banner lebaran

Pedagang Buah di Kalianda, Keluhkan Sulitnya Pasokan

194

JUMAT, 10 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Sejumlah pedagang buah di Pasar Inpres Kalianda, dalam 1 bulan terakhir mengaku kesulitan memperoleh pasokan buah impor dan lokal. Menurut salah-satu pedagang buah di pasar tersebut, Joni (34), beberapa buah impor yang sulit diperoleh di antaranya apel, anggur, pir dan lainnya. Sementara, beberapa buah lokal seperti jeruk medan, kelengkeng, durian serta buah-buahan lain pun juga masih sulit diperoleh, dan jika tersedia harganya pun terhitung tinggi.

Pedagang buah impor di Kalianda mengeluh sulitnya pasokan.

Sulitnya pasokan dengan jumlah permintaan yang banyak, lanjut Joni, salah-satunya disebabkan saat ini mulai memasuki musim penghujan, sehingga distribusi dari beberapa wilayah terhambat akibat banjir. Akibat sulitnya pasokan itu, harga buah pun melambung tinggi. Dikatakan Joni, sejak 1 bulan terakhir ia mengaku kesulitan memperoleh apel jenis Fuji, dan harganya pun cukup tinggi, yakni Rp. 45.000 per kilogram, seeparuh lebih tinggi dari harga sebelumnya yang hanya Rp. 20.000. Sementara itu, anggur merah yang sebelumnya Rp. 50.000 per kilogram, naik menjadi Rp. 80.000. Buah pir semula Rp. 25.000 per kilogram menjadi Rp. 35.000.

Tingginya harga buah-buahan impor tersebut, menurut Joni, membuat sejumlah masyarakat beralih ke buah-buahan lokal. Hal ini juga dipicu oleh mulai adanya ketersediaan buah lokal seiring musim. Meski peminat tidak sebanyak buah impor, namun beberapa buah lokal memiliki harga yang relatif lebih murah. “Sejak sebulan lalu, harga buah impor tinggi, sehingga omzet turun. Namun, beruntung, kami juga menjual buah-buahan lokal yang disukai pembeli,” ungkap Joni, saat ditemui Cendana News di Pasar Inpres Kalianda, Jumat (10/2/2017).

Hal serupa diakui Amini (45), pedagang buah di sepanjang Jalan Lintas Sumatera yang menjual beberapa jenis buah lokal.  Ia mengatakan, saat ini beberapa buah lokal yang dijual di lapak miliknya merupakan buah-buah lokal, seperti salak pondoh, jeruk medan, apel malang, Srikaya, Sirsak, pepaya, duku, manggis, semangka serta beberapa buah lain di antaranya pisang muli serta pisang ambon.

Seorang pedagang buah lokal di tepi Jalan Lintas Sumatera.

Amini sendiri lebih banyak menjual buah lokal, karena modal yang terbatas. Menurutnya, bisnis jual-beli buah-buahan impor memerlukan biaya cukup mahal dan nyaris tak sebanding dengan banyaknya permintaan, meski diakuinya pula bagi beberapa pedagang lain, menjual buah impor masih menjadi sumber keuntungan yang menggiurkan.

Pada awal tahun ini, kata Amini, buah lokal yang banyak membanjiri pasar buah lokal di antaranya jenis duku yang berasal dari wilayah Jambi dan Palembang, serta buah durian. Harga buah duku, menurutnya, saat ini Rp. 20.000 per kilogram, sementara jenis lansep mencapai Rp. 15.000 per kilogram. Sebagian buah duku yang berasal dari Jambi rata-rata memiliki ukuran yang lebih besar, sementara duku lokal memiliki ukuran lebih kecil dengan harga yang lebih murah. Harga tersebut diakui Amini memang tergolong tinggi, karena pasokan buah tersebut masih terbatas.

Amini mengatakan, jika nanti pasokan dari wilayah lokal mulai banyak, harga buah duku akan cenderung turun, bahkan bisa anjlok di kisaran Rp. 7.000 hingga Rp. 5.000 per kilogram. Selain itu, buah duku yang cenderung cepat membusuk, tidak bisa disimpan terlalu lama, sehingga pedagang seringkali harus menurunkan harga, agar cepat laku. “Kalau musim langka buah duku, harganya memang mahal. Tapi, buah duku merupakan buah yang sulit bertahan lama, sehingga kita harus memperhitungkan waktu dan saat tertentu harus terpaksa menjual murah, karena daripada rugi kalau busuk sebelum dijual,” ungkap Amini.

Sementara itu, salah-satu pembeli buah, Andin (34), mengatakan, ia kerap membeli buah lokal, terutama buah segar, beberapa hari sekali untuk keluarganya sesuai kebutuhan. Sedangkan untuk buah pisang matang jenis kepok, digunakannya sebagai bahan untuk membuat kue serta cemilan keluarganya. Ia mengaku jarang membeli buah-buahan impor, karena selain harganya mahal, juga karena ia memang lebih menyukai buah-buahan lokal yang masih segar.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.