Pedagang Kaki Lima di Banjarmasin Menolak Digusur

96
JUMAT 3 FEBRUARI 2017
BANJARMASIN—Para pedagang kaki lima, penjual bensin dan tukang tambal ban yang mangkal di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Kota Banjarmasin, menolak digusur. Mereka tak punya keahlian apapun selain berdagang di pinggir jalan protokol.
Wakil Walikota Banjarmasin, Hermansyah cuma menyalami para PKL.
Seorang pedagang, Junaidi, mengatakan berdagang di pinggir jalan protokol sudah menjadi mata pencaharian saban hari. Ia mengaku keberatan diobrak-abrik karena Pemerintah Kota Banjarmasin belum mencarikan solusi setelah penertiban.
“Kami sebenarnya enggak masalah digusur, tapi tolong carikan solusinya. Kami coba berdagang agak ke dalam tapi enggak laku,” ujar Junaidi ketika ditemui di Balai Kota Banjarmasin, Jumat (3/2/2017). Mereka ke ingin mengadukan nasibnya ke Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina. “Lalu kami mau makan apa?” ia berujar.
Pemkot Banjarmasin menertibkan puluhan PKL di sepanjang Jalan Ahmad Yani sejak tanggal 25 Januari lalu. Pemerintah menganggap keberadaan pedagang mengganggu estetika kota dan menyalahi aturan lalu lintas. Tapi, pedagang tetap berjualan walaupun kucing-kucingan dengan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Banjarmasin.
“Kami tetap jualan. Kalau ada Satpol PP ya biarkan saja, kalau mau diangkut silahkan. Kami enggak ada keahlian lain, bisanya cuma jual bensin dan jual pulsa,” kata Agus Setiawan menambahkan.
Menurut Agus, Pemko Banjarmasin seharusnya memberikan pembinaan keahlian dan bantuan modal terhadap pedagang sebelum menggusur. Selain itu, kata Agus, program pelatihan ini tidak serta merta lantas menggusur karena PKL butuh waktu transisi beradaptasi dengan pekerjaan baru.
Sebab, para PKL tidak punya skill khusus yang bisa menopang perekonomian keluarga. “Tolong, tunggu dulu sampai usaha baru ini mekar. Nah kalau sudah mekar, baru cabut usaha yang lama,” ujar Agus mengilustrasikan peralihan ladang penghasilan.
Itu sebabnya, mereka ingin bertemu dengan Walikota Banjarmasin untuk mencari solusi atas nasib PKL. Dua jam lesehan di teras balai kota, Ibnu Sina tak kunjung muncul di kantor. “Bapak sedang ke lapangan meninjau pelabuhan,” kata seorang staf humas Pemko Banjarmasin.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Banjarmasin, Priyo Eko, mengatakan telah menawarkan pelatihan keterampilan kepada PKL yang digusur itu. Ia menyarankan pedagang segera beralih profesi jadi montir atau membuka servis telepon seluler. Tapi, ia belum menyiapkan tempat khusus untuk merelokasi puluhan PKL tersebut.
“Mereka bisa jadi montir. Kami menyarankan ke sana, tapi kalau enggak mau itu pilihan mereka,” kata Priyo. Pihaknya pun belum ada rencana memberikan bantuan modal kerja.
Adapun Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hermansyah melengos ketika tahu ada PKL menunggui pemimpinnya di Balai Kota. Hermansyah yang baru turun dari lantai dua, lantas buru-buru masuk mobil dinas seraya mengatakan, “Saya ada urusan negara.”
Sepuluh menit kemudian, ia kembali lagi ke kantor Balai Kota Banjarmasin. Hermansyah sempat menyalami para PKL itu tapi menolak berdiskusi karena penggusuran kebijakan Ibnu Sina. “Itu bukan urusan saya. Tanya Walikota saja. Mana wali kota? Itu kan mobilnya ada,” ujar Hermansyah sambil berlalu meninggalkan kerumunan PKL.
“Sikap Wakil Wali Kota menyakitkan. Sikap pemimpin seharusnya tidak seperti itu,” ujar Agus merespons perilaku Hermansyah. 
Kadis Koperasi dan UMKM Banjarmasin, Priyo Eko.
Jurnalis: Diananta P Sumedi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Diananta P Sumedi
Baca Juga
Lihat juga...