yogyakarta.

Acara pembukaan PBTY 2017 digelar meriah dengan Kirab Budaya atau Karnaval Barongsai serta kesenian budaya Nusantara lainnya, termasuk pawai busana adat 34 provinsi, dengan melibatkan ratusan peserta dari berbagai komunitas. Kirab Budaya dilangsungkan di sepanjang Jalan Malioboro, Titik Nol Kilometer, hingga Alun-Alun Utara Yogyakarta. Sejumlah kesenian barongsai dari Jogja Dragon Festival mendominasi karnaval ini, mulai dari naga terpanjang, naga batik, naga wanita, naga Led, dan banyak lagi.

Ketua Umum Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2017, Tri Kirana Muslidatun, menyatakan, penyelenggaraan PBTY 2017 mengangkat tema ‘Pelangi Budaya Nusantara’ akan berlangsung selama 7 hari hingga 11 Februari 2017 mendatang. Waktu penyelenggaraan tahun ini jauh lebih lama dari tahun sebelumnya yang hanya 5 hari.

“Setiap tahun, penyelenggaraan PBTY ini menghabiskan dana sekitar satu koma tiga miliar rupiah. Selain karnaval, nanti juga akan digelar berbagai kegiatan yang dipusatkan di kawasan kampung Ketandan. Mulai dari stan kuliner nusantara yang diikuti seratus tiga puluh empat peserta, hingga berbagai kegiatan lainnya, baik pentas atau ajang lomba yang digelar setiap hari. Selain itu, tahun ini kita juga mengangkat rumah budaya Tionghoa asli, lengkap dengan isi perabotannya,” ujarnya.

Ribuan warga antusias menyaksikan kirab naga PBTY 2017. 

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan, selain menjadi even tahunan yang bertujuan menarik wisatawan, penyelenggaraan PBTY ini juga diharapkan dapat menjadi tempat untuk membangun semangat ke-Indonesia-an dengan segala kemajemukannya. Semangat kemajemukan itulah yang diharapkan dapat tumbuh sebagai identitas bangsa Indonesia, di tengah kondisi masyarakat yang seolah semakin terpecah-belah, sebagaimana terjadi saat ini.

“Salah-satu identitas bangsa ini sejak pertama dicetuskan lewat Sumpah Pemuda adalah identitas kemajemukan. Masyarakat dan budaya Tionghoa termasuk salah-satunya. Karena itu, penyelenggaraan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ini diharapkan dapat menjadi media integrasi budaya yang mempererat integrasi sosial,” katanya.
Baca:
Jelang Pekan Budaya Tionghoa, Puluhan Pedagang Mainan Barongsai Bermunculan
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementrian Pariwisata RI, Hari Untoro Drajat, yang turut hadir dalam acara ini menyatakan, Yogyakarta memiliki keberagaman yang sangat kuat. Karena itu, keindahan keberagaman di Yogyakarta harus selalu dijaga bersama-sama. “Salah-satunya adalah dengan menggelar acara semacam PBTY ini. Lewat acara semacam inilah, keindahan keberagaman yang dimiliki Jogja akan tampak, sehingga dapat menyebar ke daerah-daerah lainnya,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana,

Komentar